Mohon tunggu...
Djasli Djosan
Djasli Djosan Mohon Tunggu... Jurnalis

Mantan redaktur dan reporter RRI, anggota Dewan Redaksi majalah Harmonis di Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Palestina, Masalah Islam

18 Desember 2020   15:52 Diperbarui: 18 Desember 2020   15:58 53 1 0 Mohon Tunggu...

Dalam editorial sebuah TV Swasta belum lama ini disebutkan bahwa Palestina adalah masalah politik, bukan masalah agama. Di Palestina terdapat tiga agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Mereka hidup dengan rukun, khususnya yang tinggal di sekitar Baitul Makdis. Pendapat ini harus diluruskan berdasarkan fakta sejarah.

Dr. Muhsin Muhammad Shaleh dalam bukunya 'Fakta dan Prinsip Seputar Permasalahan Palestina' menulis:--- Bangsa yang pertama kali menghuni wilayah Palestina adalah bangsa Kan'an. Mereka datang dari jazirah Arab sejak 4500 tahun yang lalu.Sehingga,  pada  awalnya Palestin disebut  Negeri Kan'an. Bangsa Palestina yang ada sekarang  ini  adalah  anak keturunan bangsa Kan'an yang sebagiannya berasal  dari  keturunan bangsa Timur Laut Tengah atau bangsa Palestina serta kabilah-kabilah Arab yang  berasimilasi  dengan bangsa Kan'an

Atas kesadaran sendiri, mayoritas penduduk Palestina akhirnya memeluk Islam. Dan seiring datangnya Islam ke Palestina, merekapun mulai bersentuhan dan berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka, jadilah Islam sebagai  identitas negeri Palestina terlama sepanjang  sejarah.Dimulai sejak ekspansi  Islam tahun 636 M dimasa kekhalifahan Umar bin Khattab hingga saat ini, meski sejak tahun 1948 sebagian besar penduduknya diusir oleh penjajah Zionis(kaum Yahudi).

Kaum Yahudi  sendiri hanya memerintah sebagian wilayah saja dari Palestina (dan bukan seluruhnya) selama kurang lebih empat abad lamanya (1000-586 SM) lalu mereka sirna sebagaimana hilangnya pemerintahan Asyria, Persia, Fir'aun, Yunani dan Romawi. Bandingkan dengan pemerintahan Islam selama 1200 tahun(636-1917 M), diselingi oleh kekuasan tentara Salib selama 90 tahun.

Kenyataannya, kaum Yahudi dan Islam hidup bersama di Palestina. Sengketa terjadi ketika kaum Yahudi memerdekakan diri dengan nama 'Israel' tahun 1948 menempati wilayah yang lebih luas daripada ummat Islam yaitu 54%. Ummat Islam hanya 45% padahal penganut Islam lebih banyak. Perangpun terjadi  antara  Arab- Israel, berujung dengan kekalahan Arab. Sehingga, kaum Yahudi menguasai 77% wilayah Palestina.

Penduduk Islam di wilayah yang diduduki Israel diusir. Tahun 1967 kembali terjadi perang Arab-Israel  berujung lagi dengan kekalahan Arab, sehingga wilayah Islam yang diduduki Yahudi semakin luas. Yang tersisa sekarang hanya sebagian kecil Tepi Barat  dan Jalur Gaza.Ummat Islam Palestina yang tinggal di dua wilayah kecil ini tidak berdaulat karena diblokade oleh Israel. Sedangkan tempat suci ummat Islam Baitul Makdis sepenuhnya dikuasai Israel. 

Untuk mendapatkan kembali wilayah Arab Palestina yang diduduki Israel harus dengan cara berperang. Siapa berani? Rakyat Arab Palestina tidak punya tentara untuk mengimbangi kekuatan militer Israel. Sedang dua negara utama pendukung Arab Palestina yaitu Mesir dan Yordania memilih jalan berunding dengan membuka hubungan diplomatik masing-masing tahun 1979 dan 1994. Sedangkan Suriah yang tahun 1967 ikut menggempur Israel sedang repot melawan ISIS dan kaum pemberontak.

Dengan jalan berunding, kaum Yahudi semakin leluasa berbuat  sekehendaknya di wilayah pendudukan dengan membangun pemukiman Yahudi. Mereka tidak perduli dengan resolusi-resolusi PBB termasuk menjadikan Yerusalem sebagai ibukota negara Yahudi.

Indonesia sejak awal tidak mengakui keberadaan negara Israel sebagai wujud kesetiakawanan Islam. Jangan terkecoh dengan propaganda Israel seolah-oleh sekarang mereka cinta damai. Negara Israel baru dapat diakui kalau kembali ke wilayah pemukiman Yahudi di Palestina sebelum berdirinya tahun 1948. Ummat Islam Palestina sedang tertindas dan Baitul Makdis berada dalam cengkeraman kaum Yahudi, maka Palestina adalah masalah Islam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x