EDY ROLAN
EDY ROLAN karyawan swasta

Penulis Lepas, Fotografer Amatir, Petualang Alam Bebas, Enjiner Mesin, Praktisi Asuransi. Web: https://edrolnapitupulu.com/

Selanjutnya

Tutup

Sejarah Pilihan

Dua Dekade Berlalu, Reformasi Masih Payah Dilamun Ombak, Tak Tercapai Tanah Bertepi

22 Mei 2018   15:05 Diperbarui: 22 Mei 2018   17:23 610 3 0
Dua Dekade Berlalu, Reformasi Masih Payah Dilamun Ombak, Tak Tercapai Tanah Bertepi
Gerakan Mahasiswa Sumut, Aksi Reformasi (facebook: Edi Sembiring Meliala)

Dua dekade sudah berlalu, peringatan kejatuhan tahta "Sang Diktator" atas kehendaknya sendiri dengan desakan dari forum gerakan mahasiswa. Namun kroni-kroninya dan pengagum diam-diam yang merambatkan virus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) masih terang-terangan hingga saat ini masih bercokol menggerogoti sistem demokrasi dan supremasi hukum.

Dua dekade sudah terlampaui, kenangan rekaman kekacauan dan tragedi berdarah, penjarahan, pembakaran, pembunuhan, dan pemerkosaan sudah membusuk dan masih menganga lebar lantaran orang-orang yang bertanggung jawab atas hal ini belum ditangkap dan dijatuhi hukuman.

Dua dekade lalu, masa dimana banyak pemuda dari kalangan mahasiswa hilang bukan di hutan tapi di perkotaan entah itu di kamar kost atau di dan jalan area kampus. 

Demo Reformasi Kampus USU tahun 1998 (facebook: Edi Sembiring Meliala)
Demo Reformasi Kampus USU tahun 1998 (facebook: Edi Sembiring Meliala)
Peristiwa tragedi kekacauan Mei 1998 begitu membekas dalam benak saya seperti kemarin, saya terpaku terdiam ketika berjubel-jubel orang banyak entah dari mana menjarah toko-toko dan rumah kaum Tionghoa atau yang disinyalir milik Tionghoa.

Saya menyaksikan barang elektronik toko seperti kulkas, televisi, kipas angin dilangsir masuk ke dalam gerobak-gerobak kayu, bajaj, mobil pick-up hingga ludes.  Saya membeku sedih dan duduk terdiam di pinggir jalan. Seakan-akan orang sekeliling demikian bebasnya menjarah harta benda dan berjalan gagah memenuhi jalan dan gang setiap ibukota, menumpuk barang elektronik, bahan sembako,dan lain sebagainya.

Banyak saya dengar tersiar kabar penjarahan melanda hampir di seantero Jakarta, tak hanya di tempat kami bahkan ada yang beringas membakar pintu masuk dan keluar pusat perbelanjaan yang dijarah. Banyak wajah-wajah yang tak ku kenal berlalu-lalang melancarkan aksi penjarahannya di lingkungan kami.

Sekelebat saya lihat ada yang membawa senjata tajam dalam gerobak juga disematkan dipinggangnya.  Tak jarang ada juga sesama penjarah bertengkar karena perebutan jarahan mulai dari adu mulut hingga anggar senjata dan kawanan.

Suasana Penjarahan Mei 1998 (sumber:www.dw.com)
Suasana Penjarahan Mei 1998 (sumber:www.dw.com)
Sungguh, saat itu adalah momen manusia Indonesia tak ubahnya seperti binatang, saling merampas dan saling menindas. Tak peduli lagi masih punya pegangan agama atau merasa ber-Tuhan. Tragis dan ironis.

Jelas ini adalah sebuah kejahatan masif dan massal. Namun apakah pembuat onar dan pembuat kejahatan tersebut sudah dikenali oleh hukum negara untuk ditangkap dan diadili? Sepertinya dalangnya boleh dikatakan belum terungkap sepenuhnya.

Sungguh, dua dekade sudah lamanya yang katanya Reformasi di tahun 1998 itu, kini  masih payah dilamun ombak dantak jua menemui tanah bertepi. Begitu masifnya kejahatan terhadap manusia namun rekomendasi dan tuntutan keadilan atas kejahatan kemanusiaan tersebut sepertinya berhenti sama sekali.

Begitu bahagia rakyat mengagungkan era jatuhnya Orde Baru, merayakan mulainya Era Reformasi seketika itu namun sepertinya semangat itu suam-suam kuku adanya, supremasi hukum masih terbelenggu dan korupsi tak kunjung reda dalam lingkaran kekuasaan dan partai politik dalam ekosistem demokrasi kini.

Aksi Mahasiswa USU menuntut Soeharto mundur tahun 1998 (facebook Edi Sembiring Meliala)
Aksi Mahasiswa USU menuntut Soeharto mundur tahun 1998 (facebook Edi Sembiring Meliala)
Entah sampai kapan kapal reformasi akan menemui tanah bertepi, apakah harus berputar-putar hingga 40 tahun seperti kaum Yahudi yang dipimpin oleh Nabi Musa baru sampai ke tanah perjanjian. Tidak ada yang pernah tahu masa depan. 

Apakah ini hanya sebuah harapan belaka? Yang saya tahu kini, Reformasi 1998 hanya sebuah nama kenangan bukan lagi tujuan berbangsa dan bernegara seperti amanat awalnya. 

Boleh saja kita menggaungkan diri menjadi bangsa yang besar yang tidak pernah melupakan sejarah bangsa sendiri. Namun sesungguhnya pada realitanya kita telah melupakan sejarah bangsa sendiri. Kita telah menolak untuk mengingat sejarah sejatinya bila tujuan reformasi hingga kini belum juga tercapai sepenuhnya dan tidak di-undangkan dalam lembaran kerja negara. 

Jakarta, 22 Mei 2018