Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Counter Attack, Titik Lemah Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf

12 Oktober 2018   14:23 Diperbarui: 12 Oktober 2018   15:09 680 0 0
Counter Attack, Titik Lemah Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf
Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin (Sumber: merdeka.com)

Rasanya kurang fair juga kalau hanya mengulas kelemahan salah satu capres tanpa mengulik juga capres lain yang turut berkontestasi dalam pilpres mendatang. Dengan metode pengamatan yang sama selama beberapa minggu terakhir, dimulai dari merebaknya kasus Ratna Sarumpaet hingga hari ini serta memperhatikan beberapa kali pertemuan kedua tim di televisi serta berita-berita yang ramai di media, saya coba  ulas juga apa yang menjadi titik lemah tim kampanya Jokowi-Ma'ruf Amin.

Secara umum, kelemahan tim ini terletak pada lebih seringnya menangkis serangan kubu lawan ketimbang membangun citra petahana yang sebenarnya sudah cukup bagus. Bahkan serangan ecek-ecek seperti tempe sebesar kartu ATM, harga makanan di Singapura lebih murah dari Jakarta, dan sebagainya saja ditanggapi dengan serius. Padahal masih banyak isu besar lain yang seharusnya bisa digarap tanpa harus meladeni isu-isu kecil sesaat tersebut.

Ibarat main bola, sekelas tim MU tapi dilatih oleh Mourinho, yang terjadi kumpulan manusia hebat hanya bisa parkir bus dan sesekali melakukan counter attack, sementara lawan sudah sangat paham taktik yang dimainkan Mou sehingga dengan mudah dapat diredam, tidak seperti waktu menangani Chelsea dan Inter Milan. Sekarang Mou tak memiliki plan B untuk membawa MU keluar dari zona papan tengah dan nyaris dipecat, padahal materi pemainnya tak kalah dari rival sebelah City, Liverpool, dan Chelsea yang masih bertengger di tiga besar liga Inggris.

Kembali ke laptop, contoh paling kasat mata terlihat ketika menanggapi kasus Ratna Sarumpaet, ibarat tumbu ketemu tutup, semua tumpah ruah langsung menuding ada konspirasi untuk menjatuhkan pemerintah di balik kasus tersebut. Sepintas argumen yang dibangun cukup masuk akal, tapi seandainyapun benar, belum tentu konspirasi tersebut benar-benar membuat chaos secara fisik. 

Apalagi polisi telah bertindak cepat dan (mungkin) tepat sehingga tak ada keraguan lagi atas penuntasan kasus tersebut. Padahal kasus tersebut murni kecerobohan kubu Prabowo-Sandi dan tidak ada hubungannya dengan kubu Jokowi-Ma'ruf Amin. Kalaupun ada pengaruh tidak terlalu signifikan karena baru sebatas twitwar saja, belum sampai terjadi keonaran fisik.

Lucunya lagi, beberapa kelompok pendukung menginginkan Prabowo didiskualifikasi karena dianggap telah ikut menyebarkan berita bohong tersebut dan ingin menyeret beberapa orang lainnya masuk dalam pusaran kasus tersebut. Tampak sekali dendam akibat Ahok dipenjara gara-gara selip lidah yang harus dibalas setimpal, padahal belum tentu apple to apple, bisa lebih besar atau lebih kecil dampaknya, tergantung hasil penyidikan polisi nanti. Lagipula tak semudah itu mendiskualifikasi peserta pilpres hanya gara-gara ulah segelintir orang saja.

Kemudian juga isu-isu lain yang sebenarnya sudah basi walau tetap harus diwaspadai, seperti isu PKI, masuknya aseng asing dan sebagainya, masih saja ditanggapi serius. Padahal sudah jelas TAP MPRS Nomor XXV/1966 tentang Pembubaran PKI dan Larangan Penyebaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme masih berlaku hingga saat ini, sehingga tak ada yang perlu dikuatirkan. Belum ada bukti otentik, seperti tahun 1965 lalu, ada sekelompok orang membentuk organisasi beraliran komunis secara ilegal dan mempersenjatai dirinya sendiri.

Bicara datapun, saya melihat hanya bu Irma Suryani saja yang masih rajin ngulik data di google, sementara yang lain juga nyaris serupa dengan kubu sebelah, lebih banyak retorika tanpa didukung data dan informasi memadai. Padahal jelas-jelas banyak data berseliweran di dunia maya yang bisa digunakan untuk menjelaskan keunggulan petahana dibanding penantangnya. Sayang narasi yang dibangun hanya berbalas pantun, saling serang tanpa ada pencerahan bagi para pemilihnya.

Selain itu, tim kampanye Jokowi-Maruf Amin juga tampak terlalu pede dengan hasil survey elektabilitas pasangan calon tersebut. Mereka tidak belajar dari kasus Ahok yang memiliki elektabilitas tinggi namun terjerembab di menit akhir karena masifnya isu SARA yang dimainkan kubu sebelah. TIdak ada antisipasi isu-isu apa saja yang bakal digelontorkan lagi dari kubu sebelah untuk menjatuhkan petahana, hanya setelah isu meledak baru dilakukan counter attack. Kalau seandainya kasus Ratna Sarumpaet tidak cepat terbongkar, bisa  jadi tim kampanye Jokowi-Ma;ruf Amin jadi bulan-bulanan lawan.

Kelemahan inilah yang menjadi fokus serangan kubu Prabowo-Sandi untuk terus menerus mengeluarkan isu-isu remeh temeh dan sporadis namun cukup mengganggu kerja tim kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin yang seharusnya sudah berada di depan mengeluarkan narasi kemampuan Jokowi membangun negeri dan melanjutkan pembangunan tersebut hingga tuntas. Selama isu-isu remeh temeh tersebut terus ditanggapi, habis sudah energi tim kampanye sehingga mengabaikan pesan-pesan keberhasilan yang seharusnya ditonjolkan dalam kampanye.

Untuk tetap menjaga elektabiitas tetap tinggi, sebaiknya tim kampanye fokus pada narasi-narasi positif yang telah dihasilkan pemerintah yang dipimpin petahana saat ini untuk dilanjutkan pada periode kedua, dengan sedikit penekanan pada narasi kemungkinan bakal mangkrak bila berganti pemimpin yang belum tentu senada kebijakannya. Segera tinggalkan taktik counter attack berganti dengan total football ala Rinus Michel yang menggemparkan dunia.

Masuknya Erick Tohir seharusnya mampu mewarnai kreativitas tim kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin, namun sepertinya tangan dingin beliau belum tampak terlihat. Para anggota tim kampanya masih tampak jalan sendiri-sendiri, seperti saat melaporkan 17 orang yang diduga menyebarkan hoax Ratna Sarumpaet ternyata bukan kebijakan tim, tapi insiatif perorangan yang bisa jadi malah menimbulkan kontra produktif bagi peningkatan elektabilitas petahana. Jauh berbeda dengan tim kampanye sebelah sudah seperti telepati, kompak dalam mengeluarkan isu-isu remeh temeh yang sporadis namun efektif mengalihkan perhatian tim kampanye petahana.