Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Angka 13 Berubah Jadi Keberuntungan di Sepak Bola

2 Juni 2019   10:22 Diperbarui: 2 Juni 2019   20:54 0 13 8 Mohon Tunggu...
Angka 13 Berubah Jadi Keberuntungan di Sepak Bola
Becker Selfie dengan Piala Champions (Sumber: Reuters)

Mitos angka 13 sebagai angka sial ternyata masih berlaku di dunia modern sekarang ini. Cobalah cek kursi pesawat tidak ada satupun yang bernomor 13, demikian juga dengan jumlah lantai hotel, dan kamar hotel tidak ada yang berakhiran 13. 

Dalam dunia sepakbola, nomor 13 biasanya digunakan untuk bek atau kiper cadangan, tapi bisa juga pemain inti mengingat sekarang penggunaan nomor sudah dibebaskan. Sebut saja Nesta, Maicon, Ballack, dan duo Mueller (Gerd dan Thomas) pernah mengenakan nomor punggung tersebut.

Di sepakbola, angka 13 tidak melulu menjadi angka sial, bahkan malah dianggap sebagai angka keberuntungan. Sebut saja nama Alessandro Nesta dengan setia menggunakan kostum nomor tersebut dan sukses membawa AC MIlan juara Serie A 2003-2004 dan 2010-2011, serta juara Liga Champions 2002-2003 dan 2006-2007. Duo Mueller juga membawa Jerman juara Piala Dunia Tahun 1974 dan Tahun 2014.

Di final Liga Champions edisi 2018-2019, nomor 13 yang dikenakan kiper Allison Becker menjadi kunci kemenangan Liverpool tadi malam. Benar bahwa Salah dan Origi yang mencetak gol kemenangan Liverpool, namun pahlawan sebenarnya adalah Allison yang beberapa kali menggagalkan tendangan nyaris berbuah gol dari Son, Moura, dan Eriksen, dengan total 8 penyelamatan tembakan lawan. Kehadiran Allison, bersama van Dijk membuat Harry Kane dkk. menjadi frustasi dibuatnya.

Sebaliknya Hugo Lloris nyaris menganggur karena jarangnya Liverpool menekan, hanya tendangan Robertson yang berhasil ditip Lloris dan Milner yang tipis di samping gawang, selain dua gol yang diciptakan Salah dan Origi yang mengancam gawangnya. Liverpool benar-benar tertekan malam tadi dengan penguasaan bola hanya 35% saja, berbanding 65% milik Spurs, namun efektif dan efisien pola pergerakannya.

Pertandingan semalam mirip dengan final tahun 2010 dimana Inter Milan yang tertekan oleh Bayern Muenchen justru unggul 2-0 lewat serangan balik yang mematikan ala Mourinho. Sepertinya Klopp memakai jurus Mourinho, bermain pragmatis dengan sesekali menekan gawang lawan, namun disipilin menjaga daerah pertahanan. Virgil van Dijk dkk. tidak membiarkan Son, Kane, atau Moura bergerak bebas walau menguasai lapangan.

Allison menjadi pembelian termahal musim ini seharga 55,5 juta Pound sekaligus menjadi jawaban atas lemahnya pertahanan khususnya sektor penjaga gawang yang sebelumnya digawangi oleh Mignolet kemudian digantikan oleh Karius. Keduanya sering tampil inkonsisten, dimana dalam satu pertandingan menjadi pahlawan namun di pertandingan lain jadi pecundang. 

Blunder Karius pulalah yang menggagalkan Liverpool menggapai gelar juara Liga Champions musim lalu sehingga membuat Klopp harus mencari kiper baru yang sangat tangguh.

Harga yang pantas dibayar karena prestasi Allison sebelumnya yang menjadi Serie A Goalkeeper of the Year saat membela AS Roma, dengan 17 clean sheet di Serie A dan 5 di Liga Champions. 

Mahalnya pembelian tersebut dibayar lunas dengan sedikitnya Liverpool mengalami kebobolan musim ini, hanya 22 gol saja, paling rendah sepanjang sejarah Liverpool sejak kasta tertinggi Liga Inggris berubah nama menjadi Premier League musim 1992-1993. Kehadiran Becker membuat Karius terpaksa dipinjamkan ke Besiktas dan Mignolet menganggur, hanya dua kali bermain di ajang Piala Liga dan Piala FA.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2