Mohon tunggu...
edy mulyadi
edy mulyadi Mohon Tunggu... Jurnalis, Media Trainer,Konsultan/Praktisi PR

masih jadi jurnalis

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Defisit Impor yang Dikritik Capres Nomor 01

17 Januari 2019   14:14 Diperbarui: 17 Januari 2019   18:22 0 0 0 Mohon Tunggu...

Jokowi: Sekarang Impor Lebih Besar dari Ekspor, Kita Defisit Terus. Judul berita di satu media online itu menjadi bahan meme yang beredar di grup-grup WhatsApps dan sosial media lain. Yang menarik, meme itu diberi tulisan "Capres Jokowi Sedang Mengeritik Presiden."

Tentu saja, meme ini adalah sindiran (halus). Pasalnya, defisit impor yang kini menganga lebar, adalah buah dari kebijakan perdagangan di era dia berkuasa. Tidak tanggung-tanggung, niainya mencapai US$8,75 miliar.

Dengan kurs tengah Bank Indonesia (BI) yang hari ini Rp14.158/US$, defisit sepanjang tahun tersebut setara Rp123,89 triliun. Angka ini sekaligus memecah rekor sebagai defisit perdagangan terbesar yang pernah dialami Indonesia sejak 75 tahun silam. Bukan main!

Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis total impor Indonesia 2018 tercatat US$188,6 miliar atau naik 20,15%. Kenaikan impor terjadi pada barang konsumsi 22,02%, dan barang modal 19,54%. Sebaliknya, impor bahan baku pada Desember turun 13,49% dibanding November. Berdasarkan asal negara utama, impor ini terbesar dari China US$45,24 miliar. Berikutnya Jepang US$17,94 miliar dan Thailand US$10,85 miliar.

Jokowi dan para pembantu ekonominya, seperti biasa, ngeles. Mereka menyodorkan seabrek pembenaran tentang neraca perdagangan yang njomplang luar biasa. Menko Perekonomian Darmin Nasution, misalnya, malah minta agar defisit perdagangan itu tidak usah dibesar-besarkan.

Sejatinya, saat ini orang yang paling bertanggungjawab di bidang perdagangan, tentu saja, adalah Menteri Perdagangan Engartiasto Lukita. Kader Partai Nasdem ini punya peran amat penting pada merah-birunya rapor perdagangan, khususnya ekspor-impor.

Sayangnya, rekam jejak mantan Ketua Real Estate Indonesia (REI) sebagai Mendag justru bertabur dengan angka merah. Sejak didapuk menjadi Mendag pada 27 Juli 2016, Enggar dikenal sebagai menteri yang paling getol melakukan impor, khususnya produk pangan. Beras, gula, jagung, daging, kedelai, gula, bahkan garam pun tak luput dari komiditas yang dia datangkan dari negeri lain.

Banyak kalangan merasa miris bahkan marah dengan polah Enggar. Pasalnya, impor berbagai produk pertanaian/pangan itu justru dilakukan saat panen raya. Panen yang seharusnya adalah saat-saat yang membahagiakan petani, justru berbalik menjadi hari-hari penuh duka dan nestapa. Banjir impor produk serupa, telah memukul harga hasil pertanian mereka.

Laba superdahsyat

Tidak sulit untuk memahami fenomena impor komoditas pangan yang kian sering terjadi belakangan ini. Impor produk pangan adalah jalan pintas paling mudah untuk mengeruk laba sangat besar. Sebut saja garam, misalnya. Banyak orang tidak menyadari, bahwa dari komoditas 'sepele' ini, keuntungan dalam jumlah triliunan rupiah bisa dengan gampang diraup.

Menurut Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia Tony Tanduk, harga garam impor berkisar US$25-US$40/ton, tergantung volume impornya. Kian besar volume impor, kian murah harganya. Kalau diambil rata-rata harganya US$30/ton saja, dengan kurs Rp14.158/US$, nilainya setara dengan Rp424.740/ton. Untuk memudahkan, kita bulatkan saja menjadi Rp425.000/ton, atau Rp425/kg.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3