Humaniora Pilihan

Kekuatan Setan Melemahkan Agama sebagai Perekat Bangsa?

16 April 2018   20:32 Diperbarui: 16 April 2018   20:48 892 24 13
Kekuatan Setan Melemahkan Agama sebagai Perekat Bangsa?
Pesan Gus Mus. Foto | NU Online

Ajaran Islam yang rahmatan lil alamin - pembawa kedamaian - dikhawatirkan cuma sekedar slogan. Pasalnya, karena ada kekuatan setan sehingga implementasinya bagai macan ompong. Peningkatan kualitas beragama dan kerukunan makin mundur. Jauh dari harapan, terutama ketika suhu politik tengah "naik daun".

Peristiwa agama dijadikan alat politik bukan pada peristiwa Pilkada DKI Jakarta saja, tahun lalu. Ketika Megawati Soekarnoputri - hendak naik menjadi Presiden RI, isu agama dijadikan alat politik dengan mengangkat haram hukumnya negeri mayoritas Islam dipemimpin kaum wanita.

Ingat, isu larangan menyolatkan jenazah karena berbeda pilihan. Sungguh menyakitkan.

Ini tak bisa dipandang enteng lagi. Banyak kasus kecil yang bertalian dengan agama menjadi persoalan besar karena dibesar-besarkan. Lagi-lagi karena 'setan' merayu hawa nafsu insan. Agama telah dimanfaatkan sebagai instrumen kepentingan elite politik. Kasus kecil, remeh-temeh dalam perbedaan ritual agama kemudian diperbesar karena ada oknum punya kepentingan politik di dalamnya.

Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama - karena dia beretnis Tionghoa - tak dapat diterima menjadi gubernur lantaran kafir. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab atau lebih dikenal Habib Rizieq paling getol menyuarakan jangan pilih kafir untuk memimpin Jakarta.

Penetapan Ahok sebagai tersangka penistaan agama - karena mengutip Surah Al Maidah ayat 51 - sayogianya jauh hari dapat dihindari oleh para ulama. Misalnya, dengan cara memanggil Ahok untuk dimintai penjelasannya. Bukan bicara kepada publik sambil memanasi.

Dalam suatu kesempatan lain, pernah terdengar pernyataan dari warga di kawasan Indonesia Timur, minta jabatan di daerahnya - mulai eselon IV hingga I - harus dipegang putera daerah setempat dengan pemeluk agama harus dianut oleh mayoritas daerah setempat pula.

Jika demikian, kemana Merah Putih ditempatkan?

Sepertinya kita kini kehilangan arah atau mengalami disorientasi dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Coba saksikan, para elite politik ketika mengumbar celotehnya. Kaleng rombeng disebut, setan dibawasertakan dalam ceramahnya.

Ucapan tidak mendidik dan tidak sehat itu jelas saja mendorong makin lemahnya hubungan sosial. Ke depan,  dikhawatirkan agama tidak lagi dapat menjadi perekat bangsa, tetapi dijadikan alat oleh para oknum untuk pemecah bangsa.

Kita pun mengakui bahwa dalam beragama ada unsur perbedaan dasar dari agama itu sendiri dan antarumat. Namun sayogianya perbedaan yang ada dalam agama itu harus dihindari, tidak dimanfaatkan untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Para elite politik yang mengaku sebagai pengusung partai Allah, patut kiranya bercermin pada sejarah Nabi Muhammad SAW. Nabi ketika berjuang menyebarkan Islam penuh kasih sayang. Ketika dilempari batu dan kotoran, tidak meminta pertolongan kepada Allah untuk memusnahkan orang-orang yang menganiaya-Nya sekalipun ada permintaan dari gunung batu untuk menghancurkan.

Di negeri ini, persoalan intoleransi, radikalisme dan kasus bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan atau SARA belum juga reda. Pemahaman dan penghayatan terhadap agama bagi warganya tidak bisa dipukul rata. Di sisi lain, gotong royong dan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila terasa makin menipis. Apakah para elite politik masih menutup mata?

Kita pun jadi bertanya-tanya, kemana peran Forum Kerukunan Antarumat Beragama (FKUB)? Padahal, kita tahu, lembaga itu didirikan atas kesepakatan antartokoh agama itu sendiri.

Di berbagai daerah lembaga itu sudah terlihat perannya dalam membantu umat menciptakan kerukunan. Sayangnya, pada tahun politik ini terlihat 'melempem'.

Karenanya, pada tahun politik ini, para ulama, pemuka agama, cendikiawan dan tokoh masyarakat sangat dinantikan perannya menyadarkan elite politik yang bermain di lingkaran "hitam" dan masih merasa berat menjauhkan "setan".