Mohon tunggu...
Elisabeth Dinda Winduasrini
Elisabeth Dinda Winduasrini Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Nama saya Elisabeth Dinda, saya mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas swasta di Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Pendampingan BUMDes dan Pokdarwis untuk Mampu Menjadi Daya Dukung Terwujudnya Industri Kreatif di Desa Plunturan

5 Desember 2020   19:50 Diperbarui: 5 Desember 2020   20:17 30 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendampingan BUMDes dan Pokdarwis untuk Mampu Menjadi Daya Dukung Terwujudnya Industri Kreatif di Desa Plunturan
Workshop yang dilakukan di Desa Plunturan ( 30/11/2020 ) Dokpri

 Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) adalah dua hal yang berbeda satu dengan lainnya. Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) adalah bentuk usaha yang dilakukan oleh masyarakat yang dikelola secara profesional yang berasal dari dan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. 

Sedangkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  sebuah usaha sadar dari kelompok masyarakat secara kolektif tentang bagaimana melihat peluang, mengelola dan memelihara potensi objek wisata di desanya sehingga menjadi daya dukung terwujudnya Industri kreatif.

Masyarakat Indonesia mungkin sudah sangat familiar dengan kata kreatif yang sangat erat berhubungan dengan kreasi atau kreatifitas dan ujungnya adalah bagaimana memunculkan industri kreatif di wilayah tersebut. 

Industri kreatif saat ini dipandang semakin penting dalam mendukung perkembangan perekonomian Indonesia, berbagai pihak berpendapat bahwa "kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama" dan bahwa “industri abad kedua puluh satu akan tergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi”. 

Pada saat ini, Indonesia banyak memiliki Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dikelola oleh Bumdes maupun Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang bergerak disektor usaha kreatif.

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang dan jasa, misalnya  produk makanan olahan yang diambil dari Sumber Daya  Alam (SDA) yang ada di wilayah tersebut, selanjutnya produk jasa pemasaran yang bersumber dari peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusianya (SDM) dan lain sebagainya.

Universitas 17 Agustus 1945  Surabaya (UNTAG Surabaya) atau yang lebih dikenal dengan Kampus Merah Putih telah melakukan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi-nya terutama pada dharma yang ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat. Untuk melakukan pendampingan ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang diketuai Suprapto dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  diketuai Napi Setiawan, agar mampu menjadi daya dukung industri kreatif di desa Plunturan  Drs.Widiyatmo Ekoputro, M.A (FISIP-Ilmu Komunikasi) dan Dr. Mulyanto Nugroho,MM.,CMA.,CPA (Ekonomi & Bisnis), kedua dosen yang  berbeda ilmu tersebut berkolaborasi dalam  tim pengabdian tersebut. 

Kegiatan ini tidak terlepas dari telah lolosnya seleksi skema pengabdian kepada masyarakat program Hibah Perguruan Tinggi  Pendanaan Tahun 2020 di Desa Plunturan, Kec.Pulung, Kab.Ponorogo,   

Desa Plunturan, kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo sebagai lokasi pengabdian yang dipimpin oleh Dwi Bintoro,ST sebagai kepala desanya, menginginkan adanya usaha-usaha bersama dalam segala hal terutama upaya menggerakan semua potensi secara optimal agar perekonomian desanya dapat meningkat yang berharap hasilnya akan berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya. 

Metode pelaksanaan pengabdian ini adalah metode belajar dan bekerja (learning by doing) serta menggunakan metode partisipatif aktif dari para pelaku kegiatan sehingga dapat langsung meng-implementasikannya kepada masyarakat. 

Pada saat melakukan kegiatan workshop bersama pelaku usaha dan pengurus kegiatan tersebut pemateri memberi kesempatan tanya jawab,  ajang tersebut nampaknya menjadi klik dan gayeng  mengingat pelaku usaha dan pengurus Bumdes maupun Pokdarwis masih mencari strategi efektif dan solutif yang sesuai dengan kebutuhaan masyarakatnya, bahkan peserta workshop melalui Napi Setiawan (Ketua Pokdarwis) menghendaki UNTAG Surabaya tetap bisa terus mendampingi untuk mewujudkan tahapan usahanya, ujarnya. ( elisabeth )

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x