I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Dosen

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Inilah Jurus Jitu Menjadi Pembicara yang Hebat

20 April 2019   11:59 Diperbarui: 20 April 2019   15:31 136 6 0

Mengapa berbicara itu penting? Ketika pertanyaan ini diajukan, lalu apa jawab kita? Salah satunya, mungkin kita akan mengatakan bahwa berbicara adalah kodrat sebagai manusia sehingga harus digunakan.

Kemampuan berbicara juga merupakan keunggulan spesifik spesies manusia dan dengan kemampuan itu manusia bisa saling bertukar ide atau gagasan dan informasi satu dengan lainnya. Bersyukurlah orang-orang yang memiliki kemampuan berbicara dan menggunakan kemampuan ini dengan baik.

Belajar Berbicara Sejak Balita

Lalu, apakah kemampuan berbicara itu sebuah kemampuan bawaan? Mungkin ya, lantaran hanya manusia yang diberikan kemampuan spesifik itu, yang membedakannya dengan makhluk lain di muka bumi. Akan tetapi, manusia tak serta merta menjadi pandai berbicara jika dia tidak belajar. Ingatlah ketika kita masih balita, betapa orang tua kita melatih kita mengucapkan kata-kata sederhana, seperti maem, ayah, ibu, bobok, pipis, dan sebagainya.

Bersamaan dengan bertambahnya usia, kita pun mulai berlatih dan dilatih meningkatkan kemampuan berbahasa, lisan dan tulisan. Kita mulai bisa mengorganisasikan ide-ide dalam pikiran untuk kita ekspresikan menjadi sebuah kalimat yang utuh. Kita terus berusaha agar apa yang kita maksudkan dapat mengerti oleh lawan bicara. Untuk sebagian yang lebih serius, lalu belajar berpidato (public speaking). Pelatihan berpidato mengantar kita menjadi pembicara yang baik, terutama ketika harus berpidato di depan publik.

Beberapa Kebiasaan Buruk Saat Berpidato

Dalam praktik berbicara, termasuk berpidato, acapkali ada hal-hal yang menghambat kita tidak bisa berbicara secara efektif. Terdapat kebiasaan-kebiasaan buruk yang selalu kita ulang-ulang, terkadang bahkan tanpa disadari. Sejatinya, kebiasaan buruk itu bisa dihilangkan jika kita benar-benar ingin menjadi pembicara yang lebih baik.

Misalnya, mengulang kata-kata tertentu yang tidak perlu. Seorang sahabat, ketika berpidato atau memimpin rapat, seringkali mengulang-ulang kalimat "apa namanya." Padahal, ia tidak bermaksud bertanya kepada pendengarnya. Ketika berbicara selama sepuluh menit, paling tidak dua puluh kali kata "apa namanya" diulang. Ini tentu cukup mengganggu pendengar. Jika kalimat "apa namanya" itu ditiadakan, pidatonya pasti akan lebih bersih dan jernih.

Contoh berikut adalah penggunaan kata "daripada." Seorang sahabat sering menggukan kata "daripada" di dalam pembicaraan, padahal kata itu tidak cocok dan tidak perlu diletakkan dalam kalimat yang disampaikannya. Misalnya, ia mengatakan, "Apa yang dikatakan daripada Bapak tadi, sangat bermanfaat bagi kami. Akibat perkembangan daripada pariwisata di daerah ini..."

Saya sendiri, ketika dulu mulai belajar berbicara di depan umum, mengalami banyak sekali kesalahan. Beruntung atasan saya yang berbaik hati memberi koreksi. Misalnya, saya sering mengawali berbicara dengan ucapan "eee," vokal yang tak jelas maksudnya.

Sebenarnya, ketika "eee" terucap, saya sedang berpikir tentang apa yang saya akan katakan selanjutnya. Kata atasan saya, sebaiknya sembari berpikir, jangan berkata apapun, termasuk "eee" itu. Benar juga ya.

Saran Larry King Atasi Kebiasaan Buruk

Larry King memberi saran kepada kita, terutama yang sedang belajar berpidato secara efektif, tentang membuang kebiasaan buruk itu. Pertama, dengarkan saat Anda sendiri berbicara. Kita diminta oleh Larry King untuk memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulut kita. "Anda akan mengetahui bagaimana Anda mulai, berhenti, dan mundur: serta berapa banyak kata 'eee' yang menghambat pembicaraan Anda."

Kedua, pikirkan sebelumnya apa yang akan Anda katakan. Tentu saja kita harus memikirkan apa yang akan kita ucapkan sebelum mengucapkannya. Hal ini menjadi penting agar kita terhindar dari kebiasaan mengucapkan kata-kata tanpa makna atau maksud yang tak jelas, walaupun sebenarnya itu untuk menutupi kevakuman sembari kita berpikir hendak mengatakan apa selanjutnya.

"Anda dapat merencanakan kalimat kedua di dalam pikiran, selagi Anda mengucapkan kalimat pertama, dan begitu seterusnya," papar Larry King. Sulit? Pasti. Tetapi, Larry King membesarkan hati kita dengan mengatakan bahwa itu mudah. "Otak mempunyai kapasitas besar yang memungkinkan kita melakukan dua hal sekaligus. Dengan sedikit latihan, Anda akan menjadi terbiasa," tulisnya menguatkan.

Ketiga, temukan seseorang yang bisa bertindak sebagai pemantau pidato Anda. Mungkin ia adalah salah seorang saudara Anda, pasangan, teman dekat, siapa saja yang Anda percayai bisa membantu. "Mintalah mereka menghentikan Anda (mereka dapat mengatakan "stop" atau "hop!") setiap kali Anda menggunakan kata atau frasa yang tidak berguna dan mengganggu itu," ujar ahli pidato Larry King dalam buku Seni Berbicara, cetakan ke-21 (Maret 2019), terbitan Gramedia Pustaka Utama ini.

Anda tertarik mendalami seni berbicara dengan membaca buku ini lebih jauh? Silakan temukan buku bagus ber-cover ungu dan berketebalan 265 halaman  ini di toko-toko buku terdekat. Banyak ilmu yang bisa dipetik dari buku bagus ini. Mahasiswa, guru, dosen, dan para profesional lainnya, seyogianya melengkapi kemampuan berbicara dengan membaca buku ini.  

( I Ketut Suweca, 20 April 2019)