Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Puteriku Tidak Bisa Masak

25 Oktober 2020   22:20 Diperbarui: 25 Oktober 2020   22:25 89 23 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puteriku Tidak Bisa Masak
Kami, sekeluarga bersama cucu ketika rekreasi. Foto | Dokpri

Dulu, ketika masih kecil, penulis pernah dengar ucapan nenek menasihati ayah bahwa bila memiliki anak perempuan tidak perlu disekolahkan sampai tinggi.

Cukup sekolah dasar (SD) dan selanjutnya dikirim ke pondok pesantren untuk menimba ilmu agama. Setelah selesai pendidikan di pondok, selanjutnya banyak belajar memasak di rumah.


Toh, kalau sudah dewasa, anak gadis itu akan dipinang atau dijadikan isteri. Ia akan hidup melayani sang suami, selanjutnya mendidik anak.

Rupanya nenek berfikir, anak perempuan yang dikirim ke pondok pesantren hanya belajar ilmu agama "tok". Ngaji dan belajar sholat.

Realitasnya, kini, jika dilihat anak yang dikirim ke pondok kualitas pemahamannya terhadap ilmu sosial dan lainnya tak kalah dengan anak-anak yang belajar di sekolah negeri.

Itulah pemahaman nenek yang masih "kolot".

Jika pandangan nenek dipakai sekarang, sudah pasti ia bakal tercengang. Sebab, banyak anak perempuan punya pendidikan bagus dan menduduki posisi tinggi. Perempuan berpendidikan baik mampu mengalahkan kaum "adam" yang malas belajar.

Ketika di Thailand
Ketika di Thailand


**

Penulis punya dua anak:. Anak pertama perempuan dan kedua lelaki. Keduanya memiliki nama cukup panjang. Anak pertama Indah Kirana Sukmawati Gunawan Syafei. Kedua, Andri Ganesa Daksa Utama Gunawan Syafei.

Tentu ada alasan mengapa mereka dinamai demikian panjang. Pembahasannya bisa panjang pula. Tetapi yang jelas, nama yang diberikan kepada anak merupakan doa orangtua. Dan, ada alasan lain bagi penulis, yaitu agar gelar "darah biru" tak ikut dicantumkan oleh kakeknya, sekaligus memutus mata rantai pemberian gelar "feodal".

Sungguh, kedua anak ini sangat dekat dengan bapaknya ketimbang ibunya. Tegasnya, lebih 'lengket' dengan penulis baik kala masih kecil hingga dewasa dan masuk perguruan tinggi (universitas).

Ada perbedaan mendasar sangat mencolok dari sisi perwatakan. Anak lelaki cenderung "mandiri" dalam menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan anak perempuan lebih manja dan rajin belajar. Kendati begitu, penulis memperlakukan sama baiknya.

Makan bersama di Malaysia
Makan bersama di Malaysia


Kendala muncul ketika keduanya memasuki usia remaja. Anak perempuan kami, Indah lebih getol belajar sehingga prestasi tergolong istimewa di sekolah.  Sementara sang adik lebih menyukai menyalurkan hobi. Kewajiban belajar ditempuh cara santai.

Puteri kami sangat berambisi di sekolah untuk tampil sebagai murid terbaik dari sisi prestasi. Ketika usai lulus sekolah lanjutan pertama ia ngotot untuk masuk sekolah favorit. Tanda-tanda itu mulai terlihat kala ia masih sekolah di Jakarta dan selanjutnya ketika kami pindah ke Pontianak.

Puteri kami ini akhirnya mampu menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran.

Berbeda dengan sang adik. Ia lebih santai dalam belajar sehingga prestasinya di sekolah selalu menempati 10 besar dari bawah di kelasnya. Tapi, sungguh luar biasa, ketika pindah kembali ke Jakarta mampu menyelesaikan kuliahnya di jurusan ilmu komunikasi.
 

**

Garis tangan anak tak ada yang tahu, begitu kata orang bijak. Orangtua hanya mampu mendorong agar anaknya memiliki ilmu yang cukup sebagai bekal di hari tuanya. Bukan warisan harta.

Karenanya, anak gadis kami tak paham tentang seluk beluk urusan dapur. Tak bisa memasak. Itu disebabkan  sejak kecil, kami selaku orangtua, tak memberi pemahaman dan praktek kerja di dapur. Pasalnya,  membiarkan bebas anak gadis menseriusi urusan belajar.

Ketika jalan-jalan bersama anak dan cucu
Ketika jalan-jalan bersama anak dan cucu


Ini adalah resiko. Tapi, sungguh, setelah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga kini ia sudah memberanikan diri turun ke dapur. Melayani anaknya ketika minta dibuatkan susu, misalnya.

"Jadi, sekarang bisa masak. Kalau masak air, tentu tidak bakal hangus," kataku sambil bergurau.

Namun berbeda dengan sang adik. Ilmu yang didapat dari universitasnya nyaris tak terpakai. Sepertinya orangtua telah gagal.

Putera kami ini punya hobi memasak. Ia adalah penguasa dapur kala berada di rumah. Nah, lantaran hobi ini pulalah kemudian ia diberi tambahan ilmu memasak. Kuliah memasak dan menjadi juru masak.

Panggilan kerennya chef atau koki. Belakangan ia lebih bangga dipanggil Chef Andri.

Nah, tentu saja lapangan pekerjaan untuk juru masak tak selalu menggembiarakan. Terlebih saat pandemi Covid-19 ini. Membuka kafe dengan modal dari orangtua hasilnya tak menggembirakan. Beruntung, Chef Andri dapat diterima bekerja di salah satu perusahaan pelayaran.

Setelah menjalani pendidikan memasak dan berlanjut ke pendidikan perkapalan, ia beruntung selain dapat mengemudikan kapal juga masih dapat menyalurkan hobinya memasak.

Lantas, bagaimana dengan anak gadis kami yang kini sudah menjadi seorang ibu dan baru belajar memasak?

Ya, sesekali bertanya kepada sang adik tentang resep masakan nusantara. Karena sang adik sayang kepada kakaknya, sang adik memberi kuliah jarak jauh. Gantian, kalau sang adik sakit kepala ia mina dibuatkan resep obatnya.

Salam berbagi

VIDEO PILIHAN