Mohon tunggu...
Edward Theodorus
Edward Theodorus Mohon Tunggu... Dosen psikologi di Universitas Sanata Dharma

Warga Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Stopmap Diamond, Koper Butut, & Monyet di Bumi Manusia: Sebuah Ulasan Film

22 Agustus 2019   10:25 Diperbarui: 22 Agustus 2019   10:40 329 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Stopmap Diamond, Koper Butut, & Monyet di Bumi Manusia: Sebuah Ulasan Film
Gambar diambil dari https://wartakota.tribunnews.com

Sekelompok orang disebut monyet, berkembang menjadi kerusuhan, lalu dipadamkan secara tidak tuntas, bukanlah perkasa asing di bumi manusia Indonesia akhir-akhir ini. Menempelkan label-label hewani pada manusia lain merupakan tindakan merendahkan kemanusiaan orang lain. Dengan merendahkan orang lain, seakan-akan ada perasaan aman dalam diri seseorang, bahwa kelompok (suku, agama, ras, golongan) "kami"  lebih unggul daripada kelompok (suku, agama, ras, golongan) "mereka". Film Bumi Manusia (2019) lumayan bernas dalam menggambarkan proses dan dampak dari tindakan penindasan yang terstruktur, sistematis, dan masif itu.

Dalam film adaptasi dari novel berjudul sama tulisan Pramoedya Ananta Toer itu, orang-orang Belanda, keturunan Tionghoa, dan Indo (blasteran) digambarkan sebagai penindas. Mereka me-"monyet"-kan orang pribumi. 

Orang pribumi, dalam konteks film itu, adalah orang Jawa. Film itu berhasil memancing perasaan dan refleksi saya, kok terasa seperti familiar dengan situasi terkini di Indonesia. Hanya saja, pihak penindasnya bukan lagi kumpeni, melainkan sesama bangsa sendiri.

Banyak pujian saya berikan pada para pembuat film tersebut. Saya menganggap mereka sudah cukup adil sejak dalam pikiran saat menggagas dan merealisasikan kisah Bumi Manusia dalam format layar perak. 

Pertama, kutipan-kutipan kunci ditampilkan. Kedua, karakter Nyai Ontosoroh digambarkan dengan baik. Ketiga, gagasan-gagasan tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, perubahan sosial, dan hubungan antar-SARA tergambarkan dengan baik.

Kutipan-kutipan kunci yang legendaris dari novel Bumi Manusia ditampilkan apa adanya. Kata-kata "adil sejak dalam pikiran", "kita sudah melawan dengan sebaik-baiknya, dengan sehormat-hormatnya", "semua orang, entah asing, campuran, maupun pribumi sama-sama bisa jadi penindas" (maafkan jika tidak sama persis dengan kutipan di novel) cukup mengendap dalam batin saya.

 Film ini tidak menghilangkan kutipan-kutipan tersebut, dan menurut saya baik adanya seperti itu. Saya merinding melihat endapan batin saya tertuang dalam film.

Selanjutnya, saya menyukai penggambaran tokoh Nyai Ontosoroh di film ini. Akting Ine Febriyanti sangat bagus menurut saya. Bolehlah disetarakan dengan penampilan Christine Hakim dalam film Kartini (2017). 

Keduanya sama-sama mencuri perhatian dari tokoh utama. Terkait tokoh utama dan tokoh pendukung kedua film itu, sedikit kritik saya adalah mengapa akting tokoh pendukung yang dibikin solid, sedangkan akting tokoh-tokoh utama dibuat standar-standar saja. 

Saya merasa agak terganggu dengan para pembuat film yang terkesan "mengejar setoran" popularitas dengan menampilkan aktor-aktor populer yang kurang jos kemampuan seni perannya sebagai tokoh utama. Namun, ketergangguan saya tersebut tidak cukup menghambat saya dari menikmati suguhan film ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x