Mohon tunggu...
Nadiyah Munisah Hamelia
Nadiyah Munisah Hamelia Mohon Tunggu... Collegian

Seorang mahasiswi yang masih belajar untuk menulis. Silah koreksi dan mulai berdiskusi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pesantren sebagai Instrumen Negosiasi dan Diplomasi Jalur Pendidikan

1 November 2019   14:01 Diperbarui: 1 November 2019   14:05 168 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pesantren sebagai Instrumen Negosiasi dan Diplomasi Jalur Pendidikan
AFRO Asia-Afrika di PM Gontor | Sumber @hmphiunidaputri1

Berbicara mengenai pesantren, berbicara mengenai sejarah perjuangan merdekanya Indonesia yang tidak terlepas dari peran santri dan kiyai. Jatuh bangunnya perjuangan melawan penjajah tak terlepas dari kontribusi besar instrumen sistem ini.

Pesantren merupakan salah satu native culture Indonesia yang perlu dijaga kelestarian sistemnya. Bahkan, ditelisik lebih jauh, pesantren memiliki model pengajaran yang lebih tua daripada sekolah-sekolah yang datang berbarengan dengan masuknya Belanda ke Indonesia.  Sebagai salah satu kearifan lokal, pesantren ternyata memiliki daya pikat tersendiri bagi masyarakat luar.

Di sini perlu ditekankan, mengapa kemudian penulis menjadikan pesantren sebagai budaya asli Indonesia. Karena pada mulanya, pesantren memang lahir di Indonesia.  Mengutip dari sebuah pidato yang disampaikan oleh Kiyai Hasan Abdullah Sahal dalam acara Pekan Perkenalan Khutbatu-l-Arsy 2017, ia mengungkapkan bahwa Indonesia patut berbangga dengan adanya pesantren sebagai native culture atau budaya asli di Indonesia yang menarik perhatian banyak pihak dan kalangan dalam melakukan interaksi hingga kerjasama keagamaan maupun pendidikan dengan pesantren-pesantren yang ada Indonesia.

Sebut saja Pondok Moderen Darussalam Gontor. Dengan sistem Kulliyatul Mualimat al-Islamiyyahnya PM Gontor mampu muncul dan menjadi wajah pendidikan bagi Indonesia. Pesantren yang telah berdiri sejak 1926 ini tidak banyak merubah sistem pengajarannya yang memang sudah moderen dan mampu bersinggungan dengan perubahan zaman. Kemurnian dan keaslian sistemnya inilah yang kemudian mampu menarik perhatian dunia dalam melakukan kerjasama pendidikan dengan pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya PM Gontor sendiri. Pondok Moderen Gontor yang menjadi sasaran banyak kerjasama mampu membuktikan bahawa pesantren adalah salah satu kekayaan yang dimiliki oleh budaya Indonesia dengan tidak melakukan dualisme pendidikan, dan tetap mampu eksis hingga globalisasi menyapu habis sistem pendidikan kuno dunia.

Dibuktikan dengan banyaknya kerjasama yang terbangun antara Indonesia dengan Mesir melalui perantara Pondok Modern Gontor. Seperti yang terjadi pada tahun 2016 ketika Grand Syekh Al-Azhar Mesir ke-48, Muhammad Ath-Thayyeb, datang untuk memberikan beasiswa langsung kepada 100 pelajar di Indonesia. Yang mana 50 lainnya diberikan khusus untuk santri-santriwati PM Gontor. Secara tidak langsung Indonesia mendapatkan keuntungan 50 kuota beasiswa pelajar umum yang berimbas dari adanya kerjasama pendidikan antara Al-Azhar Mesir dengan PM Gontor. Hal ini juga menjadikan hubungan Mesir dan Indonesia semakin erat.

Penulis mengutip dari perkataan mahasiswi KUIS pada 19 April yang sedang berkunjung ke UNIDA Gontor Putri, ia berpendapat bahwa di Malaysia tidak dapat ditemukan lembaga pendidikan seperti di Indonesia, yaitu lingkup pesantren dengan lingkungan yang sangat eksklusif untuk dijadikan temapat menuntut ilmu. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengikuti program KUIS dan sangat tertarik dengan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.

VIDEO PILIHAN