Humaniora Pilihan

Kita Hidup Bukan untuk Bunuh Diri!

20 Maret 2017   17:38 Diperbarui: 20 Maret 2017   17:46 41 2 0

Beberapa hari ini, masyarakat dikejutkan oleh adegan bunuh diri yang direkam langsung lewat Facebook. Sontak ini menghadirkan kecaman keras, spekulasi dan pendapat dari khalayak ramai di tanah air. Satu dari sekian pendapat itu, mungkin kita tiba pada permenungan tentang makna hidup itu sendiri.Untuk apa kita hidup?

Di balik kisah tragis ini, kita mungkin melihat bagaimana setiap orang di dunia ini melihat kehidupan gratis yang berasal dari Yang Maha Kuasa. Ada yang mensyukurinya karena begitu banyak rejeki dan ragam pengalaman di dalam hidup mereka. Ada yang kecewa karena mengalami hidup di situasi yang serba sulit. Ada yang sedih karena kehidupan yang dialami tidak terjadi seperti yang dialami oleh orang lain. Menilai makna kehidupan bergantung pada pelbagai macam aspek seperti lingkungan, tingkat pendidikan, pandangan agama dan lain sebagainya.

Pelaku bunuh diri yang direkam lewat FB tentunya mempunyai pandangannya sendiri tentang hidup. Dia pasti tahu akibat dari tindakannya itu. Paling tidak, dia menyadari akibat dari tindakannya yakni kehilangan nyawanya. Pertanyaannya, siapakah yang membentuk pandangan hidup pelaku bunuh diri ini? Kita sulit untuk memastikan siapa dan apa yang telah meyakinkan pelaku itu untuk bunuh diri. Terlebih lagi kenekatannya untuk menyiarkan adegan itu lewat Facebook.

Kasus bunuh diri itu bisa beraneka motif. Salah satu contohnya motif bunuh diri ala teroris. Tentang ini, kita semua sangat familiar. Para pelaku biasanya meledakan bom bersama diri mereka di tempat yang sudah ditargetkan. Salah satu motif di balik tindakan mereka adalah karena pengaruh ajaran-ajaran tertentu, seperti motif janji masuk surga bila menghilangkan nyawa orang dari kelompok tertentu dengan bunuh diri. 

Hebatnya, saking kuatnya motif ini sehingga bisa meyakinkan para pelaku untuk nekat meledakan diri di tempat-tempat umum. Bukan hanya dirinya yang menjadi korban, tetapi juga orang lain. Sama seperti kasus bunuh diri di FB. Bukan hanya pelaku yang menjadi korban, tetapi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mereka menjadi korban beban perasaan karena menyaksikan orang yang mereka cintai mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak diduga.

Namun, mungkin kita juga mesti berpikir mengapa pikiran-pikiran sesat ini gampang terserap dan masuk ke dalam benak para pelaku. Untuk ini, kita membutuhkan penyelidikan yang menyeluruh tentang para kehidupan pelaku yang bunuh diri. Namun di balik ini semua, kita mesti selalu berusaha menjawab tentang bagaimana kita melihat hidup harian kita.

Kalau kita pahami dari kaca mata agama, tentunya hidup ini adalah anugerah dari Allah. Karena ini anugerah maka kita mesti bersyukur kepadaNya. Syukur ini mesti terejahwantah lewat tanggung jawab dalam memaknai hidup itu sendiri.  Tanggung jawab itu menyata lewat perhatian terhadap diri seperti menjaga kesehatan, menghargai badan yang kita miliki, dan yang paling utama menjaga hidup itu sendiri. Ingat, kehidupan ini hanya sementara waktu. Meski kita tidak melakukan tindakan bunuh diri untuk mengakhiri kehidupan kita, toh pada akhirnya kita akan bertemu dengan ajal kita. Hidup ini pasti berakhir. Sebagai tanggung jawab, kita tidak mengakhiri hidup kita dengan cara yang salah. Sebaliknya, kita jaga hidup kita sampai waktunya tiba.

Pelaku bunuh diri mungkin hanya melihat hidup ini seperti “barang. Karena hidup ini diibaratkan seperti barang yang kadaluarsa dan tidak berguna, maka hidup ini bisa diakhiri dengan cara apa pun dan kapan pun. Pandangan ini juga melahirkan pikiran bahwa hidup itu hanya untuk senang-senang. Salah mengartikan istilah keren “enjoy life.” Para pelaku mungkin beranggapan bahwa penderitaan dan tantangan bukanlah bagian dari hidup. Rasa sakit dan kecewa mestinya tidak boleh terjadi. 

Tantangan tidak boleh berlangsung lama. Yang boleh ada adalah rasa bahagia terus menerus. Bila situasi ini tidak tercapai, kerap muncul rasa kecewa, stress dan marah. Kalau tidak terkontrol ini berujung dengan jalan yang ceroboh seperti bunuh diri. Bunuh diri muncul karena pelaku menganggap hidup ini seperti barang biasa yang bisa dilenyapkan begitu saja.

Tindakan bunuh diri menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu memaknai hidup kita secara positif. Kita hidup bukan hanya untuk senang-senang. Hidup kita bermakna bukan karena kekayaan, posisi dan status sosial. Tetapi hidup kita menjadi bermakna saat kita menerima kesuksesan, kegagalan dan persoalan hidup dengan tangan terbuka. Persoalan dan tantangan hidup akan selalu menemani kita. Tinggal sekarang adalah keberanian dan keterbukaan kita dalam menghadapi setiap peristiwa di dalam kehidupan kita masing-masing.

Untuk apa kita hidup? Kita hidup bukan untuk bunuh diri tetapi kita hidup untuk memaknai setiap peristiwa yang kita jumpai setiap hari.***