Mohon tunggu...
edy mulyadi
edy mulyadi Mohon Tunggu... Jurnalis, Media Trainer,Konsultan/Praktisi PR

masih jadi jurnalis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Seri Jokowi Gagal-5: Drama Garut, Jokowi Bakal Kian Mengerut

22 Januari 2019   13:58 Diperbarui: 22 Januari 2019   14:05 0 7 5 Mohon Tunggu...
Seri Jokowi Gagal-5: Drama Garut, Jokowi Bakal Kian Mengerut
Republika.co.id

Presiden Joko Widodo telah gagal total dalam mengurus Indonesia. Dia tidak mampu mengambil langkah-langkah subtantif yang solutif atas berbagai persoalan yang membelit. Empat tahun berkuasa dia hanya menjadi penonton dari sengkarut kebijakan yang dilahirkan para menterinya. Kemampuan leadership-nya majal.  Kapasitas dan kapabilitasnya jauh ora nyandak.

Alih-alih menjalankan fungsi sebagai pemimpin yang memberikan arahan kepada para pembantunya, Jokowi justru sibuk dengan hal-hal remeh yang kosong-melompong. Publik, dengan geram, menyebut akrobatnya sebagai pencitraan. Parahnya lagi, Jokowi masih saja mengandalkan aji pencitraan karena dianggap sukses menyihir rakyat Indonesia pada Pilpres 2014.

Lebih parah lagi, pencitraan menjelang Pilpres 2019 dilakukan di lokasi-lokasi bencana. Maka, rakyat dijejali adegan foto sendiri di lokasi bencana Lombok, Palu, Pandeglang. Ada adegan termenung dan berjalan sendiri di pantai yang diterjang tsunami.

Saya tidak tahu bagaimana penilaian para ahli jiwa tentang Jokowi. Mustahil kalau dia tidak tahu, bahwa foto-fotonya di lokasi bencana menuai pro-kontra. Bukan mustahil juga jika dia tahu, bahwa lebih banyak rakyat yang sebal dengan foto-foto itu. Kendati begitu, syahwatnya berfoto ria untuk pencitraan di lokasi bencana terus saja diproduksi dan disebarkan.

Beberapa waktu lalu, atmosfir dunia maya disesaki foto-foto Jokowi menjadi imam shalat di banyak tempat dan kesempatan berbeda. Buat muslim yang paham adab dan kaifiat shalat berjamaah, dengan gampang segera tahu bahwa adegan shalat itu sarat dengan kekeliruan. Misalnya, posisi imam tidak di mihrab yang telah disediakan. Dia memilih mundur satu shaf, yang segera diterjemahkan oleh para netizen supaya bisa memperoleh sudut pengambilan gambar yang pas agar bisa booming.

Masih soal shalat berjamaah, pada foto yang lain tampak posisi makmum yang tidak rapat dan lurus. Bahkan ada foto yang beredar, Jokowi telah takbiratul ihram dengan sempurna, tapi jamaah masih clingak-clinguk, merapikan pakaian, dan lain-lain. Pendek kata, makin banyak foto dia menjadi imam shalat disebarkan, makin menunjukkan ketidakpahaman Jokowi atas tata tertib dan adab shalat berjamaah.

Sawah dan cukur

Namun, sepertinya bukan Jokowi kalau tidak ngeyel. Dia terus saja memproduksi dan menyebarkan foto pencitraan. Yang terbaru adalah kunjungannya ke Garut, Jawa Barat. Rasanya, belum pernah ada dalam sejarah, petani yang siap tandur (menanam padi) di sawah dikalungi id card. Mereka diminta berdiri rapi (berbaris) dengan arahan suttadara (?). Sementara di galengan, berderet penonton pengambilan adegan 'drama' pencitraan. Pada beberapa foto yang beredar, juga tampak para petugas pengambil gambar, mulai dari yanfg menggunakan hand phone, kamera foto, hingga khusus untuk pembuatan video.

Di adegan film apa pun, komersial maupun dokumenter, belum pernah ada petani standby di sawah dengan id card menggantung di lehernya. Hanya terjadi di Garut, dan itu pun cuma untuk kepentingan pencitraan Jokowi!

Masih drama di Garut, rakyat juga disuguhi acara cukur massal Presiden dan rombongan VIP-nya di bawah pohon rindang. Entah pesan apa yang ingin disampaikan. Mungkin, Jokowi ingin mengatakan kepada rakyatnya, bahwa dia adalah sosok yang sederhana, yang tidak segan-segan memangkas rambut di tempat terbuka oleh para tukang rambut asal Garut.

Sayangnya, sebagai 'aktivis' sosial media Jokowi sepertinya lupa, bahwa jejak digital sangat kejam. Herman, 'tukang cukur asal Garut' yang diklaim langganannya itu, ternyata bukan anggota Persaudaraan Pemangkas Rambut Garut (PPRG). Herman adalah pemilik barbershop bagi kalangan atas dengan tarif aduhai. Kepada awak media, dia mengaku memang Jokowi adalah pelanggannya, dengan tarif sekali cukur bisa untuk membeli sawah. Foto-foto yang beredar di grup-grup WhatsApp dan sosmed menunjukkan Herman sedang in action di tempat yang diduga barbershop miliknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x