Mohon tunggu...
Djiwenk
Djiwenk Mohon Tunggu... Tersesat di gurun

Hidup di Arab

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Cerita dari Negri Padang Pasir : "Hati yang Terayak-ayak"

3 Oktober 2019   06:22 Diperbarui: 6 Oktober 2019   05:35 0 2 2 Mohon Tunggu...

Ada begitu banyak cerita tentang kehidupan para TKI baik itu cerita suka dan juga tentang cerita pilu yang dialami oleh para mereka-mereka ini yang konon dipanggil pahlawan devisa. *katanyaaaaa....

Kurang lebih sepuluh tahun saya juga hidup sebagai TKI di arab, memberikan kesempatan kepada saya melihat secara langsung cerita-cerita para TKI ini. Ada yang kemudian pulang ke tanah air dengan kisah sukses berkecukupan secara materi, mendapatkan kesempatan kerja dengan posisi yang lebih tinggi di tanah air tapi tidak sedikit pula yang meninggalkan cerita pilu dari mulai perlakuan kasar majikannya, gaji yang tidak sesuai kontrak, atau cerita pilu lainnya.

Tahun-tahun pertama dulu waktu saya baru sampai disini setiap kali orang arab sini tau kalau saya orang Indonesia selalu bilang ouhh... baru kali ini saya ketemu cowok Indonesia di Bahrain. 

Atau kalau tidak pasti seringnya langsung bersahut ouh... pembantu saya juga dari Indonesia. Terus temen saya yang cewe kadang buat guyonan kalau ketemu pernyataan seperti itu "mungkin gw mirip pembantunya yang kabur kali yeeee?"

Pada awal-awal pengiriman TKI di arab memang kebanyakan perempuan yang bekerja dirumah tangga sampai sekarangpun jumlahnya masih banyak. saya tidak tau kenapa, padahal profesi seperti penjaga building, tukang cukur rambut, penjaga-penjaga toko bakala kayak gitu sebenernya juga dikerjakan oleh orang asing disini yang  umumnya laki-laki dari Asia selatan seperti India, Pakistan, Srilangka ataupun Bangladesh ada juga yang dari Philipina.

Mbak-mbak para TKW di Arab umumnya memang berpendidikan rendah. waktu sebelum adanya moratorium TKW diarab dulu atau waktu banyak-banyaknya TKW Indonesia di Arab dulu, penerbangan dari Jakarta ke Arab atau sebaliknya itu terkenal paling gaduh.

Para cabin crew kadang harus mengeluarkan urat saat melayani mereka ini, dari yang mulai berebut mau masuk atau keluar duluan, lavatory yang tidak tau bagaimana menyiramnya, pernah ada yang tahlilan dipesawat terus suruh berhenti karena penumpang yang lainnya merasa terganggu. Tidak jarang juga  tindakan keseharian mereka itu yang merendahkan mereka sendiri seperti contohnya video TKW Jedah yang pernah viral beberapa waktu lalu.

Sejak gampangnya akses internet dan smart phone saat ini banyak para TKW kita yang saat ini juga mengunakan gadget dalam kehidupan sehari-hari mereka. yang bikin mengernyitkan dahi dan kadang saya ngakak tiba-tiba facebook saya ada friend request yang namanya aneh-aneh. dari nama Mawar berduri, putri perantau dan aneka nama-nama  jadul yang pernah eksis dijaman siaran radio tahun 80 atau 90an dulu.

Teman saya yang kerja dipengiriman uang kadang menerima complain kenapa kok uangnya nga nyampe-nyampe setelah di cek ternyata salah nama.

nama penerimanya ada yang salah Nama propinsi Jawa tenggah ditulis jadi nama penerima atau singkatan nomer rekening yang disingkat jadi Norek dibuat nama penerima, karena  petugas yang bekerja memang orang asing juga kadang orang India, Philipin atau warga negara lain yang tentu tidak familiar dengan hal-hal seperti itu. 

Yang lebih konyol lagi adalah sang TKW yang sedang liburan di Indonesia cuma ngasih nomer rekening ke pacarnya suruh ngirimin uang sang pacar yang orang arab dan pacarnya karena tidak tau nama lengkapnya maka dikasih nama di facebook " Hati yang terayak-ayak" setelah uangnya tidak sampai-sampai akhirnya di cek lagi ditanya namanya siapa? ternyata Tumini.  Oooooalllah mbok muuu........

VIDEO PILIHAN