Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Jangan Beri Angin Surga pada Orang Sakit

11 Januari 2018   21:09 Diperbarui: 11 Januari 2018   21:15 526 2 0
Jangan Beri Angin Surga pada Orang Sakit
Ilustrasi: Shutterstock

Pada dasarnya setiap orang ingin hidup sehat wal afiat tanpa terganggu oleh kehadiran penyakit. Berbagai cara ditempuh bagi orang sakit untuk kembali hidup sehat, baik modern dengan mendatangi dokter atau tradisional melalui bantuan dukun atau paranormal. 

Segala cara diupayakan agar lekas sembuh, kadang tidak peduli berapapun yang harus keluar dan sejauh apapun selama bisa ditempuh akan dijalani.

Di sisi lain kalau kita mendengar ada saudara atau handai taulan sakit, tentu ingin sekali menengok sekaligus memberikan masukan kepada penderita secara LANGSUNG berbagai alternatif pengobatan berdasarkan informasi dan contoh orang yang berhasil sembuh dari penyakit tersebut. 

Misalnya ketika kita menengok penderita stroke, kadang kepikiran untuk menyampaikan informasi bahwa ada tetangga/teman yang sembuh dari stroke setelah terapi ke rumah sakit A, atau ke pengobatan tradisional B, atau diurut dukun C, dan sebagainya.

Saya percaya bahwa niat para penjenguk itu baik, agar si penderita bisa mencontoh keberhasilan orang-orang yang telah disembuhkan melalui berbagai metode tersebut. 

Namun kita sering lupa membaca psikologi orang sakit, bahwa mereka ingin cepat sembuh dengan berbagai cara bahkan seinstan mungkin tanpa berpikir lagi bahwa penyembuhan itu butuh proses dan kesabaran yang panjang. 

Kadang tanpa pikir panjang si penderita langsung minta diantar ke rumah sakit A, atau ke pengobatan tradisional B, atau diurut dukun C.

Akibatnya kita yang mendampingi jadi kelimpungan, baik masalah biaya yang mahal, atau jaraknya yang jauh, atau terpaksa cuti karena harus mendampingi si penderita. Padahal belum tentu pengobatan tersebut cocok atau tepat disematkan kepada penderita. 

Beruntung bila si penderita sembuh, nah kalau tidak, sia-sialah segala upaya yang dilakukan.

Pada dasarnya, apapun jenis pengobatannya, sembuh tidaknya penyakit ditentukan oleh si penderita sendiri, bukan oleh dokter, dukun, atau paranormal. 

Mereka hanya medium yang bisa membantu menyembuhkan penyakit, yang memberikan petunjuk kepada si penderita jalan keluar dari penyakit yang dideritanya. Keuletan dan kesungguhan si penderita untuk sembuh dengan memaksakan diri untuk berubah walau terasa sakit pada awalnya, itulah kunci kesembuhan yang sebenarnya. 

Misalnya ketika diminta untuk menggerakkan kaki kiri secara rutin setiap setengah jam dalam sehari, walau awalnya pasti terasa sakit, tapi kalau dipaksakan lama kelamaan akan kembali sembuh, walau mungkin tidak kembali normal seperti sediakala. 

Jadi sembuh tidaknya penyakit ditentukan oleh si penderita itu sendiri, apakah bisa bersikap disiplin walau harus menahan sakit, atau menyerah terhadap rasa sakit yang menyengat.

Sebagai penjenguk, sebaiknya tidak menyampaikan angin sorga alias informasi penyembuhan penyakit kepada si penderita secara LANGSUNG, tetapi sampaikanlah kepada pendampingnya. 

Biar si pendamping tersebut berembug dengan keluarga dan si penderita untuk memilih bentuk pengobatan mana yang tepat, baik penanganannya maupun biaya dan jarak tempuh ke tempat pengobatan. 

Memberikan informasi langsung kepada si penderita justru sebenarnya malah mendorong penderita masuk jebakan batman daripada menolongnya.