Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ragam Pandangan Masyarakat Terkait Wabah Corona

25 Maret 2020   20:00 Diperbarui: 25 Maret 2020   20:33 428 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ragam Pandangan Masyarakat Terkait Wabah Corona
Pembatasan Sosial di Tempat Duduk (Dokpri)

Dua minggu terakhir sebelum perjalanan dinas dihentikan sementara akibat wabah corona, saya sempat berkeliling beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Sembari survei lapangan sesuai penugasan, saya sempat berbincang dengan beberapa warga masyarakat mulai dari pejabat lokal, supir rental, warung makan, hingga sesama penumpang kereta api. Mereka saya minta memberikan pandangan terkait wabah corona yang saat itu baru saja melanda Indonesia.

Dari pandangan warga di daerah, ditambah dengan percakapan di grup WA yang saya ikuti beberapa hari terakhir ini, saya mencoba menyimpulkan sebagai berikut:

Pertama, kekhawatiran terhadap wabah corona lebih banyak terjadi pada warga kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai karyawan dari level manajer hingga direktur. Mereka takut terjangkit karena sebagian memang sudah memiliki riwayat penyakit berat sebelumnya.

Untuk itu selama masa WFH sebagian membekali diri dengan lebih memperhatikan kesehatan, menjaga pergaulan dengan tidak berkumpul atau bertemu kecuali kondisi mendesak. Sebagian menikmati WFH sebagai liburan di rumah serta menyatukan keluarga yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian.

Kedua, kekhawatiran terhadap dampak ekonomi justru lebih banyak dikhawatirkan oleh para pekerja lepas, wirausaha mandiri, dan masyarakat yang berpendapatan harian serta tergantung pada konsumen, seperti supir taksi, supir rental, warung makan, pedagang makanan keliling, dan sejenisnya.

Penurunan konsumen begitu terasa sehingga mereka terpaksa harus berhemat hingga berhutang sana sini agar tetap bisa bertahan hidup. Mereka malah khawatir dampak ekonomi ketimbang penyakitnya itu sendiri, bahkan ada yang nekat lebih baik terpapar daripada tidak makan karena resikonya sama saja.

Ketiga, kekhawatiran terhadap wabah lebih banyak terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Malang, ketimbang kota-kota sedang dan kecil. Hal tersebut bisa dimaklumi karena di kota-kota sedang dan kecil social distance relatif lebih mudah diterapkan ketimbang kota besar yang sudah penuh sesak oleh manusia dengan berbagai aktivitasnya.

Aktivitas di kota-kota kecil yang sempat saya kunjungi masih berlangsung normal seperti tak ada kehebohan akibat wabah corona. Kegiatan berlangsung seperti biasa walau kewaspadaan mulai ditingkatkan oleh pemerintah setempat. Sebaliknya di kota-kota besar jalanan tampak mulai lengang, aktivitas penduduk mulai menurun dan angkutan umum mulai sepi penumpang. 

Keempat, masyarakat kota besar lebih kepo dan parno terhadap informasi mengenai wabah corona ketimbang masyarakat kota kecil. Sedikit saja info buruk langsung menyebar melalui grup WA tanpa dicek kebenarannya terlebih dahulu.

Sementara warga kota kecil tampak lebih santai walau tetap khawatir juga sebenarnya namun lebih cenderung pasrah mengikuti takdir. Mungkin karena mereka sudah terbiasa hidup sehat dengan tingkat polusi rendah serta masih banyak daerah hijau di sekitar kota tempat mereka tinggal sehingga relatif aman dari virus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x