Mohon tunggu...
Edy Priyono
Edy Priyono Mohon Tunggu...

Pekerja peneliti, juga sebagai konsultan individual untuk berbagai lembaga. Senang menulis, suka membaca. Semua tulisan di blog ini mencerminkan pendapat pribadi, tidak mewakili institusi apa pun.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Pelajaran Hidup dari Johan Cruyff Sang Intelektual Sepakbola (1)

3 April 2016   10:57 Diperbarui: 4 April 2016   09:41 409 2 1 Mohon Tunggu...

[caption caption="Cruyff dan Timnas Catalonia 2013 (sumber: Wikipedia/ Xavier Rondón Medina)"][/caption]Nama Johan Cruyff (1947-2016) pertama kali saya dengar kira-kira akhir 1970-an atau awal 1980-an, ketika teman sekolah saya bercerita bahwa menurut kakaknya, pemain terbaik di dunia adalah Johan Cruyff. Saya sedikit terheran, karena saat itu sedang moncer nama Mario Kempes yang baru saja membawa Argentina Juara Dunia 1978. Jaman itu belum ada Youtube, sehingga kita tak bisa memutar ulang berbagai rekaman pertandingannya. Juga tak ada siaran langsung liga-liga kelas dunia seperti sekarang ini, sehingga pengetahuan kita tentang bintang-bintang sepakbola sangat terbatas.

TVRI hanya sering memutar ulang siaran pertandingan Liga Jerman. Saya cukup sering menonton Karl Heinz Rummenigge (Bayern Muenchen), juga Kevin Keegan (Hamburg SV), tetapi tetap tak pernah menonton Cruyff. Dalam situasi seperti itu, jelas bahwa saya tak lantas mengaguminya. Bagaimana mau kagum, wong kenal saja tidak..

Kiprah Cruyff lebih banyak saya ikuti melalui majalah olahraga (sepakbola) yang rutin saya beli. Saya kemudian tahu, bahwa dia hanya sempat main di satu Piala Dunia untuk Belanda, yaitu 1974 di Jerman (kalah di final lawan Jerman Barat). Pantas saja saya tak mengenalnya, pikir saya, karena saya baru "melek Piala Dunia" mulai 1978 di Argentina (dengan Kempes sebagai jagoannya).

Status saya sebagai penggemar FC Barcelona 'garis keras' (sejak awal 1990an) membuat saya terus mengikuti berita dan/atau analisis tentang bintang-bintangnya, dan itu artinya --tentu saja-- termasuk Johan Cruyff. Selain pernah bermain di sana, Cruyff juga pernah menjadi pelatih. Kedua posisi ini dijalaninya dengan (sangat) sukses.

Hal itu membuat saya tahu, atau setidaknya merasa tahu, banyak tentang Cruyff. Keberadaan Youtube semakin memudahkan saya untuk mengikuti kiprahnya. Bukan hanya rekaman pertandingan atau gol-golnya, tetapi juga pemikirannya melalui berbagai diskusi atau wawancara.

Dari situ saya menyimpulkan bahwa Johan Cruyff merupakan bintang yang jauh lebih lengkap dibandingkan, katakanlah, Pele, Maradona, George Best, Zico, dsb. Nama-nama itu hebat, tetapi hanya dalam hal bermain sepakbola. Cruyff tidak hanya pemain terbaik pada masanya, tapi, lebih dari itu, dia juga seorang pemikir. Ide-idenya jauh lebih hebat ketimbang kiprahnya di lapangan, karena berpengaruh besar pada permainan itu, dan juga pada aspek lain di luar sepakbola. Yang sedikit mendekati dia barangkali cuma Michel Platini dan Franz Beckenbauer.

Oleh karena itu, saya menjulukinya "intelektual sepakbola".

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari berbagai pemikiran Cruyff. Dan, sekali lagi, itu tidak hanya berlaku di dunia sepakbola. Berikut ini rinciannya..

1. Jenius adalah orang yang mampu membuat hal rumit terlihat sederhana

Salah satu prinsip sepakbola Cruyffian (aliran Cruyff) adalah bermain sederhana/simpel. Itu artinya, cukup satu-dua sentuhan, lalu oper, ambil posisi, terima operan, oper lagi, dst. Pada tataran ekstrem, bahkan tak ada yang namanya tembakan (shooting), karena alih-alih disebut sebagai tembakan, gol ke gawang lawan dianggap sebagai "operan terakhir".

Tapi jangan dikira mudah melakukannya. Cruyff sendiri menyatakan, diperlukan seorang pemain dengan kelas "master" untuk memainkan sepakbola satu sentuhan (one touch football) itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN