Ekonomi Pilihan

Berselancar di Tengah Riuh Perang Dagang

8 November 2018   15:42 Diperbarui: 8 November 2018   15:49 183 0 0

Perang dagang menggoyahkan stabilitas perdagangan global. Negara-negara berkembang yang menjalin hubungan dagang dengan negara-negara besar berpotensi terkena imbas. Lihat saja sikap Amerika yang mengevaluasi ulang fasilitas GSP dan tarif bea masuk produk baja serta aluminium untuk sejumlah negara.

Bagaimana sikap Indonesia? Dari berbagai upaya yang ditempuh, jelas sekali pemerintah berusaha netral. Sebab AS dan Cina adalah dua mitra dagang utama Indonesia. Perdagangan bilateral dengan kedua negara itu mesti stabil agar pertumbuhan ekspor terjaga.

Beberapa waktu lalu, Mendag Enggartiasto Lukita telah bernegosiasi dengan pemerintah AS agar fasilitas GSP dan tarif bea masuk produk baja tetap diberikan untuk Indonesia. Hasilnya, sejumlah eksportir produk baja dan aluminium menerima pengecualian.

Sekarang giliran Indonesia memperkuat hubungan dagangnya dengan Cina. Pada perhelatan China International Import Expo kemarin, Enggar menemui menteri perdagangan Cina untuk mendiskusikan upaya pengurangan hambatan perdagangan secara bertahap.

Enggar juga meminta agar Cina meningkatkan pembelian komoditas nonmigas dari Indonesia. Ini langkah strategis Enggar untuk mengurangi defisit perdagangan. Permintaan tersebut dipenuhi Cina. Mereka lantas meningkatkan impor CPO Indonesia.

Sejak 2015, ekspor nonmigas ke Cina pun menanjak bertahap. Tahun ini, berdasar data BPS, terhitung periode Januari hingga September 2018, ekspor nonmigas Indonesia ke Cina mencapai USD18,52 miliar. Angka ini meningkat dari realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni USD14,60 miliar.  

Menjaga keharmonisan hubungan dagang dengan negara mitra mutlak diperlukan. Ibarat berselancar, Indonesia memainkan jurus-jurus strategis agar tak terhantam dampak perang dagang. Malah bukan tak mungkin kita dapat menggali potensi peningkatan dan perluasan ekspor dari fenomena itu, dengan mengisi pasar-pasar ekspor yang terganggu.

Pasar ekspor baru pun terus dibuka. Terutama, ke negara-negara nontradisional. Sekaligus pula, Indonesia menjalin kerja sama melalui perjanjian perdagangan yang bakal memberi kepastian kelancaran ekspor.