Mohon tunggu...
Dayan Hakim
Dayan Hakim Mohon Tunggu... apaan ya?

do the best GOD do the rest

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Indonesia National Line

23 November 2016   19:04 Diperbarui: 23 November 2016   19:06 0 0 0 Mohon Tunggu...

Nenek moyangku orang pelaut…. demikian lagu yang sering dikumandangkan sejak jaman dahulu kala hingga hari ini. Sejarah mengatakan bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut. Banyak bukti yang menjelaskan mengenai hal tersebut. Dengan perahu phinisi, pelaut Bugis berlayar sampai ke Madagaskar di sebelah barat dan Kepulauan Galapagos di sebelah timur.

Pada jaman penjajahan Belanda, perusahaan pelayaran Koninklijke Maatschappij Paketvaart disingkat KPM merupakan perusahaan pelayaran pertama di Indonesia. Didirikan tanggal 4 September 1888, KPM menjadi perusahaan pelayaran terbesar di Kerajaan Belanda dan perusahaan pelayaran nomor dua terbesar di dunia pada tahun 1940 dengan 146 kapal yg melayani lebih dari 70 jalur yg menghubungkan lebih dari 400 pelabuhan. Pada masa orde baru, perusahaan pelayaran PT Djakarta Lloyd (Persero) menjadi perusahaan pelayaran nasional terbesar di Indonesia  dengan 22 unit kapal, berlayar sampai ke Sidney, Amsterdam, Hamburg, Cape Town dan New York.

Mengulang kejayaan masa lalu maka diperlukan kemauan politik dari Pemerintah RI saat ini untuk membenahi angkutan laut barang. Program Tol Laut Nusantara yang merupakan bagian dari Nawacita merupakan tekad Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia kembali jaya dilaut. Namun hingga kini Program tersebut belum mencapai target yang diinginkan. Poros Maritim Indonesia yang menghubungkan Sabang-Belawan-Batam-Jakarta-Surabaya-Makassar-Bitung-Sorong hingga kini belum juga terbentuk. Program Tol Laut yang ada baru berupa feeder untuk remote area di daerah hinterland. Mimpi membentuk Poros Maritim Dunia yang menghubungkan Auckland-Sidney-Jakarta-London-Amsterdam-Hamburg melalui Terusan Suez masih jauh panggang dari api.

Pembenahan terus dilakukan oleh Pemerintah. Menteri BUMN Rini Suwandi sudah mencanangkan untuk membentuk Perusahaan Holding Pelayaran yang akan mengintegrasikan perusahaan pelayaran nasional seperti Djakarta Lloyd dan Pelni bersama dengan perusahaan pendukung pelayaran lainnya didalam satu manajemen. Namun demikian, konsep tersebut kurang pas terhadap bisnis pelayaran yang memerlukan gerak lincah pengambilan keputusan dalam manajemen. Perusahaan besar berarti birokrasi. 

Sesuai dengan Undang-undang Pelayaran yang secara substansi meminta tiap-tiap perusahaan untuk mengurus perijinan usaha hanya pada satu aktivitas saja. Bahkan beberapa jenis aktivitas pelayaran seperti bongkar muat memaksa perusahaan pelayaran membentuk satu perusahaan bongkar muat di satu kabupaten.

Cara terbaik untuk memperbaiki layanan angkutan laut barang bukanlah dengan menyatukan struktur permodalan didalam satu manajemen melainkan menyatukan aktivitas layanan angkutan laut barang itu sendiri didalam satu manajemen. Bukan membentuk Perusahaan Holding Pelayaran yang diperlukan, namun membentuk Konsorsium Perusahaan Pelayaran lebih diperlukan saat ini. Konsorsium Perusahaan Pelayaran akan menyatukan seluruh rangkaian angkutan barang di laut mulai dari trucking, warehousing, depo container, forwarding, stevedoring, cargodoring, veem sampai ke inspection dan repair. 

Dengan bentuk ini, perusahaan swasta nasional maupun local dapat ikut bergabung di dalam konsorsium. Dengan demikian, posisi tawar perusahaan pelayaran menjadi seimbang dan sederajat menghadapi Pelindo I-IV sebagai pengelola pelabuhan. Tidak seperti saat ini dimana perusahaan pelayaran tidak mampu melawan tindakan sewenang-wenang dari PelindoI-IV.

Meniru konsorsium CMA – CGM yang merupakan gabungan dari APL, ANL, CNC, US Lines, MacAndrews and OPDR, serta Comanav maka perlu dibentuk Indonesia National Line yang bertugas mengintegrasikan layanan angkutan laut barang dibawah satu manajemen. Program aplikasi ICT yang disebut Sislognas yang tengah dibangun Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan PT Telkom akan menjadi cikal bakal terbentuknya Indonesia National Line. Dengan Sislognas, pemilik barang dapat memantau posisi barang yang diangkut. 

Pemilik barang juga dapat berbagi pemakaian ruang container sehingga pengusaha kecil dapat secara rutin mendistribusikan produknya ke daerah target pemasaran dalam skala kecil. Dengan sislognas juga memungkinkan perusahaan pelayaran untuk berbagi ruang di kapal sehingga pemakaian ruang kapal dapat lebih efisien. Tidak ada lagi perang harga, tidak ada lagi kartel angkutan laut, tidak ada lagi masalah dwelling time. Semua dapat dipantau secara on line dan real time oleh pemerintah cq Kementerian Perhubungan.

Indonesia National Line akan menjadi Konsorsium Perusahaan Pelayaran terbesar di dunia yang akan menghubungkan lebih dari 17.000 pulau di seluruh Nusantara dan negeri jiran seperti Malaysia, Filipina, Papua New Guinea dan Australia. Selanjutnya Indonesia National Line bertugas membentuk poros Maritim dunia yang menghubungkan 5 benua dan 7 samudera. Kembalikan kejayaan Maritim Indonesia, Jalesveva Jayamahe.

==rgds/dokday 23/11/2016