Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pak Ipe Ma'aroef, Pelukis Sketsa Berusia 81 Tahun

17 Oktober 2019   15:50 Diperbarui: 19 Oktober 2019   13:01 0 4 1 Mohon Tunggu...
Pak Ipe Ma'aroef, Pelukis Sketsa Berusia 81 Tahun
Pak Ipe Ma'aroef dan sketsa wajah saya (Dokpri)

Sejak lama museum dicanangkan menjadi ruang rublik. Artinya siapa saja boleh melakukan kegiatan di museum, tentu dengan syarat dan ketentuan tertentu. Begitu juga Galeri Nasional Indonesia, yang sering disingkat Galnas.

Galnas adalah museum seni yang berlokasi Jalan Medan Merdeka Timur 14. Tepatnya di seberang stasiun Gambir dan di sebelah gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hari ini, Kamis, 17 Oktober 2019, berlangsung acara Kamis Sketsa. Acara itu diikuti oleh umum dan tidak dipungut biaya.

Sejumlah pelukis sketsa muncul di sana. Mereka tampak membimbing beberapa generasi muda yang mengikuti kegiatan tersebut. "Saya ingin meneruskan kuliah di seni rupa," ujar seorang peserta beralasan.

Hampir sepuluh peserta duduk di sana-sini. Mereka melukis sketsa sesuai minatnya. Ada yang melukis jendela dan pintu Galnas. Ada yang melukis tumbuhan dan sekitarnya. Para pembimbing sesekali memberi pengarahan cara menarik garis.

Mas Iwan sedang membuat sketsa (Dokpri)
Mas Iwan sedang membuat sketsa (Dokpri)
Difasilitasi
Menurut Kang Iwa, staf Galnas, kegiatan tersebut difasilitasi Galnas. Kertas dan peralatan membuat sketsa disediakan oleh Galnas. Kegiatan untuk publik seperti itu sudah berlangsung sekitar dua tahun.

Di sela-sela kegiatan, beberapa pelukis saling unjuk kebolehan melukis rekannya. Ada yang memakai pensil, ada yang memakai spidol, dan ada yang memakai tinta cina. Karena sudah terampil, paling-paling mereka membutuhkan waktu sekitar lima menit.

"Biasanya saya mulai dengan bagian mata," kata Pak Ian. Katanya lagi, kalau wajahnya tergolong biasa membutuhkan waktu agak lama. Namun kalau memiliki ciri khusus. Seperti brewok atau dagunya lancip, waktu yang dibutuhkan lebih singkat.

Saya sendiri sempat dilukis Mas Iwan. Tangannya cekatan menggunakan spidol. Mas Iwan menggunakan kertas berukuran cukup besar. Dan eng ing eng...wajah saya dengan kacamata selesai sudah. Terima kasih Mas Iwan.

Tiga peserta mendapat bimbingan (Dokpri)
Tiga peserta mendapat bimbingan (Dokpri)
Ilustrator
Saat kegiatan, muncul Pak Ipe Ma'aroef. Namanya saya kenal sedari kecil. Waktu itu saya berlangganan majalah anak-anak Si Kuntjung. Pak Ipe adalah ilustrator di majalah tersebut.

Ternyata Pak Ipe Ma'aroef bernama lengkap Ismet Pasha Ma'aroef. Ia kelahiran 1938, jadi sudah berusia 81 tahun. Tampak Pak Ipe masih gagah. 

Dari internet saya tahu info bahwa pada awal kariernya Pak Ipe lebih banyak membuat karya-karya sketsa dengan memakai alat alat gambar sederhana yang terdiri dari pena dan tinta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x