Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Apa Gunanya Skripsi Kita Setelah Kuliah?

4 September 2019   17:13 Diperbarui: 4 September 2019   17:23 266 0 1 Mohon Tunggu...

Saya masih ingat pertanyaan terakhir pada ujian skripsi saya. Pertanyaannya, "apa relevansi skripsi yang saya tulis saat saya terjun ke dunia kerja." Setelah menjelaskan pendapat saya atas pertanyaan itu, dosen penguji itu pun berkata. "Skripsi ditulis bukan sebagai akhir dari kuliah, tetapi itu mesti menjadi bahan lanjut untuk menghadapi dunia setelah berkuliah."

Bagi para mahasiswa, skripsi serupa dengan akhir kisah dalam merengkuh sarjana (S1). Setelah menyelesaikan pengerjaan dan ujian skripsi yang melelahkan, pikiran dan hati terasa ringan dan plong.  Tetapi kalau skripsi belum diselesaikan dan ada pelbagai macam hambatan terjadi dalam pengerjaannya, proses pendidikan di bangku kuliah terasa membebankan. Yah, pengerjaan skripsi dengan tetek bengek kesulitannya menjadi kenangan menarik dari bangku kuliah.

Pertanyaannya, sejauh mana bahan skripsi memberi dampak untuk perjalanan hidup selepas kuliah?

Menjadikan skripsi sebagai salah satu acuan dunia kerja setelah perkuliahan adalah hal yang penting. Dengan ini, skripsi tidak menjadi karya mati. Skripsi tidak dinilai sebagai hal yang formal untuk memenuhi tuntutan dunia perkuliahan.

Sebaliknya, skripsi dijadikan bahan proyeksi bagaimana kita atau para mahasiswa menghadapi dunia kerja. Pada titik ini, skripsi menjadi serupa dengan buku hidup. Apa yang dipelajari dan diolah dalam skripsi menjadi referensi menghadapi dunia usaha.

Tidak mudah untuk menjadikan skripsi sebagai karya persiapan dunia kerja. Hal ini membutuhkan telaan khusus pada dunia kerja atau konteks di mana para mahasiswa akan berlabu. Karena itu, sangat penting untuk mencermati konteks sosial dengan baik agar skripsi kita tidak hanya menjelaskan bahan dan konteks tertentu, tetapi itu juga menjadi referensi dalam membangun konteks sosial.

Hemat saya, ada dua hal agar skripsi kita tetap aktual saat kita sudah memasuki dunia kerja.

Pertama, kita mesti sudah tahu apa prospek kita setelah menyelesaikan bangku kuliah. Tentunya, di saat berkuliah, kita sudah tahu apa yang akan kita lakukan selepas berkuliah.

Salah satu persoalan klasik bagi segelintir tamatan bangku kuliah adalah baru memikirkan pekerjaan apa yang mesti dilakukan sesaat setelah tamat. Atau juga, kecenderungan menilai kalau tidak ada pekerjaan yang cocok di masyarakat dengan pilihan kuliah tertentu. Akibatnya ada kecenderungan meninggalkan daerah asal dan mencari peluang di tempat lain.

Padahal kalau kesempatan kerja dipikirkan semenjak berkuliah, arah dan tujuan berkuliah pun mendapat tempatnya. Skripsi menjadi bahan khusus untuk melakukan penelitian dan lewat skripsi kita bisa melihat kemungkinan yang bisa tercapai di lapangan kerja.

Kedua, tidak boleh melihat skripsi semata-mata sebagai bahan formal untuk memenuhi tuntutan perkuliahan. Pandangan seperti ini adalah sebuah bentuk kesempitan berpikir. Ujung-ujungnya, pengerjaan skripsi hanya ala kadarnya dan agar bisa lulus kuliah. Saat tuntutan itu tercapai, nilai skripsi pun diabaikan.

Seharusnya, skripsi dilihat sebagai kesempatan untuk mengukur proses belajar dan sejauh mana proses belajar itu efektif saat tiba di dunia kerja. Sekali lagi, jadikanlah skripsi untuk mengukur diri kita sebagai  yang berpendidikan dan bagaimana pendidikan kita diaplikasikan ke tengah masyarakat.

Apakah skripsi kita mempunyai relevansi untuk dunia kerja kita? Tantangannya, kita mesti menjadikan skripsi serupa dengan buku hidup yang berharga tidak hanya untuk bangku kuliah, tetapi yang paling penting untuk dunia nyata.***

VIDEO PILIHAN