Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menyikapi Virus Corona Perlu Belajar dari Jepang, Bukan dari Hoaks

5 Februari 2020   08:03 Diperbarui: 5 Februari 2020   18:38 1451 14 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyikapi Virus Corona Perlu Belajar dari Jepang, Bukan dari Hoaks
An inside view on the hospital on Feb. 2. STR, AFP via Getty Images

Berita hoaks ikut mewarnai penyebaran wabah virus corona. Jadinya, kita seolah sedang berhadapan dengan dua virus sekaligus. Virus Corona dan virus berita hoaks tentang virus corona.

Berita hoaks juga terlihat berbahaya. Karena berita hoaks tentang virus corona, beberapa orang merasa dirugikan. Sebagian besar orang merasa cemas dan mempunyai pandangan yang salah.

Salah satu pihak yang paling dirugikan dari berita hoaks adalah mereka yang melekat dengan label Cina.

Ini terjadi di salah satu provinsi Abra, bagian utara di Filipina. Provinsi ini ratusan kilometer dari kota Manila. Butuh tujuh sampai delapan jam dari provinsi itu ke kota Manila.

Menurut berita di TV dan media massa, dinas kesehatan di kota Manila telah menemukan kasus yang berhubungan dengan virus Corona.

Sontak saja, hal ini menjadi buah bibir banyak orang di Filipina. Media sosial juga tidak luput memberitakan hal ini.

Persoalannya, saat berita itu sudah dibumbuhi dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan fakta. Jadinya, yang tersebar adalah aneka berita hoaks yang menimbulkan kecemasan dan merugikan pihak-pihak tertentu.  

Hal ini terbukti dari dua pusat bisnis di provinsi Filipina tersebut. Seorang ibu berkisah mengenaik dampak berita hoaks tentang virus corona pada dua pusat bisnis di provinsi itu.

Karena pengaruh berita hoaks yang menyebar di media sosial, kedua pusat bisnis itu menjadi sepi. Padahal setiap hari, kedua tempat itu dibanjiri oleh banyak orang karena harganya murah meriah.

Namun situasi berubah saat berita hoaks hadir. Berita hoaks ikut mempengaruhi bisnis kedua bisnis itu. Padahal belum ada bukti dan kasus yang mengarah pada virus Corona. Apalagi letak provinsi itu dengan kota Manila berjauhan.

Sikap segilintir orang tentang virus Corona kadang berlebihan dan tidak bijak. Menyikapi tentang virus Corona, kita mungkin perlu belajar dari aksi yang dilakukan oleh pemerintah Jepang.

Sikap Jepang terhadap virus Corona mendapat sanjungan dari banyak orang Cina. Salah satu sebab dari sanjungan rakyat Cina kepada pemerintah Jepang karena negara Samurai ini mendonasikan 1 juta masker ke kota Chendgu dan 30.000 masker dari kota Oita, Jepang ke kota Wuhan.

Donasi 1 juta masker ini mendapat perhatian dunia media sosial. Hastag #Japan sends 1 million face masks to aid Wuhan# dilihat oleh 500 juta kali di salah satu media sosial Cina, Weibo (qz.com 4/2/2020).

Atas sikap Jepang, salah satu juru bicara dari kementerian luar negeri Cina, Hua Chunying, mengatakan kalau itu menunjukkan sebuah persahabatan. Bahkan dia mengatakan relasi antara Cina dan Jepang dengan ungkapan "persahabatan adalah kekal" (frienship is everlasting).

Selain bantuan kemanusiaan, Jepang juga terlihat lebih solider dengan pemerintah Cina. Dalam hal perjalanan penerbangan, Jepang hanya melarang penerbangan dari kota Wuhan dan bagi mereka yang menerbitkan paspor di provinsi Hubei. Jadi, tidak semua orang Cina dilarang berpergian ke Jepang.

Sebaliknya beberapa negara sudah melarang rute penerbangan apa pun dari Cina. Salah satunya, Taiwan yang merupakan tetangga Cina membuat aturan ketat dalam soal travel.

Pemerintah Taiwan dengan tegas dan ketat mengeluarkan larangan travel bagi warga negara Cina. Pemerintah Taiwan juga melakukan pembatasan ekspor masker ke Cina.

Padahal dilihat dari faktor sosial-budaya, Taiwan seharusnya lebih solider dengan Cina yang dinilai sebagai saudara tua.

Jepang menunjukkan sikap sebagai seorang sahabat. Sejarah masa lalu antara Cina dan Jepang diabaikan. Nilai kemanusiaan lebih penting daripada aneka kepentingan politik dan ekonomi.

Pada situasi di mana Cina sedang berjuang menghadapi wabah virus Corona, Jepang berusaha berdiri bersama Cina. Faktor kemanusiaan menjadi perhatian dari Jepang.

Jepang mengajarkan kalau aksi kemanusiaan lebih berharga daripada aneka spekulasi dan berita hoaks di internet. Di tengah krisis yang terjadi, kita mesti belajar untuk saling membantu.

Berita hoaks hanya akan menciptakan persoalan baru. Sebaliknya aksi kemanusiaan dan kebaikan bisa membantu sesama yang berkesulitan. Hal itu juga bisa mengakhiri kemelut yang terjadi.

Hemat saya, berita hoaks bisa dilawan dengan aksi dan perbuatan baik. Semakin banyak perbuatan baik yang dilakukan dan ditunjukkan, berita hoaks pun bisa terbenam di tengah arus kebaikan tersebut.

Gobin Dd

VIDEO PILIHAN