Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Artikel Utama

Indahnya Buka Puasa di Mekkah dan Madinah

20 Mei 2019   04:47 Diperbarui: 20 Mei 2019   13:55 0 25 8 Mohon Tunggu...
Indahnya Buka Puasa di Mekkah dan Madinah
Buka puasa di Masjid Nabawi Madinah. Foto | Dokpri

Sungguh indah dipandang mata. Di sini, kota Mekkah saat Ramadan, manusia menumpahkan kesalehan sosialnya guna menjaga hubungan baik antarsesama dan saat bersamaan meningkatkan keimanan yang terwujud dalam ibadah puasa, shalat terawih dan amalan lainnya.

Sementara itu di Madinah, pada momen bulan Ramadan ini, juga tak kalah istimewanya. Para petugas Masji Nabawi, Madinah, menyambut para tamunya di pelataran masjid dan membawanya ke tempat duduk yang sudah tersedia makanan buka puasa.

Hehehe terasa seperti tamu agung masuk masjid disambut tamu ganteng berbadan item tegap mengenakan baju gamis putih. Selidik-punya selidik, ternyata ia adalah Ahemd berasal dari Magribi yang sudah menjadi warga negara Saudi dan bekerja pada otoritas Masjid Nabawi.

**

Ahmed tengah melayani jemaah masjid Nabawi. Foto | Dokpri
Ahmed tengah melayani jemaah masjid Nabawi. Foto | Dokpri
Tradisi buka puasa di dua kota suci Mekkah dan Madinah sangat khas. Dikatakan demikian lantaran ada kegiatan menyolok dari para warga setempat yang menyambut tamu Allah. Yaitu, warga setempat menyediakan dan menyumbangkan makanan. Khususnya warga Mekkah.

Di sepanjang jalan, emperan hotel dan toko, apakah dia sudah menjadi warga Arab Saudi atau mukimin dari berbagai negara Muslim, warga Mekkah membagikan makanan bagi tamu Allah yang tengah menunaikan buka puasa sudah mentradsi. Para tamu Allah itu datang ke Mekkah lantarana terdorong dan meyakini ikut ibadah umrah saat Ramadan akan mendapat pahala setara ibadah haji.

Warga Mekkah antusias ikut meramaikan suasana buka puasa. Mereka seolah sudah terbiasa dari tahun ke tahun ikut hadir di kota suci itu. Mereka ada di antaranya ikut membaur bersama anggota jemaah umrah. Tapi ada yang sibuk menyediakan air zamzam, kurma dan makanan khas Timur Tengah seperti nasi mandi.

Tapi, kebanyakan tidak dilengkapi daging kambing, loh! Sebagai penggantinya, ya dilengkapi daging ayam. Tetap lezat.

Siap berbuka puasa di pelataran masjid. Foto | Dokpri
Siap berbuka puasa di pelataran masjid. Foto | Dokpri
Di trotoar hotel, termasuk  kelas mewah seperti Hotel Zamzam, dibagikan makanan secara gratis. Demikian halnya di dalam masjid, jemaah yang menanti azan magrib disiapkan makanan di atas sejadah untuk berbuka puasa. Wuih, makanan melimpah. Pantas saja, orang puasa di Tanah Suci tidak takut kekurangan makanan. Dan, kalau saja hal ini terjadi di Jakarta, lalu lintas yang selalu diwarnai kemacetan bakal tidak terjadi.

Mengapa?  Ya, karena semua orang kaya dan berkemampuan menyumbang makanan untuk warga berbuka puasa di masjid-masjid. Masjid-masjid pun penuh dengan acara buka puasa. Bukan acara buka puasa pejabat yang diramaikan.

Tapi, itu kan cuma hayalan penulis yang kini tengah menyaksikan demikian sibuknya para pengelola hotel, toko dan warga lokal berlomba-lomba menyediakan makanan untuk para tamu Allah.

Yang menarik adalah orang kaya bersedekah di sini. Penulis tak tahu namanya. Tapi, soal sedekah, pengusaha dan sekaligus pemilik bank setempat, selalu menyediakan makanan berlimpah.

Masjidil Haram 10 hari terakhir Ramadan makin padat. Foto | Dokpri
Masjidil Haram 10 hari terakhir Ramadan makin padat. Foto | Dokpri
Ia termasuk pemilik kebun kurma terbesar di Saudi Arabia dan hasil kurmanya setiap tahun disumbangkan kepada jemaah umrah dan haji. Gratis.

Dan istimewanya pula, setiap orang yang buka puasa di salah satu masjid yang dibangunnya, usai ikut shalat berjamaah dan terawih, per orang diberi amplop 50 real. Kadang satu amplop bisa berisi 100 real. Dan bagi warga yang memang benar-benar miskin dapat santunan langsung.

Tidak perlu antre dalam barisan panjang seperti di Tanah Air. Cupuk amplop disampaikan ketika orang bersangkutan keluar dari pintu masjid. Tertib.

Kalau begini, penulis jadi teringat, ada warga antre amplop dari pengusaha malahan tewas terinjak-injak. Padahal amplop yang diberikan kisarannya Rp15 ribu. Hehehe tapi makan korban jiwa hingga tewas. Belum lagi korban luka dan harus masuk rumah sakit.

Kalau di negeri kita, bagusnya orang kaya untuk menyumbang warga miskin tak perlu meniru orang kaya di Arab. Di sini, negerinya makmur. Lagi pula apa yang disombongkan.

Berdoa usai tawaf wada. Foto | Dokpri
Berdoa usai tawaf wada. Foto | Dokpri
**

Ini betul-betul terasa istimewa. Penulis seolah dimanjakan oleh para pengurus Masjid Nabawi. Setelah shalat tahyatul masjid di masjid Rasulullah SAW ini, penulis berzikir. Sementara warga negara lain membaca Alquran. Setelah itu, kami saling berkenalan.

Duduk di sebelah warga dari Alzajair, di sebalah sana orang Pakistan dan lainnya entah dari negara mana. Itu tidak penting, yang penting menghadapi buka puasa dengan didahului doa. Terpenting lagi, bagaimana penulis bisa mengatasi cara makan rada aneh yang disuguhkan. Model roti panjang, dicolek yagurt dan diselingi kurma. Belum lagi makanan khas sejenis teh hangat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2