Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Penguasaan Data, Titik Lemah Tim Kampanye Prabowo-Sandi

11 Oktober 2018   11:52 Diperbarui: 11 Oktober 2018   18:15 3260 16 14
Penguasaan Data, Titik Lemah Tim Kampanye Prabowo-Sandi
Pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Data merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung kampanye pilpres. Dukungan data membuat kita bisa menganalisis dan menyampaikan berbagai hal terkait untuk menunjukkan keberhasilan atau kegagalan suatu program.

Dengan data pula kita bisa menjelaskan sesuatu tanpa keraguan. 

Memang tidak semua data benar 100%, namun paling tidak sumber data tersebut bisa dipertanggungjawabkan apabila ada kesalahan, tidak asal kutip tanpa sumber yang jelas.

Sayangnya, tim kampanye Prabowo-Sandi masih saja mengedepankan persepsi dan emosi ketimbang data dalam menjelaskan suatu persoalan. Mereka masih mudah bereaksi negatif tanpa dukungan data yang kuat, hanya didasarkan katanya dan fakta sesaat. 

Contoh paling kasat mata adalah tertipunya mereka oleh salah seorang anggota tim kampanye mereka sendiri tanpa didukung data yang kuat. Tanpa penyelidikan dan hanya berdasarkan pengakuan mereka langsung konferensi pers tanpa dukungan data yang kuat. 

Akibatnya ketika terbongkar kebohongannya, terpaksa diselenggarakan konferensi pers lagi untuk mengklarifikasi dan meminta maaf setelah telanjur dipermalukan.

Dari kejadian beberapa minggu terakhir, termasuk perdebatan di Mata Najwa semalam, tampak sekali lemahnya penguasaan data yang dimiliki tim kampanye Prabowo-Sandi. 

Misal dalam menjelaskan harga sepiring nasi dan ayam goreng di Jakarta lebih mahal dari Singapura, mereka hanya mengatakan kata Bank Dunia tanpa diikuti dengan data-data yang terukur. 

Jauh berbeda dengan tim kampanye Jokowi-Ma'ruf yang langsung menjelaskan persentase perbandingan harga yang dikutip dari the economic intelligence, Singapura nomor satu harga makanan termahal di dunia. Kemudian hasil survey dari Numbeo menyebutkan biaya makan lebih rendah 61% dari Singapura, harga bahan mentah lebih rendah 31%.

Lalu saat Budiman Sudjatmiko mempertanyakan Prabowo yang menunda pembayaran gaji pada sebagian karyawan pabrik KK, tidak dijawab dengan data oleh Dahnil dan kawan-kawan tapi malah mengalihkan fokus pembicaraan. 

Demikian ketika kasus kebohongan Ratna Sarumpaet yang cukup diselesaikan dengan permintaan maaf, tim Prabowo-Sandi justru mengalihkan fokus pada kesalahan pengangkatan Archandra karena Jokowi "dibohongi" aparat di bawahnya, yang tidak jeli mencek kewarganegaraan beliau sebelum diangkat sebagai menteri.

Dahnil dan dr. Gamal, Tim Kampanye Milenial Prabowo-Sandi (Sumber: instagram gamalalbinsaid)
Dahnil dan dr. Gamal, Tim Kampanye Milenial Prabowo-Sandi (Sumber: instagram gamalalbinsaid)
Jadi ketika diserang kelemahannya, bukan dijawab dengan data dan logika tapi justru mencari kelemahan lawan yang dianggap setara. Akhirnya yang terjadi hanya debat kusir karena masing-masing pihak tak mau mengalah atau mengakui kekurangannya. 

Tim Jokowi-Ma'ruf juga bukan tanpa kelemahan, kadang mereka terlalu pede melihat pencapaian Jokowi tanpa melihat ekses atau dampak yang terjadi akibat terlalu fokus pada percepatan pembangunan infrasturkur. Dan titik itulah yang menjadi umpan untuk diolah menjadi sasaran tembak lawannya.

Bila dibiarkan seperti ini, tentu sangat berat bagi Prabowo untuk merebut hati kalangan swing voters yang kebanyakan merupakan bagian dari generasi milenial. 

Apalagi kalau masih mempertahankan strategi memainkan isu SARA, masyarakat sudah mulai melek hikmah dari pilkada DKI sehingga kurang begitu nendang untuk diangkat kembali, apalagi cawapres Jokowi adalah seorang ulama.

Sudah saatnya tim kampanye Prabowo-Sandi mengedepankan data-data yang dikutip dari lembaga yang kredibel, lengkap dengan angka-angka dan prosentasenya untuk merebut suara swing voters yang tersisa, bukan hanya 'katanya' saja. 

Kalau data pemerintah tidak dapat dipercaya, bisa menggunakan data-data dari lembaga riset dalam dan luar negeri yang sudah terakreditasi dan memiliki kredibilitas tinggi. Tanpa dukungan data yang memadai, jangan harap Prabowo-Sandi bisa memenangkan pilpres tahun depan.

Saya berharap masuknya dr. Gamal Albinsaid bisa memberi warna tersendiri bagi tim kampanye Prabowo-Sandi untuk tidak melulu mengedepankan serangan-serangan kepada petahana yang hanya berdasarkan persepsi dan emosi semata.

Namun lebih ilmiah didukung oleh data-data yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai beliau malah terbawa arus besar di dalam yang masih menyerang pemerintah secara sporadis tanpa tujuan yang jelas.

Bagi penantang, tentu sulit untuk berkampanye dengan menyampaikan kelebihan atau keunggulannya karena memang belum berpengalaman dalam pemerintahan. Sayapun tidak berharap banyak tim kampanye Prabowo-Sandi bakal menyampaikan kehebatan mereka. 

Namun bila masih berkampanye dengan model menguliti kelemahan petahana, dukungan data dengan angka dan sumber yang kredibel mutlak diperlukan agar tepat sasaran, tidak terkesan asal bunyi dan asal serang saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2