Mohon tunggu...
Dwi Klarasari
Dwi Klarasari Mohon Tunggu...

Membaca mengantarku mengenal dunia serta kehidupan. Menulis membebaskan aku berbagi rasa dan inspirasi pada dunia.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah?

19 Oktober 2018   19:39 Diperbarui: 22 Oktober 2018   15:16 2011 21 16 Mohon Tunggu...
Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah?
Ilustrasi: www.yukepo.com

Ini kisah lama dari teman saya yang asli Yogyakarta, orang Jawa tulen. Sebut saja namanya Cantik! Kisahnya tentang pengalaman Cantik hari-hari pertama tinggal di Jakarta, bertahun-tahun yang lalu. Suatu ketika, Cantik berniat pergi ke toko buku Gramedia yang berada di kawasan Matraman.

Menurut petunjuk temannya, Cantik harus naik angkutan kota mikrolet bernomor 26 (M26) dari jalan raya Kalimalang sampai tujuan akhir angkot tersebut. Kemudian dia harus melanjutkan dengan naik mikrolet bernomor 01 (M01) yang akan melewati toko buku Gramedia. "Minta sama sopir angkot supaya diturunkan di Gramedia." Kira-kira demikian pesan temannya.

Keesokan harinya, pergilah Cantik ke Gramedia. Keluar dari rumah kos, dia berjalan santai menyusuri gang kecil menuju jalan raya Kalimalang. Dari kejauhan tampak olehnya mikrolet M26 yang akan ditumpanginya sedang ngetem di pinggir jalan. Alih-alih mempercepat langkah, Cantik tetap berjalan santai karena yakin sopir angkot pasti akan menunggunya.

"Melayu Mbak ... Melayu!" Teriakan sopir angkot dalam logat Batak mengagetkan Cantik. Dalam bahasa Jawa, kata "mlayu" berarti "lari". Jadi, Cantik pun mempercepat langkahnya. Meskipun demikian, si sopir angkot tetap saja berteriak, malahan terdengar makin kencang. "Ayo Mbak Melayu ... Melayu!"

Dengan sedikit kesal Cantik segera berlari. Akhirnya, dia pun duduk manis dalam angkot M26 tersebut. Sepanjang perjalanan, setiap ada calon penumpang si sopir selalu berteriak "Melayu ... Melayu". Di antara rasa kesal yang masih tersisa, Cantik sempat merasa keheranan. Kenapa sih, sopir ini selalu menyuruh setiap calon penumpang untuk berlari? Demikian agaknya yang berkecamuk di benak Cantik.

Dari dalam angkot, Cantik melihat banyak mikrolet M26 lalu-lalang di jalanan. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri saat membaca tulisan pada setiap kaca angkot bernomor M26 "Kp. Melayu-Bekasi". Ealah Gusti! Pantas saja sopir angkot ini selalu berteriak "Melayu ... Melayu". Bukan menyuruh calon penumpang untuk berlari, tetapi si sopir memberi tahu jurusan angkotnya. Karena di jalur yang sama ada beberapa angkot dengan jurusan berbeda. Cantik tertawa dalam hati teringat bagaimana dia tadi sudah berlari sampai terengah-engah karena teriakan si sopir.

Dokpri.
Dokpri.
Ketika itu kami teman-teman sekantor yang mendengar kisahnya tertawa membayangkan si cantik nan elegan harus berlari-lari. Semua itu terjadi karena bahasa Jawa yang menjadi bahasa sehari-hari di kampung halamannya masih sangat menguasai pikiran Cantik. Maklum waktu itu Cantik pendatang baru di Jakarta.

Namun, lama sesudah kejadian lucu tersebut, bahasa Jawa tetap akrab dengan keseharian Cantik. Bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, Cantik masih suka mengobrol dengan bahasa daerah bila bertemu keluarga, saudara maupun teman sesuku, termasuk saya. Kami dan beberapa teman yang kebetulan berasal dari keluarga Jawa, merasa lebih akrab bila mengobrol dengan bahasa daerah (bahasa Jawa). Di mana pun bertemu, bahkan di dalam angkot sekali pun, kami tak segan saling menyapa, bercanda dan mengobrol dalam bahasa Jawa. Tentu saja menjadi pengecualian saat kami harus berbicara dalam rapat atau forum resmi lain di lingkungan kerja.

Saya senang menemukan teman-teman seperti Cantik. Dalam keseharian di Jakarta yang cenderung harus selalu berbahasa Indonesia, rasanya bahagia bila sesekali bisa mengobrol dalam bahasa daerah. Bagaimanapun tinggal di metropolitan yang multietnis ini, menggunakan bahasa Indonesia adalah yang paling pas. Banyak orang yang saya temui dalam urusan pekerjaan atau relasi di komunitas atau masyarakat datang dari berbagai daerah di Indonesia-Aceh, Batak, Karo, Minang, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Flores, Makassar, Papua, dan sebagainya.

Sudah lama Cantik kembali ke Yogya, dan saya juga terpisah dengan teman-teman dekat yang suka banget berbahasa Jawa. Meskipun di lingkungan masyarakat ada orang-orang sesuku atau sedaerah, tetapi mereka jarang mau berbahasa Jawa. Adakalanya mencuat kerinduan untuk berbahasa daerah. Jadi, kalau tiba-tiba bertemu dengan teman-teman yang "orang Jawa", refleks saya akan mengajaknya berbahasa Jawa. Ketika berkenalan dengan seseorang, dan setelah lama mengobrol mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah orang Jawa, saya pun sering berusaha mengajak berbahasa Jawa.

Namun, tidak semua orang Jawa yang sudah "menjadi" penduduk Jakarta mau serta merta berbahasa Jawa. Terlebih lagi bila berada di tempat umum, seperti angkot atau mal. Bukan berprasangka, tetapi pada beberapa orang saya merasakan ada "gengsi" menyelimuti. Ada juga yang terkesan "tidak suka". Mungkin bagi mereka saya terkesan sok akrab.

Ada beragam reaksi saat saya mengajak bicara dengan bahasa Jawa. Ada yang menjawab dalam bahasa Jawa, tetapi dengan suara pelan. Ada juga yang cuek dan tetap menjawab dalam bahasa Indonesia. Uniknya, ada teman yang saya kenal di kampung eyang saya, meskipun berkali-kali saya bertanya dalam bahasa Jawa tetap saja dijawabnya dengan bahasa Indonesia. Lebih parah lagi bila sama-sama orang Jawa yang merantau di Jakarta, ketika bertemu di kampung halaman sama sekali tak mau berbahasa Jawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN