Mohon tunggu...
Mia Jamila
Mia Jamila Mohon Tunggu... Lainnya - My Cross Stitch

Berusaha untuk mencoba

Selanjutnya

Tutup

Diary

Pertukaran Tentara dan Garis Demarkasi

16 Agustus 2021   06:00 Diperbarui: 16 Agustus 2021   06:01 174 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

m i a Jamila

Kita sering mendengar tentang pertukaran pelajar antar negara, misalnya pertukaran pelajar antara Indonesia dengan Belanda di saat zaman sekarang ini. Beda lagi dengan pertukaran tentara yang suasananya sangat berbeda bisa dikatakan sedikit mencekam ketika masih ada perebutan kekuasaan antara Republik Indonesia dan Belanda diawal Kemerdekaan Republik ini.

Ini terjadi pada bulan April 1947 ketika dua kakak beradik yang masih sangat belia umur nya saat itu, merupakan saksi pertukaran tentara di stasiun Cigombong di atas kereta api antara Bogor dan Sukabumi. Kakak beradik yang ingin mencari sekolah di Sukabumi, naik kereta api dari Bogor dikawal oleh tentara-tentara yang berwajah Belanda atau indo yang penuh selidik kepada penumpang kereta api di daerah yang masih dikuasai Nica atau Netherland Indies Civil Administration.

Kereta api berhenti agak lama di stasiun Cigombong Sukabumi dan tentara-tentara berwajah Indonesia masuk ke dalam gerbong dan menanyakan kepada penumpang maksud dan tujuan ke Sukabumi. Baru disadari oleh kakak beradik itu mereka naik kereta api di dua kekuasaan Nica dan Republik Indonesia.

Apa itu garis demarkasi ?
Daerah tidak bertuan atau bukan daerah siapa-siapa. Garis demarkasi yang ada di daerah perbatasan Republik Indonesia dengan Malaysia, Papua Nugini dan Timor Leste yang merupakan negara bersahabat,  tampak tak seseram yang ada di antara negara Korea Utara dan Korea Selatan. Dua negara secara etnis sama tapi mempunyai faham politik berbeda. Suatu negara dengan faham komunis yang kehidupan politiknya terkekang pasti banyak rakyatnya yang ingin menyeberang ke negara demokrasi, garis demarkasinya akan lebih diawasi.

Di antara daerah Cianjur dan Sukabumi pada tahun 1947 ada garis demarkasi karena pada saat itu daerah Cianjur sudah diduduki oleh NICA sedangkan daerah Sukabumi masih dikuasai tentara Republik Indonesia. Pengalaman tiga orang bersaudara karena kondisi pada saat itu tidak ada transportasi apapun kecuali kereta api tetapi untuk ke Cianjur dari Sukabumi bila menggunakan kereta api harus ke Bogor terlebih dahulu. Perjalanan yang menjadi lebih jauh karena harus memutar.

Pengalaman tiga bersaudara jalan kaki dari Lampegan Sukabumi ke Gekbrong Cianjur yang merupakan daerah perbatasan dikuasai Republik Indonesia dan NICA. Perjalanan yang  melewati daerah perbukitan yang di bawahnya ada terowongan kereta api dan daerah Gunung Padang dimana terdapat situs purbakala.

 Perjalanan kaki tiga bersaudara ini dipandu oleh penduduk setempat yang sudah hafal sekali bila waktunya patroli tentara Belanda akan lewat di daerah Gekbrong garis demarkasi yang siap memuntahkan peluru bila terlihat ada penduduk melewati daerah tidak bertuan,  inilah kesepakatan di garis demarkasi antara tentara RI dan tentara NICA.

Pengalaman tiga bersaudara berjalan kaki ke garis demarkasi pada Juli 1947 yang katanya Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945 belum sepenuhnya terwujud, rasa takut masih menyelimuti akan kembalinya Belanda berkuasa. Semua kisah diatas dapat dibaca di buku Herinneringen yang artinya kenang-kenangan 1934 - 1950 ditulis oleh Aisah Bermawie, seseorang diantara tiga bersaudara saksi hidup yang pernah mengalami melewati garis demarkasi di negerinya sendiri.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 76. Semangat mengisi kemerdekaan ini dengan kebaikan- kebaikan. Salam literasi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan