Sosbud Pilihan

Kisah Hadirnya Sebuah Lokalisasi Prostitusi

11 Januari 2019   16:23 Diperbarui: 11 Januari 2019   16:29 296 8 2
Kisah Hadirnya Sebuah Lokalisasi Prostitusi
Ilustrasi, prostitusi juga bisa hadir di kawasan penambangan liar. Foto | Kompas.com

Kalimantan Barat (Kalbar) sejak dulu dikenal dengan pertambangan emas di atas permukaan tanah. Kandungan emasnya, hehehe tak terkirakan. Sayang, saya tak pegang data. Tapi, kata pakar pertambangan, melihat dari tekstur tanahnya saja orang mudah mengenali tanah bersangkutan mengandung emas atau tambang lainnya.

Kala bertugas di provinsi ini, penulis sering melakukan perjalanan jurnalistik ke berbagai pelosok. Meski rada ngeri dan sedap lantaran kawasan itu masih dilanda konflik antaretnis, (1995 -- 2001) kerja harus dilakukan untuk memenuhi tuntutan kantor demi sesuap nasi, menjaga dapur tetap ngebul dengan alasan mulia menjaga integritas profesi. Heheh keren kedengarannya, ya?

Kunjungan paling menarik adalah mendatangi wilayah pertambangan liar seperti di Kabupaten Sintang, Bengkayang, Ketapang dan sejumlah tempat di Kabupaten Pontianak. 

Kata orang banyak, bila di situ ada gula maka semut berdatangan. Kala orang mendapatkan uang dengan mudah di suatu tempat maka dapat dipastikan mata orang melirik dan kemudian mendatangi untuk bekerja dengan tujuan mengeduk keuntungan.

Perhatian penulis bukan saja pada pekerja tambang liar yang bekerja penuh heroik menyemprotkan air ke permukaan tanah. Lalu permukaan tanah menjadi lubang besar menyerupai  situ, kemudian disusul dengan kerusakan lingkungannya.  Tetapi, di sini yang menarik, hadirnya bedeng-bedeng liar dengan wanita cantik berjalan berlenggak-lenggok.

Nah, kalau sudah begini, tentu muncul di benak kita beberapa pertanyaan. Kok, di tengah hutan penambangan liar bisa hadir wanita cantik membuka kedai? Kok, bedeng bisa berdiri demikian cepat. Adakah yang mensponsori para penambang di situ?  Bagaimana bisa masuk ke dalam hutan peralatan penyemprot tanah dan pengolah penyaring pasir?

Jawaban yang mudah didapat adalah jelas ada pihak sponsor. Tapi yang jelas bagi kita, orang kecil tak mungkin punya nyali menjadi sponsornya. Kalau ada, ia pasrah tanahnya digarap dengan imbalan secuil uang. Maklum, sponsornya pun punya kekuatan di belakang layar. Gitulah senyatanya.

Maka, tak heran kala dilakukan operasi besar-besaran terhadap penambang liar tersebut, terungkap ada oknum aparat ikut terlibat.  Tentu saja pihak kepolisian untuk menyelesaikan harus berkoordinasi dengan para petinggi di Jakarta. Hasilnya, senyap. Kasusnya lalu masuk peti bersama sejumlah kilogram emas. Jika saja kasus tersebut terjadi di zaman now, tentu akan ramai. Di era orde baru, kasus ginian seperti angin lalu saja.

Kembali kepada soal wanita cantik tadi. Kebanyakan mereka tak paham bahasa lokal dan lebih banyak menggunakan bahasa dari Pulau Jawa. Mereka ini pandai memasak, berjualan dan menjual minuman keras. Pendek kata, para wanita ternyata merangkap kemahiran berdagang dan melayani para penambang siang dan malam.

Awalnya, penulis mengira mereka itu adalah bagian dari anggota keluarga penambang liar. Suami-isteri. Ternyata, mereka mencari uang dengan cara tidak sebagaimana mestinya. Menjadi wanita penghibur dan melayani kebutuhan syahwat para penambang setempat.

Lahirnya kawasan prostitusi di daerah pedalaman Kalbar umumnya diawali hadirnya pertambangan liar. Sekalipun pendapat itu masih dapat didebat, tetapi kala prostitusi ditutup kemudian para wanita penjaja seks itu berkeliaran ke kota-kota.

Ditutupnya kawasan prostetusi Brunai, pinggiran kota Pontianak, tak membuat praktek tersebut lantas hilang. Malah muncul di rumah hiburan dan sulit dikendalikan populasinya.

Sebut saja yang terdekat di kawasan Mandor, satu wilayah pemakaman pahlawan korban pembantaian Jepang, kini rusak parah. Jika saja dibiarkan pemda setempat, tak mustahil tanah disana bisa berubah menjadi danau. Kala pertambangan di situ berlangsung, keramaian perjudian di kaki lima seolah dibiarkan berlangsung.

Ketika dilakukan penertiban di kawasan prostitusi yang sering didapati dan ditangkap pelakunya adalah para wanita dari bedeng liar. Mereka digiring petugas naik truk seperti kerbau dibawa ke kantor polisi. Tak nampak para pelaku hidung belang digiring bersama.

Padahal, sejatinya, prostitusi hadir di kawasan tersebut karena memang ada pembelinya. Mudah ditebak, pelakunya juga para penambang liar yang juga penggemar minuman keras di situ. Sementara pihak sponsor yang menghadirkan para wanita cantik ke kawasan penambangan tak pernah disinggung, apa lagi dimintai pertanggungjawaban.

Nah, kini praktek prostitusi cara menjalankannya mulai berubah. Sistem online. Terutama di tingkat atas seperti pada kasus penangkapan seorang artis di sebuah hotel Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (5/1/2019). Sejauh ini pelaku penyewa si artis tak pernah diungkap pihak berwajib. Sama seperti kasus di kawasan pertambangan liar tadi.

Sayogianya, pelaku prostitusi: penjual dan pembeli diangkat ke permukaan dalam penyelesaian kasusnya. Jika hal itu didiamkan, bisa jadi sama halnya dengan pengeksploitasian identitas dan penghakiman terhadap perempuan, mulai dari jajaran penegak hukum, media, hingga respons masyarakat seperti diungkap Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Adriana Venny.

Prostitusi hadir di negeri ini bukan melulu disebabkan ekonomi, syahwat lelaki tak terkendali, tetapi lebih pada nafsu dan syaitan yang bertahta pada diri manusia itu sendiri. Kala syaitan dan nafsu berkolaborasi, sementara di sisi lain iman kuat tidak disertai "emen" yang baik, maka bisa jebol juga pertahanan akhlak.