Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Adakah Keharusan Menulis Setiap Hari?

2 November 2022   14:38 Diperbarui: 2 November 2022   14:41 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
djkn.kemenkeu.go.id

Banyak penulis sudah membuat testimoni tentang dahyatnya pengaruh menulis setiap hari, mereka merasakan bahwa menulis seperti bernafas, seperti sarapan dan pegal-pegal jika tidak menulis sehari saja. Mereka penulis produktif yang sudah begitu candu dan susah meninggalkan kebiasaan menulis. Memang menulis harus ditarget?

Bagi sebagian besar penulis harus ada target jika mau sukses menjadi penulis. Sebab kalau menulis hanya sebagai selingan sesekali saja, tidak rutin, bolong-bolong maka kemampuan menulisnya tidak berkembang dengan baik.

Penulis Tangguh Tidak Tergantung Mood

Penulis tangguh tidak akan tergantung pada mood, tidak tergantung pada ilham yang datang. Pokoknya harus ada paling tidak satu artikel atau hasil tulisan yang bisa disimpan atau dipublikasikan entah di blog, di ruang opini atau di laman status media sosial. Bagaimana dengan penulis yang hanya menulis seminggu sekali tetapi tulisannya adalah dalam, dengan kata-kata yang penuh makna dan melalui permenungan panjang tidak hanya sekedar mengejar target setiap hari menulis?

Entah apakah ada kriteria tentang penulis. Yang produktif dan banyak sekali menghasilkan tulisan bukan berarti lebih baik daripada penulis yang hanya sesekali menulis. Ada beberapa penulis yang lebih menekankan tulisan sebagai wujud kontemplasi, pengendapan dari berbagai peristiwa yang terjadi selama beberapa kurun waktu tertentu. Seperti seorang pelukis, ia tidak setiap hari melukis, namun ada sebagian waktu digunakan untuk menyerap energi, mencari ide, mencari obyek yang bisa dijadikan sumber ide bagi karya-karyanya. 

Ia perlu melakukan perjalanan, ia sering melakukan pengamatan, observasi bahkan meditasi agar menghasilkan karya dahsyat yang bukan sekedar produktif tetapi konsisten berkarya menghasilkan karya terbaik, konsisten itu bukan berarti menulis setiap hari, tetapi selalu ada karya entah seminggu sekali, sebulan, sekali setengah tahun sekali tetapi menghasilkan karya fenomenal yang akan selalu menjadi trending topik.

 Saya selalu berharap bisa menulis setiap hari, namun kadang ada banyak godaan ketika ada tantangan untuk menjalaninya. Target itu seperti menjadi beban dan membuat menulis kurang nyaman. Seperti merasa dikejar-kejar, seperti ada tuntutan yang harus dipenuhi sehingga tulisan yang dihasilkannya pun hasil dari keterburuan.

Memang setiap orang tidak selalu seragam dalam menjawab berkualitas mana tulisan yang dihasilkan setiap hari dengan tulisan yang dikerjakan hanya seminggu sekali. Tidak ada jawaban pasti, bagi pemula penting bisa memberi target diri sendiri, sebab berhubungan dengan kebiasaan, pembiasaan dan salah satu cara agar menulis menjadi habit, tetapi apakah yang termasuk sudah merasakan asam garam menulis harus tetap menulis setiap hari?

Ada yang menganggap bahwa tulisan yang ditulis setiap hari itu banyak kelemahannya, alasannya semakin sering menulis maka ide-ide yang ada sebatas teori, tidak mendalam hanya semacam tulisan "receh" karena keringnya daya kritis sebuah tulisan ditulis dengan target dan suasana terburu-buru.

Tetapi banyak penulis yang tidak peduli apapun penilaian, ia hanya berpikir untuk menulis, menulis, dan menulis. Entah ditulis itu dibuat setiap hari, seminggu, sekali, sebulan dua kali setahun hanya dua belas kali tetap saja sebagai karya yang ditulis secara konsisten. Yang tidak konsisten itu jika menulis saat mood, saat ada kesempatan, saat suka-suka sedang sumringah atau malah saat sedang gundah gulana oleh masalah cinta, ditinggal kekasih atau ditinggal orang tersayang.

Tidak ada keharusan menulis setiap hari kecuali ada lomba yang mensyaratkan mengupload artikel atau artikel setiap hari. Menulis itu panggilan hati, juga bukan keterpaksaan. Kalau setiap menulis seperti ada rasa keterpaksaan lebih baik jangan menulis. Cari waktu yang nyaman untuk menulis, sebab jika menulis itu dipaksakan ujung-ujungnya hasil tulisan juga kurang berkualitas, hanya memenuhi target saja membuat tulisan hanyalah karya tanpa rasa, dan nyawa.

Sebuah Keharusan Menulis Bagi Penulis Profesional

Bagi penulis profesional menulis itu ladang mencari uang. Kalau terjebak rasa malas maka uangpun menjauh. Wajib hukumnya bagi penulis profesional untuk selalu siap lahir bathin untuk menulis, bukan hanya sekedar menulis tapi sudah memastikan tulisannya akan dikirimkan ke mana, sudah harus dipikirkan berapa pendapatan per bulan dari hasil menulis, entah tulisan itu berupa tulisan gratisan, tulisan propaganda instansi atau tulisan pesanan dari orang pengin menulis buku tapi malas menulis. Maka ia perlu ghostwriter. Menyewa orang yang mau menuliskan hasil pemikirannya atau kisah hidupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun