Dody Kasman
Dody Kasman Administrasi

"Wong Ndeso" yang bukan siapa-siapa. Twitter : @Dody_Kasman

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Ketika Saya Nonton "Avengers : Endgame" Sendirian

26 April 2019   06:39 Diperbarui: 26 April 2019   09:24 596 4 1
Ketika Saya Nonton "Avengers : Endgame" Sendirian
dokpri

Di penghujung bulan April ini penikmat film sedang dilanda demam "Avengers : Endgame." Sayapun termasuk penikmat film yang ikut terpapar virus film produksi Marvel Studios itu. Alhasil, saya berkesempatan menonton di hari pertama penayangannya tanggal 24 April 2019, jelang tengah malam. 

Bersyukur  di kota kecil seperti Probolinggo akhirnya ada gedung bioskop yang sangat representatif sehingga kami punya kesempatan yang sama dengan para penikmat film di Ibu Kota. Semakin bersyukur karena jarak gedung bioskop tersebut hanya sekitar 3 kilometer dari rumah.

Tapi kali ini saya tak akan membahas tentang cerita apalagi spoiler "Avengers : Endgame."Saya yakin film ini akan sangat banyak direview oleh pemerhati dan penikmat film. Berbagai media pastinya juga berlomba-lomba memberitakan penayangan perdana film ini, bahkan entah sengaja atau masabodo sudah ada yang membocorkan beberapa spoiler secara vulgar.

Tetiba saya teringat pada tanda pagar (tagar) #GerakanNontonBioskopSendirian yang sempat jadi trending di Twitter beberapa waktu lalu. Tagar tersebut pas bagi saya yang malam itu nonton sendirian, tidak bersama keluarga atau sahabat apalagi tetangga. 

Sendirian tentunya bukan seorang diri di dalam gedung bioskop. Sendirian maksudnya, sendiri di tengah ratusan penonton yang nyaris memenuhi kapasitas tempat duduk gedung bioskop jelang tengah malam itu.

tangkapan layar
tangkapan layar

Untuk menghindari antrian panjang, saya memesan tiket secara online sehari sebelumnya. Sengaja saya pilih deretan kursi yang nampak masih ada celah kosong di kanan kiri dan depan. Ternyata saat hari H dan jam J, kanan kiri tempat duduk saya sudah terisi penuh. Bahkan deret depan tempat duduk saya, yang saat order tiket masih kosong, sudah terisi nyaris penuh hingga deret terdepan. 

Hanya tersisa satu saf dari layar yang belum terisi. Kembali saya bersyukur order tiket sehari sebelumnya. Jika pesan hari itu juga, bisa jadi saya kebagian deret kursi yang sangat dekat dengan layar.

Sejak beberapa hari sebelumnya saya memang sudah meniatkan diri menonton Avengers : Endgame" di awal penayangannya sendirian. Meski demikian saya juga sudah berniat sambil berjanji kepada istri untuk nonton lagi bersama keluarga di akhir pekan. 

Bukan sekali ini saja saya nonton sendirian, tentu dengan pemberitahuan kepada istri terlebih dahulu. Menonton satu judul film lebih dari sekali sudah biasa bagi saya, apalagi jika filmnya memang bagus dan sukses membuat baper.

Tentu bukan tanpa alasan mengapa beberapa kali saya nonton film sendirian. Ada pertimbangan mengapa saya tak mengajak keluarga. Di antaranya faktor konten film yang menjadi salah satu pertimbangan untuk mengajak keluarga atau tidak. Tentu saya tak akan mengajak Nia, putri saya, yang masih kelas 1 SMP menonton film untuk orang dewasa. 

Bukan "dewasa" karena konten erotis saja, tapi juga unsur sadistik dan sarkasme yang terlalu vulgar. Istri saya juga tak suka film-film yang terlalu "mikir" dan banyak adegan kekerasan. Pada film-film macam itulah saya bisa menonton sendirian.

Faktor jam tayang dan durasi film juga menjadi pertimbangan sekaligus alasan "permisif" bagi saya untuk menonton sendirian. Seperti saat saya menonton "Avengers : Endgame" di hari pertama tayang jelang tengah malam. 

Begitu tahu kursi yang masih longgar adanya jelang tengah malam, istri  langsung mempersilahkan saya nonton sendirian saja. Apalagi dengan durasi film 3 jam di waktu tayang selarut itu.

Tentang nonton sendirian tentu setiap orang punya pendapatnya masing-masing. Ada yang menganggapnya wajar dan biasa-biasa saja, seperti saya. Ada pula yang menganggapnya aneh nonton sendirian. Untuk ini, semuanya tentu bebas berpendapat asalkan tidak menggangu kenyamanan masing-masing. Toh yang biasa nonton sendirian beli tiket dengan uangnya sendiri, tidak minta dibelikan tiket kepada mereka yang tak biasa nonton sendiri.

Dan bagi saya pribadi, adalah hal yang biasa nonton film sendirian. Bahkan saya sudah terbiasa nonton sendiri sejak masih SMA. Orang tua ketika itu juga tidak mempermasalahkan, sebab uang untuk membeli tiket bioskop saya kumpulkan setiap hari dari sisa uang jajan sekolah. Pun demikian saat kuliah di Malang. Sisa uang makan saya kumpulkan untuk nonton di akhir pekan jika tak pulang ke Probolinggo.

Sempat istri mempertanyakan kebiasaan saya ini dengan nada protes dan sedikit curiga. Setelah dijelaskan beserta alasan yang logis akhirnya ia bisa memahami. Saya juga meyakinkan, tak akan mungkin mencuri-curi kesempatan mengajak "orang lain" nonton di bioskop. Apalagi ada keponakan kami yang bekerja di gedung bioskop satu-satunya di Probolinggo itu. Maka semakin tenanglah ia jikapun saya berangkat nonton film sendirian.

Ada pengalaman berbeda yang saya dapatkan ketika menonton film di bioskop sendirian. Pada konteks tertentu, nonton sendirian membuat saya lebih fokus dan konsentrasi menikmati film secara utuh. Dengan demikian nyaris tak ada adegan dan dialog penting yang terlewati. 

Segenap panca indera seolah ikut masuk ke dalam alur cerita. Indera penglihatan dan pendegaran bisa maksimal menangkap gambar di layar sambil menikmati kejernihan audio kualitas HD yang seolah-olah mengitari tempat duduk kita. Satu hal lagi yang tak bisa dibantah, nonton sendirian jauh lebih irit daripada nonton ramai-ramai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2