Mohon tunggu...
Syarifah Aini
Syarifah Aini Mohon Tunggu... Seorang ibu disleksik yang suka menulis.

Ibu biasa yang suka bereksperimen dengan kata-kata. Memanfaatkan berbagai platform dan media sebagai laboratorium aksara.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Jangan Takut Memperkenalkan Diksi Baru

27 Oktober 2020   22:07 Diperbarui: 27 Oktober 2020   22:09 42 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Takut Memperkenalkan Diksi Baru
Sumber gambar: yooreka.id

Sekali waktu, saya pernah mengikuti webinar yang dibuat sebuah penerbit mayor. Pembicara seminar kali ini menghadirkan Dee Lestari dan Ivan Lanin, dua sosok yang tak asing lagi di dunia penulisan dan bahasa. Saya setuju dengan pernyataan Ivan Lanin bahwa penulis adalah garda terdepan untuk pelestarian bahasa. Bahasa bisa berkembang seiring zaman.

Kalau mengandalkan penutur, mereka akan pergi satu per satu, makanya penulislah yang harus menggunakan diksi-diksi baru.

Menurut saya, pembaca tak akan keberatan kalau selain dapat hiburan, ia pun dapat pengetahuan baru.

Orang yang membaca karya Andrea Hirata, Dee, Tere Liye, mereka bukan cuma terhibur, tetapi juga menjadi pintar setelah membaca karya itu, itulah sebenarnya 'permainan' diksi.

Bahasa terus dimutakhirkan, tugas para penulis adalah memberantas buta huruf abad 21 seperti yang disebutkan Alvin Toffler. Ketika semua orang sudah bisa membaca, tapi tak bisa memahami makna karena menanggalkan pelajaran sebelumnya, enggan belajar, dan tidak mau mengulang kaji.

Kalau penulis tidak memakai diksi-diksi baru dalam tulisannya, bagaimana bahasa Indonesia bisa berkembang? Bagaimana bahasa Indonesia bisa populis?Maka, banyak sekali orang saat ini lebih kenal bahasa orang lain daripada bahasanya sendiri. Orang lebih karib dengan kata passion daripada renjana, bahkan penulis yang katanya pegiat literasi pun lebih tahu plot hole daripada rumpang alur.

Bagaimana penulis terlampau khawatir kening pembaca akan berkerut mengatakan sulit diksi sulit dimengerti, padahal tugas penulis membuat pembaca memahami apa yang ia tulis dengan cara meletakkan diksi pada tempatnya.

Seorang ahli linguistik pernah mengatakan kalau penulislah yang punya andil besar untuk mengembangkan diksi-diksi baru, jangan pernah sungkan memakai diksi baru dan membuatnya diketahui khalayak umum. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud akan memasukkan diksi tersebut jika perlu.

Jadi sekarang, siapa yang akan memopulerkan diksi-diksi itu kalau bukan penulis? Siapa yang akan tahu bahwa serendipiti itu adalah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba dan itu adalah bahasa Indonesia?

Ide adalah sebuah hak kekayaan intelektual yang harus dijabarkan dalam diksi-diksi yang tak sekadar mudah dipahami sambil lalu, tetapi buatlah ia rekat dalam ingatan dengan cara mengemasnya dengan bahasa yang apik.

Menurut hemat saya, jangan menjengkali kemampuan pembaca. Para penulis, wartawan, dan pegiat literasiah yang harus mendongkrak keterampilan literasi para pembaca. Jangan heran jika tingkat literasi kita semakin tertinggal, kalau bahasa kita sendiri pun harus kita 'sembunyikan' dengan memilihkan yang 'sudah biasa' bagi pembaca. Utamakan bahasa Indonesia dalam menulis, baru bahasa Inggris. Ketika padanan katanya belum ada dalam bahasa Indonesia, saya kira sah-sah saja kita menjadi xenoglosofilia alias 'keminggris'.

Apakah penulis harus melulu menuruti selera pasar? Saya tidak sedang membicarakan idealisme, karena sejatinya idealisme itu sendiri terkadang merupakan standar ideal untuk tiap-tiap orang. Namun, kenapa kita tidak 'memasarkan' diksi-diksi baru kita kepada khalayak agar ia bisa dinikmati berbagai kalangan.

Ini adalah PR besar penulis, wartawan, pegiat literasi, dan tentu saja para pencinta bahasa. Sebab bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi bahasa adalah identitas bangsa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x