Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bangsa Indonesia, Akumulasi Berbagai Proses Migrasi dan Percampuran Genetika

30 November 2018   07:40 Diperbarui: 30 November 2018   08:25 521 0 0 Mohon Tunggu...
Bangsa Indonesia, Akumulasi Berbagai Proses Migrasi dan Percampuran Genetika
Harry Widianto dan majelis pengukuhan (Dokpri)

Bangsa Indonesia yang dikenal sekarang ini merupakan bagian dari bangsa-bangsa penutur bahasa Austronesia dengan mega populasi yang melebihi 300 juta jiwa, menyebar dan menghuni berbagai pulau di hamparan luas Samudra Hindia dan Pasifik. 

Mereka adalah penjelajah dua samudra, para navigator, dan penakluk laut yang perkasa. Ditafsirkan berasal dari Taiwan sekitar 5.000 tahun yang lalu, bahasa Austronesia adalah ibu bahasa mereka. Dalam perspektif biologis, para penutur Austronesia ini termasuk ras Monggolid.

Demikian kata Dr. Harry Widianto dalam orasi pengukuhan Profesor Riset bidang Arkeologi Prasejarah, 26 November 2018 lalu di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan itu merupakan kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia memberi judul orasinya "Migrasi dan Proses Hunian Manusia di Kepulauan Nusantara pada Kala Plestosen-Holosen".

Orasi Harry Widianto (Dokpri)
Orasi Harry Widianto (Dokpri)
Homo erectus

Persebaran manusia di Indonesia dari Kala Plestosen-Holosen menunjukkan adanya empat jenis manusia yang menghuni lingkungan berbeda, dengan periode yang berbeda pula. Mereka juga menunjukkan perbedaan ciri fisik, yaitu Homo erectus yang digolongkan sebagai Manusia Purba  dan Homo sapiens, manusia modern, yang mencakup Manusia Modern Awal, ras Australomelanesid, dan ras Monggolid.

Menurut Harry, Homo erectus merupakan taxon yang paling tua, sejak kedatangan pertama kali di Pulau Jawa pada sekitar 1,5 juta tahun yang lalu dan punah pada 0,15 juta tahun silam. Hingga sekarang, hanya Pulau Jawa yang dikenal sebagai lokus penemuan manusia purba ini. 

Berbagai penemuan terdapat di situs Trinil (Ngawi), Kedungbrubus (Madiun), Ngandong (Blora), Sangiran (Sragen dan Karanganyar), Perning (Mojokerto), Sambungmacan (Sragen), Patiayam (Kudus), dan Semedo (Tegal). "Pada 2004 ditemukan pula jejak-jejak Homo erectus  di Ciamis yang berusia 606.000-516.000 tahun lalu berdasarkan pertanggalan 40Ar/39Ar," kata Harry.

Harry Widianto dan tim pengukuhan (Dokpri)
Harry Widianto dan tim pengukuhan (Dokpri)
Manusia modern

Persebaran Manusia Modern Awal di Nusantara dan Asia Tenggara tidak menghadirkan data banyak. Demikian kata Harry. Akan tetapi spesimen-spesimen dari Wajak (Tulungagung), Moh Khiew (Thailand), Tabon (Filipina), dan Niah (Malaysia) yang berusia 40.000-30.000 tahun silam, dianggap sebagai spesimen-spesimen yang sejajar tingkatan evolutifnya.

Selanjutnya muncul ras Australomelanesid, Homo sapiens yang secara teoretis hidup sekitar 15.000 hingga 5.000 tahun lalu. Hasil penelitian terkini terhadap penemuan di Gua Kidang (Blora), dan Gua Pawon (Bandung) menunjukkan mereka dikenal sebagai penghuni gua sejati. 

Mereka berburu hewan kecil, mengumpulkan moluska, membuat alat batu dan tulang, dan melakukan penguburan dalam posisi terlipat. Data sisa rangka menunjukkan okupasi mereka hingga akhir paro pertama Kala Holosen sekitar 5.000 tahun silam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x