Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Dilema Petugas Piket Arus Mudik di Malam Lailatul Qadar

10 Juni 2018   23:37 Diperbarui: 11 Juni 2018   00:00 684 0 0
Dilema Petugas Piket Arus Mudik di Malam Lailatul Qadar
Pintu Tol Palimanan (Dokpri)

Saya dan sebagian besar kita mungkin adalah manusia yang paling beruntung punya waktu luang untuk menikmati malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Apalagi dengan semakin diperpanjangnya jumlah hari cuti membuat konsentrasi untuk i'tikaf di masjid semakin tinggi karena tidak ada gangguan pekerjaan yang harus menanti deadline sebelum lebaran. Semua urusan telah dituntaskan sebelum cuti bersama tiba.

Lain halnya dengan rekan-rekan saya yang bekerja di Kementerian Perhubungan, dan ribuan petugas lainnya yang harus melaksanakan piket justru pada saat libur panjang dimulai. Mereka harus merelakan waktu liburnya untuk bertugas di pelbagai sudut jalan raya baik tol maupun non tol dengan kondisi berdebu serta polusi udara dan panas terik di siang hari, juga dinginnya angin malam menerpa tubuhnya yang bisa membuat orang masuk angin seketika.

Walau bekerja dalam sistem dua hingga tiga shift per hari, namun waktunya dijalankan penuh untuk memantau situasi arus mudik lebaran baik siang maupun malam hari. Teman yang bertugas di siang hari nampak kelelahan di malam hari sehingga harus melewatkan malam Lailatul Qadar karena ketiduran. 

Sementara teman yang bertugas di malam hari juga nyaris tak sempat tarawih, bahkan sahurpun dijalankan di lapangan. Mereka hanya bisa membaca Quran sambil mengatur lalu lintas di jalan dengan tatapan mata tak boleh meleng sedikitpun.

Malam Lailatur Qadar yang seharusnya dilakukan di masjid sambil merenungkan dosa-dosa yang telah diperbuat tak mungkin lagi dilaksanakan oleh teman-teman piket tersebut. Mereka seperti tak diikutkan lomba lari yang berhadiah besar, lebih besar dari usianya sendiri. Padahal keyakinan mereka sama dengan kita, hanya waktu dan penugasan saja yang memisahkan. 

Walaupun mereka akan mendapat jatah cuti setelah lebaran usai, namun tetap saja nikmatnya malam seribu bulan tak tergantikan oleh malam lain di bulan biasa.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap jasa mereka yang telah berkorban waktu dan keinginan untuk menikmati malam Lailatul Qadar. Sudah sepatutnya mereka yang bertugas di lapangan memperoleh pahala yang jauh lebih besar ketimbang kita-kita yang hanya bisa duduk merenungi nasib di sudut masjid sambil membaca Quran hingga waktu sahur tiba. Amal ibadah mereka rasanya jauh lebih berharga bagi masyarakat luas ketimbang kita yang hanya memikirkan nasib kita sendiri di pengadilanNya nanti.

Saya berharap, semoga Alloh memberikan ridhoNya serta pahala yang jauh lebih besar ketimbang hanya menanti malam seribu bulan. Diskresi seperti wanita yang berkelakuan buruk selama hidupnya, namun suatu ketika rasa iba untuk menolong anjing kehausan justru membuka ridhoNya untuk membawanya ke surga. Salam hormat saya kepada rekan-rekan yang bertugas di lapangan selama malam-malam terakhir Ramadhan, semoga amal ibadahnya membuka pintu rahmat Alloh dan ridhoNya untuk surga yang kekal. Amiin.