Kosasi Kwek
Kosasi Kwek Profesional

Dokter umum,\r\nlulusan FK-Universitas Tarumanagara, Jakarta, tahun 1998. Lahir di Medan, 19 November 1972.\r\nTinggal dan bekerja di\r\nRengat, Propinsi Riau, Indonesia.\r\nEmail : dr.kosasi@gmail.com Alamat surat : Jl.A.R.Hakim 19-B, Rengat 29319, Riau.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama featured

Diabetes; Antara Mitos, Salah Paham, dan Kebenaran

14 November 2013   08:21 Diperbarui: 15 November 2017   14:05 13337 50 53
Diabetes; Antara Mitos, Salah Paham, dan Kebenaran
Ilustrasi: Shutterstock

"Diabetes itu penyakit keturunan", "Diabetes itu ada jenis kering dan basah", "Kalau kena diabetes, bagus makan kentang atau keladi / ketela / ubi, nggak boleh makan nasi" ; itulah sebagian mitos dan salah paham yang hidup dalam masyarakat Indonesia.

Penyakit kencing manis atau Diabetes Mellitus ( DM ) sudah sangat dikenal oleh masyarakat kita. Banyak di antara kita atau anggota keluarga besar kita yang mengidap penyakit ini. Menurut data yang dikeluarkan oleh IDF (International Diabetes Federation) tahun 2012, jumlah penderita diabetes di Indonesia menduduki rangking ke-7 dunia.

Sepuluh negara terbanyak jumlah penderita diabetes (umur 20-79 tahun), tahun 2012 :

  1. China................................ 92,3 jt
  2. India................................. 63    jt
  3. USA................................. 24,1 jt
  4. Brazil.................................13,4 jt
  5. Federasi Rusia ................... 12,7 jt
  6. Meksiko............................ 10,6  jt
  7. Indonesia ........................... 7,6jt
  8. Mesir..................................7,5  jt
  9. Jepang................................7,1  jt
  10. Pakistan..............................6,6  jt

Jumlah penderita diabetes yang terus meningkat di semua negara (termasuk Indonesia) menjadikan penyakit ini sebagai ancaman global, sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2007 mengeluarkan resolusi yang menetapkan tanggal 14 November sebagai Hari Diabetes Sedunia, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat internasional terhadap diabetes. Data dari IDF juga mengungkapkan, pada tahun 2012 diperkirakan ada lebih dari 371 juta penderita diabetes di seluruh dunia ; itupun dengan kenyataan bahwa sekitar 50% dari seluruh penderita diabetes tidak terdeteksi atau tidak mengetahui bahwa mereka menderita diabetes.

Sayangnya, walaupun penyakit ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, sampai sekarang masih ada begitu banyak kesalahpahaman dan mitos tentang diabetes yang diwariskan turun-temurun dan hidup dalam masyarakat kita. Mitos dan kesalahpahaman itu sungguh sangat merugikan kita, karena membuat masyarakat kita menjadi lalai dan salah dalam hal pencegahan, perawatan, dan pengobatan diabetes.

Berikut ini adalah bermacam-macam mitos dan salah paham tentang diabetes yang berkembang dalam masyarakat kita, dan penjelasan atau “klarifikasi”dunia medis terhadap salah paham yang ada.

Mitos Nomor 1 : Diabetes adalah penyakit keturunan ?

Bukan. Lebih dari 95% kasus diabetes bukan penyakit keturunan, tapi disebabkan oleh kelebihan konsumsi / asupan karbohidrat, lalu terjadi kekurangan atau kejenuhan insulin, dan akibatnya timbul kelebihan kadar gula darah. Diabetes yang kita kenal / jumpai sehari-hari adalah Diabetes Tipe II yang disebabkan oleh kekurangan insulin atau kejenuhan insulin ( " resistensi insulin " ). Hanya sebagian kecil ( kurang dari 5% ) kasus diabetes disebabkan kelainan genetik ( DM Tipe I ).

Dalam kenyataannya, banyak penderita diabetes yang ber-orangtua diabetes. Bukankah ini adalah bukti bahwa diabetes adalah penyakit keturunan ? Bukan ; lebih dari 95% penderita diabetes tidak mewarisi penyakit ini dari orangtuanya, tapi mewarisi / meniru kebiasaan makanorangtua yang salah,yang berlebihan manis dan karbohidrat. Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, menguras habis cadangan insulinnya, kemudian menimbulkan diabetes. Memang benar jika orangtua diabetes, resiko anak menderita diabetes menjadi tinggi ; bukan karena penyakitnya diturunkan, tapi karena pola / kebiasaan makan yang salah itu yang ditiru oleh anak.

Mitos nomor 2 : Ayah mewariskan diabetes kepada anak perempuan, ibu mewariskan kepada anak laki-laki ?

Tidak benar. Jika salah satu ataupun kedua orangtua menderita diabetes, tidak berarti anak-anaknya harus ikut menderita diabetes. Seperti telah dijelaskan di atas, >95% penderita diabetes mendapat penyakit ini karena kelebihan asupan (intake) gula dan karbohidrat. Jadi tidak benar ada pewarisan silang seperti mitos selama ini.

Mitos Nomor 3 : Diabetes ada 2 jenis :  kering dan basah ?

Entah  siapa yang memulai, entah propinsi mana yang memulai, tapi di negara kita - dari Sabang sampai Merauke, sangat banyak orang terlanjur mempercayai "teori" ini. Menurut mitos ini, ada dua jenis diabetes : gula kering dan gula basah. Masih menurut teori ini, " Jenis yang basah akan mengalami infeksi, luka dan pembusukan di kaki, dan akan berakhir dengan amputasi (pemotongan) kaki. Jenis yang kering lebih aman, tidak akan mengalami pembusukan kaki ".

Mitos ini sangat menyesatkan.Penderita diabetes yang kadar gula darahnya terlalu tinggi untuk jangka waktu tertentu, bisa mengalami infeksi dan pembusukan spontan di kaki atau bahkan di bagian lain tubuh. Jadi, luka dan pembusukan kaki pada penderita diabetes disebabkan oleh kadar gula darah yang terus-menerus tinggi, dan hal ini bisa terjadi pada semua penderita diabetes. Jadi, tidak ada penggolongan diabetes kering atau diabetes basah !

Mitos Nomor 4 : Diabetes hanya diderita oleh orang berusia 40 tahun ke atas ?

Tidak benar. Diabetes bisa diderita mulai dari usia remaja sampai usia lanjut. Memang sebagian besar kasus diabetes terdeteksi di usia 40an ke atas, tapi tidak berarti diabetes hanya bisa terjadi di usia lanjut. Seperti telah dijelaskan di atas, diabetes (DM Tipe II) terjadi jika insulin seseorang sudah habis / hampir habis, atau sudah resisten (jenuh) terhadap gula darah.

Mitos Nomor 5 : " Saya tidak suka minum / makan manis, mengapa  bisa kena diabetes ?"

Banyak sekali penderita yang ketika terdeteksi / terdiagnosa menderita diabetes, mengajukan keberatan melalui pertanyaan ini. Dan banyak sekali orang sehat yang berpikiran sama : "kalau tidak sering minum gula, tidak mungkin kena diabetes". Gula darah  adalah hasil akhir dari segala jenis karbohidrat yang kita terima. Jadi bukan hanya makanan / minuman manis yang diolah menjadi gula darah, tapi semua makanan yang berbahan dasar karbohidrat juga diolah menjadi gula darah. Makanan pokok yang kita makan setiap hari adalah sumber utama gula darah kita. Buah-buahan dan makanan serta jajanan yang dalam proses pembuatannya menggunakan tepung apapun, otomatis ikut menyumbang gula darah.

ajanan kue-kue berbahan dasar tepung, juga merupakan sumber karbohidrat (Dokumentasi pribadi)
ajanan kue-kue berbahan dasar tepung, juga merupakan sumber karbohidrat (Dokumentasi pribadi)
Mitos Nomor 6 : Manisnya buah-buahan tidak apa-apa ?

Mitos ini membuat banyak orang sehat dan penderita diabetes merasa tidak perlu membatasi jumlah buah-buahan yang dimakan. Semua buah-buahan  mengandung gula ; oleh karena itu konsumsi buah-buahan harus dibatasi, baik oleh orang non-diabetes, apalagi oleh penderita diabetes. Buah-buahan yang terasa kuat manisnya, otomatis harus dipantang bagi penderita diabetes, misalnya : durian, rambutan, lengkeng atau "mata kucing", nangka, cempedak, manggis, sirsak, nenas, duku, langsat, anggur, kurma, dan sawo.

Mitos Nomor 7 : Gula merah aman, tidak menaikkan gula darah ?

Tidak benar. Baik gula merah ataupun gula pasir (gula dapur) adalah gula. Perbedaannya, kandungan air dalam gula merah  lebih banyak daripada gula pasir. Jadi gula merah maupun gula pasir sama kekuatannya dalam menyumbang gula darah. Penderita diabetes harus berpantang gula dapur maupun gula merah.

Mitos nomor 8 : "Setiap hari saya harus minum manis, kalau tidak minum manis, kepala saya pusing. Katanya minum manis supaya tidak kena sakit kuning / sakit liver" ?

Bagi sebagian masyarakat kita, minum teh manis dan / atau kopi manis sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging, tidak bisa dihapus lagi. Yang menjadi masalah adalah gula pasir ( gula dapur ) yang ditambahkan ke dalam teh/kopi. Nasi yang kita makan -walaupun tidak terasa manis di mulut, sudah cukup menjadi sumber gula untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita. Apapun jenis makanan yang mengandung karbohidrat, termasuk makanan pokok, buah-buahan, kue-kue ataupun jajanan yang mengandung tepung, permen dan cokelat, otomatis menjadi gula di dalam darah kita. Jadi, tanpa minum manis pun kita sudah pasti tetap mendapat gula melalui makanan sehari-hari.

Tidak ada kaitan sakit kepala dengan tidak minum manis. Tidak ada kaitan sakit liver dengan kurang minum manis. Sakit liver / kuning disebabkan oleh virus hepatitis.

Mitos Nomor 9 : Kalau saya rajin olahraga, tidak mungkin kena diabetes ?

Seperti telah dijelaskan di atas, diabetes timbul karena asupan karbohidrat yang berlebihan. Olahraga sampai berkeringat memang akan segera menurunkan kadar gula darah, tetapi bukan jaminan bahwa rajin olahraga pasti tidak menderita diabetes. Apalagi jika malas/jarang berolahraga, lebih tidak menjamin seseorang bebas dari kemungkinan menderita diabetes.

Mitos Nomor 10 : Kalau luka saya cepat kering / cepat sembuh, berarti tidak kena diabetes ?

Salah satu  komplikasi yang bisa dialami oleh penderita diabetes adalah luka yang sukar  sembuh atau lama mengeringnya. Tapi tidak berarti semua penderita diabetes lukanya sukar sembuh. Luka menjadi susah sembuh karena kadar gula darah terlalu tinggi. Jika kadar gula darah penderita diabetes terkontrol, lukanya bisa saja cepat sembuh. Jadi prinsip yang benar adalah : jika luka susah sembuh, sangat mungkin diabetes ; tapi luka yang cepat sembuh bukan jaminan sesorang tidak diabetes.

Mitos Nomor  11 : Kalau kencing saya tidak terasa manis, berarti saya tidak kena kencing manis ?

Untuk memastikan diabetes, bukan dari rasa air kencing atau urin, tapi dari kadar gula darah. Lagipula, kandungan gula yang tinggi di dalam urin belum tentu memberikan rasa manis di lidah.

Mitos Nomor 12 :  Kalau kencing saya tidak disemutin, berarti saya tidak kena kencing manis ?

Jika air kencing / urin seseorang sampai disemutin, maka ia harus sangat waspada dan patut curiga kemungkinan diabetes, karena pada saat itu kemungkinan kadar gula darahnya tinggi.    

Ada tidaknya gula dalam urin sangat tergantung dari kadar gula darah dan fungi ginjal. Jika kadar gula darah terlalu tinggi dan/atau fungi ginjal menurun, maka gula akan bocor ke dalam urin. Jadi urin yang tidak disemutin bukan jaminan tidak menderita diabetes. Lagipula jika urinnya sudah tensiram bersih dari toilet atau tidak ada sarang semut di sekitar toilet, bagaimana bisa disemutin ?!

Mitos Nomor 13 : Kalau kena diabetes, makan saja kentang atau ubi / keladi / ketela ; bisa menurunkan gula darah ?

Tidak benar. Baik nasi, kentang, keladi, dan segala jenis umbii-umbian ( termasuk bengkuang ), sagu, roti, mie, bihun, kwetiau, adalah sumber karbohidrat. Dalam hal ini, yang terpenting adalah membatasi jumlahnya, bukan jenisnya. Kalau kita terbiasa dengan nasi sebagai makanan pokok, tetap boleh makan nasi asalkan jumlahnya dibatasi. 

Kalau kita terbiasa dengan ubi / keladi sebagai makanan pokok, tetap boleh makan ubi / keladi asalkan jumlahnya dibatasi. Jadi, bagi orang yang terbiasa makan nasi, tidak boleh makan kentang atau keladi sebagai tambahan / cemilan, boleh sebagai pengganti. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah jumlahnya.

Mitos Nomor 14 : Kalau kena diabetes, jangan makan nasi / beras biasa, makan saja beras merah atau beras jatah / raskin (beras miskin) ?

Bukan jenis beras yang paling menentukan kadar gula darah, tapi jumlah / porsi nasi yang dimakan itulah yang paling menentukan kadar gula darah.

Mitos Nomor 15 : Penderita diabetes boleh minum madu ?

Jelas tidak boleh, karena kandungan gula dalam madu sangat tinggi. Begitu juga dengan sirup-sirup, air tebu, minuman kaleng, semua yang manis-manis otomatis menjadi pantangan bagi penderita diabetes.

Mitos Nomor 16 : Diabetes dapat ditularkan melalui hubungan suami-isteri atau transfusi darah ?

Tidak. Diabetes bukan penyakit menular.

Mitos Nomor 17 : Ramuan pahit-pahit bisa menurunkan gula darah ?

Tidak benar. Mitos ini lahir dari pemikiran sederhana bahwa rasa manis di dalam darah dapat dilawan oleh ramuan pahit-pahit. Kadar gula dalam darah tidak ditentukan oleh rasa darah kita, tapi oleh jumlah miligram glukosa yang terdapat di dalam darah. Tanpa obat apa pun, jika belum ada komplikasi yang berat, gula darah bisa menurun jika asupan karbohidrat dikurangi secara drastis, dan pemakaian serta pembakaran gula darah diperbanyak melalui aktivitas fisik dan olahraga.

Mitos Nomor 18 : Obat-obat diabetes bisa menimbulkan telinga pekak ?

Telinga pekak atau berdengung / berdenging bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, seperti kelebihan kolesterol, kelebihan trigliserid (lemak darah), gangguan saraf pendengaran, gangguan tulang-tulang pendengaran, gangguan selaput pendengaran, atau karena kotoran yang penuh menyumbat liang telinga. Kadar gula darah yang terlalu tinggi juga dapat menimbulkan keluhan telinga berdengung.

Mitos Nomor 19 : Obat-obat diabetes bisa merusak ginjal ?

Gangguan ginjal yang terjadi pada penderita diabetes adalah salah satu komplikasi terberat dari diabetes, akibat dari kadar gula darah yang terus-menerus tinggi untuk jangka waktu yang lama.

Mitos Nomor 20 : Diabetes bisa disembuhkan ?

Tidak bisa. Jika berobat ke Malaysia atau Singapore, diabetes bisa disembuhkan ? Tidak bisa. Berobat alternatif ? Tidak bisa.

Pada saat kadar gula darah terkendali dengan baik, keluhan-keluhan yang dialami oleh penderita umumnya akan berkurang atau bahkan hilang, tapi tidak berarti diabetesnya sudah sembuh. Tidak ada istilah "sembuh" untuk diabetes, yang ada hanya "terkontrol". Sampai saat ini, belum ada obat yang diakui  dapat menyembuhkan diabetes. 

Semua obat diabetes yang ada bertujuan untuk menurunkan kadar gula darah. Berarti, diabetes  bisa dikendalikan atau dinormalkan gula darahnya, tetapi tidak dapat disembuhkan. Jika ada kemasan obat ataupun iklan obat yang mengklaim dapat memnyembuhkan diabetes, itu adalah penipuan. Sampai saat ini ( November 2013 ), WHO dan Departemen Kesehatan RI tidak pernah mengakui adanya obat yang bisa menyembuhkan diabetes.

Walaupun diabetes tidak bisa disembuhkan, penderita diabetes bisa hidup normal tanpa keluhan jika :

a. Kadar gula darah selalu terkontrol.

b. Rajin dan rutin berolahraga.

c. Belum mengalami komplikasi.

Jika mitos dan salah paham terus berlanjut

Mitos-mitos ini ; bagi sebagian masyarakat kita yang tinggal di kota-kota besar - apalagi yang tinggal di luar negeri, mungkin terdengar aneh, lucu, bahkan menggelikan. Tapi coba kita bertanya pada orang-orang di sekitar kita, anggota keluarga besar kita, tetangga kita, teman kuliah atau teman kerja kita , atau bahkan mungkin diri kita sendiri ; pasti masih sangat banyak di antara kita yang salah mengerti dan meyakini mitos-mitos sesat di atas.

Salah paham dan mitos-mitos inilah yang sering membuat penderita diabetes tidak berhasil mengendalikan kadar gula darahnya walaupun sudah mendapat pengobatan. Mitos-mitos ini pula yang menuntun banyak penderita diabetes mencari pengobatan-pengobatan alternatif yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya, yang pada akhirnya berujung pada komplikasi diabetes.

Kesalahpahaman dan keyakinan akan mitos-mitos ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat jumlah penderita diabetes terus bertambah dari tahun ke tahun, menghambat upaya-upaya pencegahan diabetes, dan membuat banyak penderita terjerumus ke dalam komplikasi-komplikasi diabetes.

Jika kita tidak mengerti dengan benar inti dan penyebab diabetes ;

  • bagaimana kita bisa mencegahnya ?
  • bagaimana kita bisa menekan laju pertambahan jumlah penderita diabetes di Indonesia ?
  • bagaimana kita bisa membuat saudara-saudara kita yang sudah menderita diabetes menjalani hidup yang lebih baik ?

Sebarluaskan informasi yang benar dan lengkap ; hapuskan kesalahpahaman

Bagi penderita diabetes, informasi awal yang benar dan lengkap tentang diabetes menjadi  hal yang sangat menentukan. Pemahaman penderita diabetes terhadap penyakit ini dan perjalanan penyakit  selanjutnya, sangat dipengaruhi oleh informasi awal yang diterima dari tenaga kesehatan / dokter pertama yang mendeteksi diabetesnya. 

Jika informasi dan nasehat medis yang diterima lengkap, tegas dan benar, penderita bisa menjalani hidup yang lebih berkualitas. Jika informasi dan nasehat medis yang diterima lengkap, tegas dan benar, anggota keluarga dan masyarakat yang tidak / belum menderita diabetes bisa berupaya mencegah diabetes.


Salam Kompasiana,

dr. Kosasi Kwek - Rengat, Riau.

Catatan :

  • Artikel yang lebih rinci tentang diabetes (sebab,gejala,komplikasi) dapat dibaca di sini.
  • Hari Diabetes Sedunia 14 November ditetapkan dengan Resolusi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) No.61/225 tahun 2007 untuk memperingati hari kelahiran Frederick Banting,yang bersama-sama dengan Charles Bestmenemukan terapi insulin bagi penderita diabetes pada tahun 1922.
  • Situs resmi International Diabetes Federation : www.idf.org
  • WHO = World Health Organization ( Organisasi Kesehatan Dunia ).