Mohon tunggu...
Eddy Mesakh
Eddy Mesakh Mohon Tunggu... WNI cinta damai

Eddy Mesakh. Warga negara Republik Indonesia. Itu sa! Dapat ditemui di http://www.eddymesakh.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Perbincangan dengan Wali Kelas Anakku

16 Mei 2015   12:17 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:55 113 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perbincangan dengan Wali Kelas Anakku
1431752568408549413



[caption id="attachment_366069" align="aligncenter" width="630" caption="Ini tulisan tangan putra saya. Mudah-mudahan Anda bisa membacanya. :D Tugasnya adalah membuat pertanyaan-pertanyaan penting berkaitan dengan Tugu Monas. "][/caption]

KEMARIN, Jumat 15 Mei 2015, saya dipanggil wali kelas anak saya.  Putra saya kini duduk di kelas IV Sekolah Dasar (SD) swasta di Kota Batam, Kepulauan Riau. Pemanggilan ini terkait nilai rapornya yang cukup memprihatinkan untuk ukuran sekolah tersebut, sehingga dia terancam tidak naik ke kelas V.

Berikut nilai rapor anak saya; Matematika (71), IPA (71), IPS (71), Bahasa Inggris (68), dan Bahasa Mandarin (50). Sementara syarat untuk naik kelas, nilai minimum  yang harus dicapai untuk lima mata pelajaran tersebut masing-masing 71, 71, 71, 75, dan 65. Artinya nilai yang dicapai anak saya untuk Matematika, IPA, dan IPS persis di batas minimum. Sedangkan dua mata pelajaran lainnya berada di bawah syarat minimum.

Sebagai orangtua, saya agak kecewa dengan nilai-nilai yang dicapai anak saya sendiri. Ketika para orangtua lain berharap anak-anak mereka bisa menjadi juara kelas, kami malah sedang berjuang agar minimal anak kami ini bisa naik kelas. Karena jika tinggal kelas, tentu saja biaya yang sudah kami keluarkan untuk satu tahun ajaran menjadi sia-sia. Dia sangat berbeda dengan kakaknya, perempuan, yang selalu memperoleh nilai di atas rata-rata kelas.

Wali kelas bertanya; bagaimana sebaiknya? Apa yang harus kita lakukan agar anak ini bisa memperoleh nilai yang lebih baik.  Dia juga bertanya, apa yang sudah orangtua upayakan untuk meningkatkan kemampuan anak kami?

Saya katakan, berbagai upaya sudah kami lakukan. Kami sudah ikutkan bimbingan belajar tiga kali seminggu, 1,5 jam tiap pertemuan. Belajarnya pun kami awasi dan tak jarang saya sendiri memberikan soal-soal untuk dikerjakannya di rumah. Anak ini sama sekali tak kurang perhatian dari kami. Setiap pagi saya dan ibunya selalu menyediakan sarapan untuknya. Kami berdua bergantian memasak untuk sarapan mereka maupun menyediakan bekal untuk dibawa ke sekolah. Pun kami berdua selalu bergantian setiap hari mengantar-jemput mereka ke/dan dari sekolah. Intinya anak-anak ini sama sekali tidak kurang perhatian orangtua.

Ibu guru kembali bertanya; "Lalu apa yang bisa kita lakukan agar nilai-nilai rapornya bisa meningkat?"

Saya katakan kepada Bu Guru; "Sebenarnya, untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, kemampuan anak ini tak buruk-buruk. Kalau sekadar perkalian dari 1 - 10, dia bisa menjawabnya secara lancar dan itu bisa dicoba sekarang (kebetulan anak saya hadir dalam perbincangan kami). Percakapan Bahasa Inggrisnya pun tak buruk. Mungkin cuma sampai di situ batas kemampuannya."

"Tapi kelemahan anak ini adalah dia malas menulis, sementara untuk menjawab soal ujian kan harus ditulis. Apalagi tulisan anak saya ini jeleknya minta ampun! Butuh keahlian khusus dan kesabaran ekstra untuk bisa membacanya."

Bu Guru mengiyakan pernyataan terakhir saya. Dia membenarkan bahwa anak saya memang kurang suka menulis dan tulisannya jelek. Sementara para guru harus memeriksa hasil kerja banyak murid. Sehingga apabila tulisan murid ada yang sulit dibaca maka jawabannya bisa langsung disalahkan. "Berarti jalan keluarnya ya dia harus lebih banyak berlatih menulis," ujar Bu Guru.

Lalu gurunya bertanya; "Apakah anak kami biasa tidur siang?"

Saya  tertawa ketika mendengar pertanyaan tersebut. Saya katakan kepada gurunya; "Bu, bagaimana mungkin anak-anak ini bisa tidur siang?  Tuntutan pendidikan sekarang rasanya terlalu berat. Sekolahnya saja sampai pukul dua sore. Sampai di rumah paling cepat pukul tiga sore. Belum lagi mereka harus les dan mengikuti berbagai kegiatan luar sekolah. Ini sangat berbeda dengan saya ketika masih SD, dulu. Hanya sampai jam 12 siang dan paling telat jam dua sore sudah di rumah. Masih ada waktu untuk tidur siang. Lagipula, di masa itu saya tidak mengikuti les macam-macam. Sedangkan sekarang, anak kelas satu SD pun sekolahnya sampai jam dua sore. Habislah waktu mereka untuk sekolah saja."

Gurunya pun tertawa dan menjawab singkat; "Iya juga ya.. hahahaha."

Ini sekadar cerita. Mohon bantuan doa agar anak saya ini bisa meraih nilai lebih baik dan kelak, ketika ujian kenaikan kelas, dia bisa lolos dari lubang jarum. :D Ata ada yang punya metode bagaimana agar tulisan anak saya bisa lebih keren dikit. :D (*)

VIDEO PILIHAN