Mohon tunggu...
Wahyu Triasmara
Wahyu Triasmara Mohon Tunggu... Owner Klinik DRW Skincare

Seorang manusia biasa kebetulan berprofesi dokter yang ingin berbagi cerita dalam keterbatasan & kesederhanaan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Pada Era BPJS Dokter dan Pasien Harus Ekstra Sabar

2 Maret 2015   16:34 Diperbarui: 17 Juni 2015   10:17 0 0 0 Mohon Tunggu...
Pada Era BPJS Dokter dan Pasien Harus Ekstra Sabar
1425263658123718820

Kadang saya merasa sedih kalau ada berita-berita diluaran sana yang mengatakan dokter dan rumah sakit menelantarkan pasiennaya. Saya yakin tidak ada tenaga kesehatan atau rumah sakit yang ingin menelantarkan pasien. Pengalaman saya yang bekerja di rumah sakit swasta saja pernah beberapa kali mendapatkan keluhan pelayanan dari pasien seputar pelayanan rumah sakit  walau memang jumlahnya sangat jarang, apa lagi dengan rumah sakit umum milik pemerintah yang sering mendapat sorotan baik dari media maupun dan masyarakat seputar pelayanan mereka yang menurut mereka kurang baik. Namun kalau mau sedikit memahami kenapa Rumah sakit sering mendapat raport merah dari masyarakat sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan dari rumah sakit namun ada banyak kondisi yang membuat hal demikian terjadi. Sebut saja beberapa permasalahan yang mungkin dapat saya share berikut, 1. Daftar antrian yang sangat panjang Penerapan kartu sakti entah itu BPJS, kartu Indonesia sehat dll membuat konsentrasi pasien lebih banyak di rumah sakit milik pemerintah atau yang bekerja sama dengan penyelengggara kartu tersebut. Jadi jangan heran jika anda harus berjubel-jubel mengantri untuk sekedar periksa dokter ketika peserta jaminan kesehatan begitu besar sementara fasilitas masih terbatas. 2. Tempat yang kurang nyaman, sumpek, dokter, bidan dan perawatnya jutek2 Saya yakin setiap rumah sakit punya petugas kebersihan (cleaning service) yang terlatih. Namun karena saking banyaknya kunjungan pasien tentu saja ruangan rumah sakit utk tunggu pasien menjadi sumpek dan seringkali lantainya kotor walau udah berngkali di bersihkan apa lagi di musim hujan sekarang karena besarnya kunjungan calon pasien yang akan berobat. Selain itu mungkin anda sering melihat dokter atau perawat yang kadang jutek tapi saya yakin tidak semuanya begitu dan sudah berusaha ramah. Bisa dibayangkan puluhan hingga ratusan tiap hari dilayani begitu menguras tenaga jadi harap maklum mereka juga manusia yang punya mood dan perasaan yang berubah-ubah, apa lagi jika kita sudah lelah mohon dimaafkan jika senyum kami kurang manis. 3. Penolakan karena kamar penuh Anda pasti sering mendengar pasien di tolak dengan alasan kamar penuh. Yah memang benar kamar rumah sakit sering penuh, bayangkan saja berapa setiap hari pasien yang sakit dan memerlukan rawat inap. Jumlahnya sangat banyak sementara jumlah BED di rumah sakit terbatas. Itulah sebabnya pihak rumah sakit dan tim medis/paramedisyg merawat harus benar -benar putar otak supaya semua pasien bisa terlayani sampai kadang "maaf" sampai ada yang harus mendpat perawatan di lorong-lorong rumah sakit krn ketiadaan tempat lagi. Belum lagi persoalan ICU (ruang khusus perawtan intensif pasien) yang sring bahkan tiap hari penuh pasien, sehingga wajar jika ada pasien yang memerlukan ruangan ICU terus ditolak dirawat karena memang ruangan yang jumlahnya terbata tersebut sering sudah terpakai pasien lain. 4. Ketersediaan obat yang terbatas Stok obat yang sering diterima rumah sakit kadang terhambat entah karena proses produksi atau distribusi, namun tentunya harus dipahami bahwa proses distribusi dan produksi itu bukanlah tugas / urusan dari rumah sakit krn rumah sakit lebih pada pelayanan pada pasien. Karena begitu banyaknya pasien yang berobat membuat stok obat dirumah sakit pun jadi cepat menipis. Sementara itu di era BPJS skrg pemberian obat oleh dokter sepenuhnya sudah dibatasi dan telah diatur dalam formularium obat yang ditanggung BPJS. Sementara tak semua obat itu ditanggung BPJS, padahal banyak kondisi penyakit yang memerlukan obat yang tidak ditanggung BPJs tersebut. 5. Menunggu daftar antrian operasi Operasi itu ada yang bisa direncanakan dan ada yang harus segera dilakukan karena sifatnya emergency. Jadi jangan heran kalau operasi anda ditunda atau direncanakan oleh dokter karena antrian daftar tunggu pasien memang banyak sementara dokter operator yang mengerjakan jumlahnya terbatas. Mereka para tim ioperasi juga manusia, butuh tenaga dan juga konsentrasi tinggi sehingga tidak mungkin bisa mengerjakan operasi banyak sekaligus walaupun kadang karena kebutuhan kondisi yang mendesak mereka harus kerja overtime tp sekali lagi pekerjaan ini butuh konsentrasi tinggi dan tenaga besar demi dpt menjamin keselamatan pasien. 6. Sering merasa dilempar-lempar oleh petugas kesehatan Patut juga dimengerti bahwa sistem kesehatan di era BPJS adalah sistem rujukan. Namun sayangnya beberapa orang sering menganggap ini seolah mempermainkan pasien karena dilempar-lempar. Supaya rumah sakit tidak membludak seperti yang saya sebutkan diatas pasien-pasien yang masih bisa dirawat oleh dokter keluarga disarankan untuk dirawat oleh dokter keluarga mereka atau datang ke puskesmas di wilayah mereka. Nah jika di puskesmas sudah tidak sanggup wajar kalau pasien akhirnya dikirim ke rumah sakit daerah diatasnya utk pemeriksaan dokter spesialis, di rumah sakit daerahpun tidak semua penyakit bisa ditangani sehingga kadang harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar (rumah sakit rujukan nasional) yang memiliki dokter spesialis dan peralatan lebih lengkap. Namun lagi-lagi bisa dibayangkan rumah sakit rujukan nasional itu pasien datangnya dari berbagai daerah jadi harap maklum jika kondisinya kadang seperti yang saya sebut diantas antri dan antri. 7. Dokter berhati-hati dalam menegakkan diagnosis dan mengobati pasiennya Era tuntut menuntut saat ini sisi positifnya membuat dokter menjadi makin lebih berhati-hati dan waspada terutama saat melayani pasien. Sehingga dalam menegakkan diagnosis dan mengobati tentu juga tidak boleh sembarangan. Perlu pemeriksaan demi pemeriksaan yang memerlukan waktu yang tidak sedikit, bukan karena dokternya kurang pintar atau ingin mencari keuntungan tapi krn kondisi penyakit tiap orang beda-beda, pemeriksaan yg diperlukan pun juga berebeda-beda bahkan satu pasien harus menjalani berbagai pemeriksaan seperti darah, rontgen/scanning/MRI, biopsi, guna mendukung penegakkan diagnosis. Padahal ketersediaan alat semacam MRI saja tidak ada di semua rumah sakit. Jadi harap maklum jika proses pengobatan terkesan lama penanganannya. Belum lagi pasien-pasien yang perlu mendapatkan kemoterapi atau radioterapi karena kanker tentu harus menunggu ekstra sabar menunggu antrian untuk mendapatkan penanganan karena fasilitas ini hanya terdapat di pusat rujukan nasional / rumah sakit khusus kanker yang dituju pasien dari berabagai daerah di seluruh Indonesia. 8. Tidak semua biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS Ada plafon biaya yang ditetapkan oleh BPJS dalam penanganan pasien. Jadi ada biaya maksimal yang bisa dikeluarkan oleh BPJS untuk membantu pasien ketika berobat. Sementara itu untuk beberapa kasus-kasus penyakit berat yang memerlukan tindakan operasi tidak sepenuhnya ditanggung. Jadi jangan heran ketika sakit dan ada biaya lain diluar BPJS yang harus anda tanggung. pada akhirnya tidak ada pilihan lain anda harus membayar atau penyakit tambah parah bahkan meninggal? kadang disitu saya merasa kasihan pihak administrasi rumah sakit yang sering jadi sasaran tembak kena omel keluarga pasien karena mereka terkaget-kaget mendengar biaya besar yang harus dibayar walau mereka sudah terdaftar sebagai peserta jaminan. 9. Menjadi peserta BPJS wajib satu keluarga Tidak semua rakyat Indonesia itu kaya dan tidak semuanya miskin, ada masayrakat menengah di tengah-tengahnya. Kalau yang kaya sih mungkin gampang aja mendaftarkan dan menanggung biaya premi asuransi satu keluarga. Sementara biaya premi masyarakat miskin ditangun oleh negara. Nah yang jadi permasalahan bagaimana dengan masayarakat yang tidak terdaftar sebagai masyarakat yang berhak menerima bantuan atau mereka yang gajinya pas-pasan dan butuh pengobatan??? apa mereka harus daftar BPJS? Sementara syarat untuk ikut mendaftar wajib satu keluarga juga didaftarkan, bisa dibayangkan jika sekeluarga ada 5 orang mereka harus membayar iuran premi yang paling murah saja untuk kelas III sebesar 25.500 rupiah per orang tiap bulan, tentu saja ini sangat menguras kantong mereka disitu lagi-lagi membuat saya merasa sedih. 10. Pasiennya membludak, jasa dokter tidak dihargai Tahukah anda berapa BPJS membayar dokter untuk paien yang mereka periksa? sistem tarif kapitasi ini terdiri atas Rp. 3 ribu – Rp. 6 ribu untuk puskesmas, Rp. 8 ribu – Rp. 10 ribu untuk klinik pratama, praktek dokter, atau dokter praktek beserta jaringannya, dan Rp 2 ribu untuk praktik dokter gigi mandiri untuk satu satu orang peserta dalam satu bulan. Itupun di bagi-bagi lagi untuk seluruh management dalam klinik ataupun puskesmas jadi tak sepenuhnya untuk dokter. Jadi seorang dokter kadang hanya menerima 2000 perpasien. Maaf kalau anda bilang ini besar, bahkan sya pernah dimarahi tukang parkir karena ngotot mbayar parkir cuma 1000 untuk kendaraan bermotor frown emoticon Belum lagi dokter bedah atau kandungan juga dokter anestesi yang harus melakukan tindakan operasi sulit dan hanya dibayar 60-200 ribu untuk tindakan mereka yang sangat berisiko dan bertaruh nyawa. Sakitnya lagi kalau jasa medis itu turunnya terlambat, sementara harus mengencangkan ikat pinggang dulu sambil menunggu honor jasa medis turun smile emoticon Masih ada lg yang bikin ngeluu kalau harus menghadapi masalah hukum, dituduh malpraktek dll dan dituntut jutaan rupiah. Kembali lagi banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari BPJS tapi masih banyak juga kekurangan-kekurangan yang perlu dikritisi dan dibenahi sehingga masyarakat (pasien) dapat menikmati pelayanan kesehatan yang baik dan maksimal. Selain itu butuh kesabaran ekstra baik bagi pasien maupun bagi tenaga kesehatan yang berkecimpung didalamnya. Dimohon untuk ada saling pengertian, sehingga hubungan antara dokter pasien atau pasien dengan tenaga kesehatan lain menjadi semakin baik dan solid pada akhirnya itu semua demi kesehatan dan kesembuhan pasien. salam dari kampung,, kurang lebihnya mhn dimaafkan,, dr. Wahyu Triasmara

KONTEN MENARIK LAINNYA
x