Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Freelancer - Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Wisata Lokal Mulai Menggeliat, Kapan Wisata Dalam Negeri?

6 Juli 2020   16:16 Diperbarui: 6 Juli 2020   16:17 104 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Wisata Lokal Mulai Menggeliat, Kapan Wisata Dalam Negeri?
Koteka Kompasiana (Sumber: facebook.com)

Hari Sabtu malam kemarin tanggal 4 Juli 2020 Koteka mengadakan silaturahmi online  untuk pertama kalinya pada masa pandemi Covid-19 ini. Situasi yang tidak memungkinkan untuk travelling offline membuat kita para penggila jalan-jalan pening memutar otak bagaimana caranya agar tetap bisa beraktivitas setelah PSBB dilonggarkan dan new normal mulai diterapkan.

Pertemuan ini dihadiri oleh admin dan beberapa anggota grup FB Koteka yang dimulai pukul 19.30 malam hingga 20.20 malam. Maklum masih menggunakan zoom gratisan, jadi belum bisa berlama-lama walaupun bisa saja disambung kembali. Setiap peserta bercerita kondisi di daerah masing-masing, apakah sudah mulai normal dan bagaimana kondisi pariwisatanya.

Obrolan dibuka oleh mbak Gana, sang ketua Koteka seumur hidup yang menceritakan kondisi di Jerman setelah bisa kembali berjalan-jalan. Kebetulan saat sedang zoom beliau sedang bertamasya di Mannheim, dan menceritakan bahwa di Jerman kondisi sudah kembali 'normal' seperti sediakala. Sebagian orang sudah tidak lagi peduli covid-19, di luaran banyak juga yang tak bermasker. Pengawasan sudah tidak terlalu ketat di luar ruangan, kecuali di dalam ruangan yang masih diperiksa suhu dan wajib bermasker ria.

Jerman sendiri sudah tak lagi memberlakukan tes massal untuk pencegahan covid-19 karena kasus sudah mulai menurun, kecuali bagi mereka yang hendak pergi ke luar negeri. Pergerakan di dalam negeri juga sudah mulai bebas, terbukti mbak Gana sendiri sudah jalan-jalan ke luar kota agak jauh dari rumahnya. Wisata sudah mulai menggeliat, orang-orang juga sudah mulai nangkring kembali di kafe-kafe walau tetap harus mengikuti protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan cuci tangan serta bermasker.

Dari Lombok hadir mbak Naniek yang juga menceritakan kondisi wisata lokal yang sudah mulai ramai. Beberapa pantai sudah dibuka kembali seperti Kuta dan Senggigi, bahkan Gili Trawangan (konon) tetap beraktivitas meski masa pandemi covid-19 sedang dalam puncaknya. Hanya desa Sembalun di kaki Gunung Rinjani yang masih tertutup dari wisatawan karena dikhawatirkan membawa virus ke zona hijau tersebut. Sementara bule-bule juga sudah mulai terlihat di beberapa spot wisata. Entah bagaimana caranya bisa sampai ke Lombok, atau memang terjebak pandemi, entahlah.

Namun sebagian besar hanya wisatawan lokal yang beramai-ramai memenuhi tempat wisata. Wisatawan dalam negeri alias domestik justru malah belum tampak batang hidungnya. Bisa jadi karena aturan harus rapid tes di bandara maupun pelabuhan membuat wisdom keberatan karena biayanya yang mahal dan masih enggan untuk berwisata ke Lombok. Seharusnya pemerintah tanggap dengan mencabut ketentuan tersebut, diganti dengan kewajiban penggunaan face shield dan masker serta tetap menjaga jarak dan cuci tangan dan diawasi dengan ketat pelaksanaannya.

Kemudian mbak Sri Subekti alias Dinda Pertiwi hadir menceritakan pengalaman di Kudus yang masih dalam kondisi darurat menuju ke new normal. Situasi di sana walaupun secara lokal sudah normal namun beberapa obyek wisata seperti Gunung Muria masih sepi pengunjung. Tampaknya kewajiban karantina masih membuat orang luar enggan untuk datang ke Kudus kecuali bertandang ke rumah sanak saudara saja. Mbak Sri juga mengingatkan untuk menunda dulu jalan-jalan ke daerah Muria dan sekitarnya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya sendiri menceritakan kondisi Jakarta yang sudah normal seperti sebelum pandemi. Kemacetan sudah terjadi terutama di pinggiran kota, aktivitas warga juga sudah berjalan normal. Warga sendiri sudah mulai meramaikan Puncak dan Bogor serta obyek wisata di sekitar Jakarta lainnya. Hanya mal-mal masih agak sepi karena ketatnya pengawasan membuat orang malas berkunjung. Kafe-kafe sudah ramai pengunjung, taman dan CFD juga mulai ramai pesepeda dan orang-orang berolahraga walau sempat dilarang oleh Pemprov DKI.

Ada juga mbak Nuty yang hadir menyimak pengalaman teman-teman seperti yang telah diceritakan di atas. Selain itu juga ada bang Kevin menyusul sebentar untuk memantau aktivitas Koteka yang masih adem ayem saja. Sebenarnya ada dua anggota lain yang ingin bergabung, yaitu bang Taufik Uwieks dan nona Andro Meda W. Lubis, namun terlambat hadir saat acara sudah ditutup. Tak apalah nanti diharapkan hadir pada acara berikutnya.

Kalau boleh disimpulkan, masyarakat sebenarnya sudah sangat-sangat siap menyambut kembali suasana normal seperti dulu, hanya perlu dilengkapi dengan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan atau face shield, cuci tangan, dan jaga jarak. Sementara justru pemerintahnya sendiri masih galau untuk membuka kembali obyek wisata sekaligus menghapuskan ketentuan yang memberatkan wisatawan.  Selama pemerintah masih mewajibkan hal-hal yang memberatkan seperti rapid tes dan surat keterangan sehat, jangan harap wisatawan domestik mau berkunjung ke luar daerah. 

Kalau tidak ada kebijakan baru yang out of the box dari pemerintah, jangan harap pariwisata bisa tumbuh kembali seperti sediakala. Justru efek dominonya yang akan semakin remuk redam akibat tidak adanya kegiatan pariwisata di daerah. Hotel, rumah makan, penyewaan mobil, motor, dan sepeda, tukang jajanan, dan sebagainya akan tutup selama-lamanya bila tidak ada keputusan segera karena sudah terlanjur kolaps.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ekonomi Selengkapnya
Lihat Ekonomi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan