Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

Mengapa Perempuan Hebat Selalu Disamakan dengan Kartini, Bukan Dewi Sartika?

25 Oktober 2017   21:14 Diperbarui: 26 Oktober 2017   05:48 3414 11 7
Mengapa Perempuan Hebat Selalu Disamakan dengan Kartini, Bukan Dewi Sartika?
Seminar tokoh Dewi Sartika (Dokpri)

Coba perhatikan, kalau ada perempuan-perempuan hebat selalu dibilang inilah Kartini-Kartini masa kini atau Kartini-Kartini masa depan.  Tentu kita pernah membaca buku-buku sejarah, paling tidak pernah mendengar Kartini dipandang sebagai tokoh emansipasi. Ia memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan lelaki. Padahal, kita memiliki banyak tokoh perempuan. Sebut saja Malahayati, Cut Nyak Dien, Rasuna Said, dan Dewi Sartika. Setiap tokoh memang sukar diperbandingkan karena masing-masing berkiprah dalam bidang yang berlainan.

Hari ini, Rabu, 25 Oktober 2017 di Museum Kebangkitan Nasional berlangsung seminar tokoh Dewi Sartika.  Ada empat pemakalah dalam seminar itu, yakni Kenny Dewi, Wawan Darmawan, Bondan Kanumoyoso, dan Tengku Azwansyah A. Teruna.

Sakola Istri

Dari presentasi keempat makalah, saya mendapat kesimpulan demikian. Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884. Ketika memasuki usia sekolah, Dewi Sartika memasuki Eerste Klasse School. Sekolah ini dikhususkan bagi kalangan orang Eropa, orang-orang yang dianggap sederajat dengan orang Eropa, dan anak-anak dari kalangan bangsawan Indonesia.

Dari kiri Tengku, Kurniawati (moderator), dan Bondan (Dokpri)
Dari kiri Tengku, Kurniawati (moderator), dan Bondan (Dokpri)

Pada usia sembilan tahun, dalam permainan sekolah-sekolahan Dewi Sartika sering mengajari anak-anak yang lebih muda, belajar membaca dan menulis bahkan sedikit Bahasa Belanda.

Pada 1902 Dewi Sartika membuka sebuah sekolah untuk perempuan di halaman belakang rumah ibunya. Ia mengajar sukarela tanpa meminta bayaran.

Inspektur Pengajaran Hindia-Belanda, C. Den Hammer mendukung upaya Dewi Sartika. Ia pun nmeminta Dewi Sartika untuk membuat sekolah secara resmi. Akhirnya pada 16 Januari 1904 berdiri Sakola Istri. Tempat belajarnya di halaman depan rumah Bupati Bandung. Sakola Istri memiliki slogan Cageur, Bageur, Pinter.

Pada 1910 nama Sakola Istri diganti Sakola Kautamaan Istri. Pada 1929 berganti lagi menjadi Sekolah Raden Dewi. Pada zaman Jepang 1942 menjadi Sekolah Rakyat Gadis.

Pada 1906 Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, yang dalam buku-buku sejarah sering ditulis Raden Agah. Raden Agah meninggal pada 25 Juli 1939, sementara Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947.

Penghargaan

Pemerintah Hindia-Belanda pernah dua kali memberikan penghargaan untuk Dewi Sartika. Pada 1922 ia mendapat Bintang Perak dan pada 1939 mendapat Bintang Emas. Tulisan Dewi Sartika yang berjudul "De Inlandsche Vrouw" (Wanita Bumiputera) dibukukan bersama tulisan lainnya oleh Komisi Penelitian Kemunduran Kesejahteraan. Pada 1966 Dewi Sartika dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Dari kiri Kenny, Endang (moderator), dan Wawan (Dokpri)
Dari kiri Kenny, Endang (moderator), dan Wawan (Dokpri)

Ada satu catatan menarik yang dikemukakan oleh Kenny Dewi, Ketua Umum Yayasan AWIKA (Ahli Waris Pahlawan Nasional Dewi Sartika dan Agah Soeriawinata). Dewi Sartika memiliki prinsip hidup demikian: agar bangsa bertambah maju maka kaum perempuannya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum perempuan itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan.

Universal

Meskipun Dewi Sartika berasal dari Jawa Barat, nama Jalan Dewi Sartika ada di beberapa provinsi. Di Jakarta, Jalan Dewi Sartika ada di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Wajah Dewi Sartika juga terpampang dalam bentuk tanda air  uang kertas dan perangko.

Memang, meskipun sezaman nama Dewi Sartika tidak setenar Kartini. Mungkin karena Kartini sering menulis dalam Bahasa Belanda yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Sebaliknya Dewi Sartika tidak pernah berkorespondensi, meskipun ia pernah menulis Boekoe Kaoetamaan Istri.

Beda lainnya, tulisan Kartini banyak memuat gagasan konseptual, sementara tulisan Dewi Sartika lebih banyak bercorak praktis.***