Mohon tunggu...
Aqil thea
Aqil thea Mohon Tunggu... Jurnalis

Memungut kata

Selanjutnya

Tutup

Politik

Gibran dan Purnomo Masih Cemas, Ini Dua Alasan Mega Belum Umumkan Calon Walikota Solo?

20 Februari 2020   19:39 Diperbarui: 20 Februari 2020   20:03 57 3 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gibran dan Purnomo Masih Cemas, Ini Dua Alasan Mega Belum Umumkan Calon Walikota Solo?
Sumber gambar: Indopolitika.com



Pada hari Rabu kemarin, (19/2/2020), Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan memenuhi janjinya untuk mengumumkan sejumlah nama calon kepala daerah yang akan berkontestasi pada Pilkada serentak, September tahun ini.

Bukan Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum (Ketum) partai berlambang banteng gemuk bermoncong putih, yang mengumumkan nama-nama calon kepala daerah dimaksud.

Melainkan oleh Sekretaris Jendral (Sekjen) partai, Hasto Krisnanto dan Ketua DPP Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto.

Sementara, Megawati Soekarno Putri hanya turut menyaksikan pengumumuman nama-nama calon tersebut, yang berlangsung di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta.

Kalau boleh jujur, tak hanya saya yang menantikan pengumuman dari DPP PDI Perjuangan terkait nama-nama calon kepala daerah yang akan bertarung pada pilkada serentak 2020.

Sejumlah pihak, khususnya para pengamat politik pun kemungkinan besar sangat menantikan hasil pengumuman kemarin.

Kenapa? Karena ada satu daerah yang juga masuk dalam agenda pilkada serentak, yaitu Kota Solo. Cukup menyedot perhatian publik.

Kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah ini cukup menyita perhatian publik. Selain figur-figur yang mencalonkan cukup mumpuni, sebut saja petahana, Ahmad Purnomo (Wakil Walikota Solo) juga ada satu sosok yang boleh jadi pusat perhatian semua pihak. Yaitu, putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.

Sayang, dari hasil pengumuman tersebut ternyata tidak ada nama Kota Solo. Alias, sampai saat ini masih menjadi teka-teki besar, apakah Gibran ataukah Ahmad Purnomo yang direkomendasi Megawati.

Pertanyaannya, kenapa calon dari Kota Solo masih ditunda?

Saya coba mengulik tentang alasan Megawati masih menunda pengumuman calon dari Kota Solo tersebut. Dalam pandangan saya, Megawati musti berhitung ulang sebelum menentukan pilihan.

Setidaknya, ada dua alasan yang membuat putri Presiden pertama RI, Soekarno yang musti ditilik.

1. Ahmad dan Gibran sama-sama berpeluang menang


Menurut saya, Ketum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri belum bisa memastikan siapa yang akan direkomendasikan pada kontestasi Pilkada Solo, karena  kedua "Jago" dari kota batik ini sama-sama memiliki peluang menang yang cukup besar.

Ahmad Purnomo yang kini masih menjabat Wakil Walikota Solo akan dipasangkan dengan Teguh Prakosa adalah kader-kader partai yang sudah berpengalaman dalam dunia politik maupun pemerintahan.

Ahmad saat ini merupakan wakil Walikota Solo. Pun dengan Teguh, pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Solo periode 2014-2019.

Berkaca dari hal ini, tentu saja peluang Ahmad dan Teguh untuk menang sangat besar.

Sementara Gibran, meski pengalamannya dalam dunia politik masih seumur jagung. Tapi, tidak bisa dinafikan, popularitasnya terus merangkak naik seiring dengan aktifitasnya yang terus blusukan paska mendaftar calon Walikota Solo lewat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Tengah.

Gibran juga dikenal oleh masyarakat Solo sebagai tokoh muda yang cukup sukses dalam bidang usaha. Khususnya bidang kuliner.

Namun lebih dari itu, patut diakui bahwa Gibran memiliki kekuatan atau senjata pamungkas yang berpotensi mendongkrak popularitasnya. Kekuatan itu adalah ayahnya sendiri, Presiden Jokowi.

Meski berkali-kali Jokowi  menyatakan, tidak akan ikut campur dalam urusan politik anaknya, tetap saja pengaruh dan nama besar Jokowi sebagai presiden serta pernah begitu dekat dengan masyarakat Solo, tidak bisa dinafikan akan sangat membantu dan memudahkan Gibran mendapat simpati masyarakat.

2. Khawatir Gibran dilamar partai lain

Boleh jadi, kecenderungan Megawati lebih memilih pasangan Ahmad Purnomo dengan Teguh Prakosa yang diberikan rekomemdasi untuk manjadi jago PDI Perjuangan pada Pilwakot Solo 2020 mendatang. Dengan alasan kader militan partai dan berpengalaman.

Tapi di sisi lain, jika rekomendasi itu diturunkan pada pasangan Ahmad-Teguh, timbul kekhawatiran Mega, bahwa Gibran akan terus maju melalui partai lain.

Sejauh ini setidaknya sudah ada tiga partai yang tertarik untuk menjadikan Gibran menjadi jagoannya pada Pulwakot Solo. Yakni, PKS yang sudah sejak awal menawarkan diri, lalu Demokrat dan Gerindra.

Bahkan, dua partai terakhir langsung mendapat restu dari ketua umumnya masing-masing. SBY dari Demokrat dan Prabowo Subianto dari Gerindra.

Jika hal itu terjadi, maka pasangan Ahmad-Teguh akan menjadi lawan dari Gibran. Tentu saja akan mempersempit peluang mereka untuk menang.

Suara kader PDI Perjuangan kemungkinan besar akan pecah jika Gibran menjadi lawannya. Betapapun, tidak sedikit kader dari partai yang dipimpin Megawati ini memihak pada putra sulung Presiden Jokowi.

Kukira, dua hal itu menurut pendapat amatiran saya. Menjadi alasan, kenapa Megawati masih menunda pengumuman calon kepala daerah dari Kota Solo.

Megawati musti benar-benar berhitung untung ruginya. Bagaimanapun, dia tidak ingin jika kursi Wali Kota Solo yang selalu di duduki kadernya harus lepas.

Adapun nama-nama calon kepala daerah dari PDI Perjuangan yang sudah diumumkan adalah sebagai berikut :

1. Pilgub Sulawesi Utara

Olly Dondokambey-Steven Kandouw

2. Jawa Tengah


Sri Mulyani-Aris Prabowo (Klaten)

Sri Sumarni-Bambang Pujiyanto (Grobogan)

Eisti'anah-Joko Sutanto (Demak)

Mohammad Said Hidayat-Wahyu Irawan (Boyolali)

Joko Sutopo-Sriyono (Wonogiri)

Kusdinar Untung Yuni Sukowati-Suroto (Sragen)
Agus Sukoco-Eko Priyono (Pemalang)

Ngesti Nugraha-M Basari (Kabupaten Semarang)

Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu (Kota Semarang)

Arif Sugianto-Rista (Kebumen)

Arief Rohman-Tri Yuli Setyowati (Blora)

Dyah Hayuning Pratiwi-Sudono (Purbalingga)

3. Jawa Barat

Herman Suherman-TB Mulyana Syahrudin (Cianjur)

Ade Sugianto-Cecep Nurul Yakin (Tasikmalaya)

4. Jawa Timur

Ony Anwar-Dwi Rianto Jatmiko (Ngawi)

H.M Sanusi-Didik Gatot Subroto (Malang)

Achmad Fauzi-Dewi Khalifah (Sumenep)

5. Banten


Ratu Tatu Chasanah-Pandji Tirtayasa (Serang)

Irna Narulita-Tanto W Arban (Pandeglang)

6. DI Yogyakarta


Abdul Halim Muslih-Joko B Purnomo (Bantul)

7. Sumatera Selatan

Devi Suhartoni-Innayatullah (Musi Rawas Utara)

8. Lampung


Anna Morinda-Frits Akhmad Nuzir (Kota Metro)

9. Sumatera Utara

Rapidin Simbolon-Juang Sinaga (Samosir)

Lakhomizaro Zebua-Sowa'a Laoli (Kota Gunungsitoli)

Dosmar Banjarnahor-Yanto Sihotang (Humbang Hasundutan)

Hilarius Duha-Firman Giawa (Nias Selatan)

10. Kalimantan Timur

dr. Fahmi Fadli-Sulaiman Eva Merukh (Paser)

Adi Darma-Basri Rase (Kota Bontang)

Ramhad Mas'ud-Thohari Aziz (Kota Balikpapan)

F.X Yapan-Edyanto Arkan (Kutai Barat)

11. Kalimantan Selatan

Syafruddin H. Maming-Andi Rudi Latif (Tanah Bambu)

Aditya Mufti Arifin-Ahmad Rifani Iwansyah (Kota Banjarbaru)

dr. H. Zaiullah Azhar-Zulkipli A.R (Kotabaru)

12. Kalimantan Barat


Rupinus-Aloysius (Sekadau)

13. Nusa Tenggara Barat

Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (Kota Mataram)

H.W Musyafirin-Fud Syaifuddin (Sumbawa Barat)

14. Sulawesi Tenggara

Abu Hasan-Suhuzu (Buton Utara)

15. Sulawesi Tengah

Herwin Yatim-Mustar Labolo (Banggai)

16. Sulawesi Selatan

Tomy Satria Yulianto-HA Makkasau (Bulukamba)

Muh. Basli Ali-Saiful Arif (Kepulauan Selayar)

17. Papua Barat

Demas Paulus Mandacan-Edy Budoyo (Manokwari)

Yosias Saroy-Marinus Mandacan (Pengunungan Arfak)

Rita Terupun-Leondardo Syakema (Kaimana)

Samsudin Anggiluli-Alfons Sesa (Sorong Selatan)

18. Papua

Elisa Kambu-Thomas Eppe Safanto (Asmat)

19. Maluku

Benyamin Thomas Noach-Agustinus Lekwardai (Maluku Barat Daya)

Fachri Husni Alkatiy-Aroby Kelian (Seram Timur)

20. Maluku Utara

Capt. Ali Ibrahim-Muhammad Sinen (Kepulauan Tidore)

Salam

Referensi : sumber

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x