Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis masalah arkeologi, sejarah, museum, budaya, numismatik, astrologi, dan palmistri

Arkeolog mandiri, penulis, bloger, komunitas KPBMI, kolektor, pemerhati (astrologi dan palmistri). Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berbagai Komunitas Urunan Dana untuk Mempercantik Lingkungan Prasasti Besole

14 Agustus 2020   12:16 Diperbarui: 14 Agustus 2020   12:58 31 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berbagai Komunitas Urunan Dana untuk Mempercantik Lingkungan Prasasti Besole
Lingkungan Prasasti Besole, sudah berpaving dan bercungkup (Foto: Doni W.)

Total butuh waktu empat hari untuk mempercantik lingkungan Prasasti Besole. Berita sebelumnya ada [di sini]. Pekerjaan dimulai Sabtu, 8 Agustus 2010. Diawali penurunan pasir dan paving block. Gotong royong lintas komunitas di Jawa Timur, bukan kali ini saja. Sebelumnya juga sudah pernah dilakukan untuk pelestarian beberapa situs arkeologi.

Doni, dari Komunitas Tapak Jejak Kadiri, menjadi motor pembuatan cungkup, paving, dan pagar pelindung Prasasti Besole. Untung juga, pemilik lahan rela dan mengizinkan lahannya, dipakai sebagai lokasi pelestarian prasasti.

Novi Bmw, juga aktivis komunitas yang pernah menjadi pamong budaya, bahu-membahu dengan Mas Doni. Begitu juga Komunitas Asta Gayatri dari Tulungagung, ikut berperan. Dari Yogyakarta, ikut berpartisipasi Komunitas Kandang Kebo. Dari Blitar sendiri ada.

Dana pembuatan cungkup dsb berasal dari urunan atau donasi komunitas/masyarakat. Terkumpul cukup lumayan. Sebagian besar untuk pembelian paving block dan besi.  

Malam terakhir, mereka melakukan kegiatan di area prasasti. Soal sejarah, budaya, dan pelestarian mereka sangat antusias. Selain blusukan situs, mereka pun sering menyelenggarakan sinau aksara Jawa Kuno dan mendokumentasikan tinggalan arkeologi di daerah terpencil.

Bahkan banyak dari mereka pernah mengikuti ekskavasi arkeologi yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Peran mereka untuk menyelamatkan situs-situs arkeologi sangat besar.

Beberapa komunitas di Jawa Timur (Foto: Doni W.)
Beberapa komunitas di Jawa Timur (Foto: Doni W.)
Sejarah panjang

Melihat sejarah Nusantara yang panjang, tidak dimungkiri kalau tinggalan-tinggalan masa lampau memiliki persebaran sangat luas. Sebagian besar belum tampak ke permukaan. Tinggalan-tinggalan itu akan tampak kalau ada aktivitas warga atau pembangunan fisik besar. Pembangunan jalan tol Malang-Pandaan, misalnya, pernah menemukan struktur kuno dari era Kerajaan Majapahit.

Situs-situs di Trowulan yang hendak dirusak, dengan mengambili batu-batu bata kuno, pernah digagalkan komunitas. Begitu pula rencana pembangunan pabrik pada area situs. Beberapa oknum yang sering melakukan penggalian liar, juga sering bentrok dengan komunitas yang peduli masa lampau.

Sebenarnya arkeologi bergerak di beberapa bidang pekerjaan, antara lain pendidikan, penelitian, pelestarian, publikasi, dan advokasi. Beberapa kegiatan bisa dan boleh dilakukan oleh publik.  Saatnya pemerintah mempertimbangkan Dana Alokasi Khusus (DAK) atau dengan nama lain untuk kepentingan publik/komunitas.

Sejak lama banyak usaha telah dilakukan oleh masyarakat karena kesadaran mereka. Bukan karena proyek atau penugasan. Tak segan-segan mereka mengeluarkan tenaga, waktu, dan dana untuk melestarikan atau membumikan arkeologi. Beruntung arkeologi punya orang-orang seperti itu.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x