Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pelestarian Aset Kereta Api, Mencari Keuntungan ataukah Memberi Manfaat?

26 September 2016   16:20 Diperbarui: 26 September 2016   17:03 536
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Stasiun Kedungjati mirip Stasiun Ambarawa

Cukup menarik berita Kompas cetak, Senin, 26 September 2016 ini. Ditulis di rubrik Nusantara, PT Kereta Api Indonesia tengah mengembangkan lima destinasi wisata berbasis kereta api. Semua destinasi tersebut berupa aset gedung dengan lokomotif, foto, dan beragam benda kuno terkait kereta api dari era tahun 1800-1900.

“Dengan berkunjung ke destinasi-destinasi itu, setiap orang bisa berwisata sekaligus belajar tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia,” ujar Manajer Museum PT KAI Eko Sri Mulyanto saat ditemui di pameran perkeretaapian bertajuk KAI Expo 2016 di Museum Kereta Api Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/9).

Lima destinasi itu, antara lain satu museum sekaligus galeri di Bandung, Jawa Barat, dan empat museum kereta api yang tersebar di empat lokasi, yaitu di Sawahlunto, Sumatera Barat; Bondowoso, Jawa Timur; serta Semarang dan Ambarawa di Jawa Tengah.

Eko mengatakan, dua museum kereta api di Semarang dan Ambarawa sudah ramai dikunjungi wisatawan dengan rata-rata jumlah kunjungan 500 orang per hari. Pada musim liburan panjang bisa menyedot 2.000-3.000 orang per hari. Dua museum lain, Museum Kereta Api Bondowoso dan Sawahlunto, menyedot ratusan pengunjung per hari.

Setiap museum tersebut, menurut Eko, memiliki keunikan dan daya tarik masing-masing. Di Museum Kereta Api Bondowoso, misalnya, benda peninggalan yang diunggulkan untuk dikunjungi wisatawan adalah gerbong maut. Gerbong ini adalah gerbong yang dipakai oleh tentara Belanda untuk membawa orang-orang Indonesia yang menjadi tawanan dari penjara Bondowoso ke penjara Bubutan pada tahun 1947.

Di Museum Kereta Api Sawahlunto terdapat lokomotif uap tertua, Mak Itam, produksi tahun 1800-an. Lokomotif ini menjadi daya tarik wisata yang sangat potensial karena mendatangkan sekitar 1.000 wisatawan mancanegara per tahun.

Awal September 2016 lalu penulis dengar dari Pak Rushdy Hoesein, dokter yang mendalami bidang sejarah, stasiun Manggarai di Jakarta pun sangat bersejarah karena Presiden Soekarno pernah mengungsi ke Yogyakarta dari stasiun ini. Semoga dalam upaya perbaikan stasiun Manggarai menjadi lebih modern, bagian-bagian stasiun yang pernah berperan dalam sejarah tetap dilestarikan. Menurut Pak Rushdy, salah satu gerbong ada di Museum Transportasi TMII.

Menjaga aset

Upaya perbaikan dan pemeliharaan aset perkeretaapian tentu saja merupakan upaya menjaga aset dari kepunahan. Dengan demikian, meskipun semua sarana dan perlengkapan sudah modern, generasi sekarang dan akan datang masih bisa menyaksikan aset perkeretaapian. Menurut penulis, yang namanya museum harus berkesinambungan. Artinya koleksi kekunoan harus berdampingan dengan koleksi kekinian. Jangan sampai koleksi kekunoan justru dimusnahkan karena dianggap tidak sesuai dengan kekinian. Dikabarkan sebagian besar aset yang berasal dari masa kolonial itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Stasiun Tanggung
Stasiun Tanggung
Karena sudah ditetapkan, maka keberadaan aset-aset PT KAI itu dilindungi oleh Undang-undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Undang-undang Cagar Budaya (UUCB) 2010 terdiri atas 13 bab dan 120 pasal. Salah satu bab menjabarkan istilah pelestarian. Dikatakan pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya.

Setahu saya di PT KAI urusan menjaga aset ditugaskan kepada Unit Preservation dan Architecture Design yang disebut juga Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah. Namun banyak orang lebih mengenalnya sebagai Unit Heritage. Di bawah unit itu ada bagian yang mengurusi pelestarian dan permuseuman. Berkat unit itulah Museum Lawang Sewu, Museum Ambarawa, dan Museum Bondowoso bisa bagus seperti sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun