Mohon tunggu...
Djadjas Djasepudin
Djadjas Djasepudin Mohon Tunggu... Djasepudin, penulis berbahasa Sunda dan Indonesia. Berdomisili di Nanggéwér, Cibinong, Bogor

Djasepudin, penulis berbahasa Sunda dan Indonesia. Berdomisili di Nanggéwér, Cibinong, Bogor

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sastra Sunda dan Cerita Cinta

21 Juli 2019   06:21 Diperbarui: 21 Juli 2019   06:33 0 1 0 Mohon Tunggu...

Sebagai duta dari zamannya, sastra Sunda dari baheula hinggaayeuna umumnya menceritakan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Sunda. Unak-anik seputaran di dapur, di sumur, dan di kasur masih dominan mewarnai jenre puisi dan prosa. Adalah persoalan cinta antarmanusia yang menjadi titik mulanya.

Cinta yang biasa disamakan dengan tresna, asmara, duriat, eceng,atau pulas kayas (pink) dari bihari hingga kiwari jadi pusat inspirasi dan referensi dari pelbagai bidang seni.

Dalam mengekspresikan cinta yang bergelora di pikiran dan jiwa rupa-rupa upaya dilakukan sangkan rasa cintanya bermuara pada yang diimpikannya. Salah satu caranya menumpahkan kegelisahannya melalui karya sastra. Hal itu wajar-wajar saja, sebab pada hakikatnya cinta datang dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Dari pelbagai jenre sastra, baik yang tradisi maupun yang kontemporer, kita akan mudah menemukan cerita cinta jadi tema utama dari masa ke masa. Dari entragan Kis WS, Sayudi, Wahyu Wibisana, Rachmat M.Sas Karana, Usep Romli, Dedy Windyagiri, dan Us Tiarsa saparakanca hingga ke angkatan Etty R.S., Deden Abdul Azis, Rosyid E Abby, Teddy AN Muhtadin, Deni Ahmad Fajar, Lismanah, serta Cucu Nurzaman dan kawan-kawan cerita cinta terus digurit jadi rupi-rupi puisi.

Dari angkatan Daeng Kanduruan Ardiwinata, Mas Atje Salmoen, Soekria-Joehana, Sarif Amin, Ahmad Bakri, Rahmatulloh Ading Afandi, M Rustandi Kartakusumah, Aam Amalia, Abdullah Mustappa, Pipit Senja, Holisoh ME, Tatang Sumarsono, Cecep Burdansyah, Godi Suwarna, Hadi AKS, hingga ke angkatan Darpan, Dede Safrudin, Hermawan Aksan, Dadan Sutisna, Dhipa Galuh Purba, Deni Hadiansyah, serta Dian Hendrayana saparakanca cerita cinta terus-terusan direka dalam wadah prosa.

Sejatinya, cerita cinta dalam khasanah kebudayaan Sunda tidak hanya terdapat dalam carita pondok(carpon), novel, atau sajak Sunda. Dalam seni pantun, wawacan, dongeng, longser, wayang golek, reog, sisindiran, atau pop Sunda cerita cinta kerap jadi menu utama dalam tiap temanya.

Membaca catatan cerita cinta dalam sastra Sunda bisa bermula dengan membaca judulnya. Bukankah judul cerita merupakan gerbang atau wakil dari keseluruhan cerita yang diusung para pengarang.

Dalam dangding atau tembang Sunda, cerita cinta umumnya banyak dieksplor dalam pupuh asmarandana.Asmarandana dalam kirata (dikira-kira nyata) basa Sunda berasal dari kata 'smara' yang berarti asmara, duriat, atau birahi, dan 'dahana' yang berarti api. Karenanya, oleh para pengarang Sunda, kata 'asmara' banyak dijadikan judul guna mewakili kandungan cerita yang direkanya.

Judul-judul tersebut di antaranya 'Asmaramurka jeung Bedog Si Rajapati' karya Ahmad Bakri, 'Asmaranala' karya Yoseph Iskandar, 'Asmaranirca' karya Fitri Sulastri, 'Asmarandana Okey' karya Aam Amilia, atau 'Asmarandana Kabeurangan' karya Dede Safrudin.

Meski kesemuanya memakai judul yang nyaris sama, 'asmara,' namun dalam kandungan karyanya memiliki ciri yang mandiri. Perjalanan cinta yang diceritakan Ahmad Bakri dalam novel 'Asmaramurka jeung Bedog Si Rajapati' mengambil latar perkampungan, dengan tokoh utama 'Amin.' 

Lazimnnya jajaka desa, Amin pun bersikap nyantri. Sayang, karena cintanya layu sebelum berkembangparipolah Amin jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan Amin kungsi jadi 'tamu' Si Boyoh dan Si Asihubrug atau pealcur kampung yang sering turun meronggeng.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3