Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Menengok Sisi Lain di Balik Setiap Keberhasilan

6 April 2019   15:22 Diperbarui: 6 April 2019   16:03 0 7 3 Mohon Tunggu...

Tahun 2015 saya menyelesaikan studi doktor di Universitas Udayana, Denpasar. Pengalaman menjalani studi ini membuat saya paham betapa banyak waktu, tenaga, pikiran, dan uang yang harus diinvestasikan. 

Saya membutuhkan waktu 5 tahun untuk menuntaskan studi ini hingga berhasil diwisuda sebagai doktor ilmu ekonomi. Sama sekali berbeda dengan kuliah S2 yang saya tempuh dengan 1 tahun 6 bulan di kampus yang sama.

Pada umumnya  orang menyelesaikan studi S3-nya dengan waktu 3 tahun, tetapi saya lima tahun. Mengapa lama? Bukan lantaran berkeinginan meneladani kuliah zaman doeloe yang cenderung berlama-lama, melainkan karena saya kuliah sambil bekerja, dan beberapa kali harus  'off' karena tugas dinas. Beruntung promotor dan copromotor selalu mengingatkan dan mendorong saya untuk kembali fokus pada studi.

Menguras Pikiran dan Isi Kantong

Di samping memakan waktu yang lama, tenaga dan pikiran pun benar-benar terkuras. Saya harus wara-wiri menempuh jurusan Singaraja-Denpasar pulang-pergi selama studi berlangsung dengan  melintasi medan yang cukup berat. 

Mungkin para pembaca ada yang mengenal medan jalan Denpasar-Singaraja melalui Bedugul tentu memahami beratnya medan. Walaupun jalannya relatif mulus, tapi tikungan-tikungan berbahaya dan terjal tersebar di sejumlah titik. Dibutuhkan kondisi prima untuk melakoni ini setiap hendak pergi dan pulang kuliah.

Belum lagi bicara tentang terkurasnya pikiran. Mata kuliah sudah bisa diselesaikan dengan baik. Konsultasi dan bimbingan sudah dilakukan. Tapi, di tengah proses ini ada kendala yang cukup menghambat. Salah satunya, belum berhasil menggunakan teknik analisis kuantitatif secara benar. Beberapa kali konsultasi, masih saja tetap salah. Belum ada jalan keluar. 

Di sinilah penulis sempat mandek, bahkan nyaris putus asa. Beruntung, dosen pembimbing selalu mengingatkan bahwa salah satu resep keberhasilan itu salah satunya adalah rajin hadir ke kampus, berdiskusi dengan dengan promotor dan copromotor, dengan dosen lain, dan dengan teman-teman sesama mahasiswa. 

Akhirnya, berkat mengikuti petuah pembimbing, kendala itu bisa terselesaikan sampai ujian terbuka bisa saya ikuti dengan lancar dan selamat. Terima kasih, Tuhan.

Dukungan Banyak Pihak

Dalam perjalanan studi saya itu, banyak sekali para pihak yang sudah memberi dukungan. Pertama-tama tentu adalah keluarga: anak dan istri. Merekalah yang menjadi pendukung utama penyelesaian kuliah saya. 

Selama studi, banyak waktu tersita untuk berbagai tugas perkuliahan. Selama studi, banyak uang terkuras untuk biaya kuliah semester, ongkos wara-wiri, pengumpulan data dan penelitian yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Bali, pembelian buku bacaan dan rujukan, biaya pemenuhan berbagai macam tugas kampus seperti membuat jurnal, makalah, usulan penelitian, pelatihan bahasa Inggris, dan masih banyak lagi lainnya. Pembaca pasti tahulah.  

Isi kantong banyak terkuras untuk semua itu sehingga kami sekeluarga harus berhemat sehemat-hematnya. Mengencangkan ikat pinggang! Dua anak yang juga kuliah di rantau (Univeritas Indonesia) seharusnya berbekal cukup, terpaksa harus hidup nge-press

Beruntung mereka lumayan pintar mencari tambahan dengan menjadi asisten dosen, asisten di laboratorium, memberi pelajaran les untuk siswa SMA, misalnya di samping dibantu beasiswa. Begitulah, kami mesti berpikir dua kali setiap kali hendak mengeluarkan uang.

Yang tak kalah penting  perannya, bahkan jadi salah satu penentu keberhasilan, adalah promotor dan dua orang copromotor yang selalu menyediakan waktu dan dengan tulus hati pula memberikan bimbingan. 

Mereka bertiga bahu-membahu memberikan pendampingan, tak hanya di kampus juga di rumah beliau, hingga si mahasiswa yang lebih banyak berbekal tekad bulat dan semangat ini bisa menyelesaikan studinya.

Selanjutnya, tidak kurang dukungan dari keluarga besar, terutama kakak dan adik,  yang sering menjadi tempat menggantungkan harapan terakhir setelah bank (he he he) ketika membutuhkan dana yang mendesak, sementara uang yang tersedia sudah menipis.

Di luar itu, banyak sekali sahabat lain yang, langsung dan tidak langsung, membantu penyelesaian studi saya.  Di antaranya para sahabat di kantor yang selalu memberikan dorongan dan dukungan teknis manakala diperlukan. Maka, tiada kata lain selain beryukur kepada Tuhan atas semua jalan itu: jalan yang telah menggerakkan banyak sekali pihak untuk mendukung penyelesaian kuliah saya.

Jejaring, Teamwork, dan Sinergitas

Di sini terbukti bahwa keberhasilan--atau apapun namanya, sejatinya bukanlah keberhasilan diri sendiri. Keberhasilan itu dicapai berkat keterlibatan banyak pihak. Sama sekali bukan semata-mata karena usaha sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2