Mohon tunggu...
Dinda FauziahZahra
Dinda FauziahZahra Mohon Tunggu... mahasiswi

Uinsu

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Konflik Sosial pada Masa Pandemi

14 Agustus 2020   18:13 Diperbarui: 14 Agustus 2020   18:29 69 0 0 Mohon Tunggu...

Menurut Poerwadarminta konflik berarti pertentangan atau percecokan. Pertentangan sendiri bisa muncul kedalam bentuk pertentangangan ide maupun fisik antara dua belah pihak bersebrangan. Sehingga secara sederhana konflik adalah pertentangan yang ditandain oleh pergerakan oleh beberapa pihak sehingga terjadi persinggungan. Konflik yang terjadi membawa pengaruh positif dan negative dikalangan masyarakat, apalagi di masa pandemi covid-19 saat ini pasti banyak konflik yang mengarahkan lebih ke negatifnya.

Konflik bisa muncul pada skala yang berbeda seperti konflik antar orang, konflik antar kelompok, konflik atara kelompok dan negara, dan konflik antarnegara.  Setiap sekala memiliki latar belakang dan arah perkembanganya. Konflik yang bisa dikelola secara arif dan bijaksana akan mendinamisasi proses sosial dan bersifat kontruktif bagi perubahan masyarakat dan tidak menghadirkan kekerasan. Namun dalam catatan sejarah masyarakat dunia, konflik sering diikuti oleh bentuk-bentuk kekerasan, seperti perang dan pembantaian.

Saat inipun banyak terjadi konflik-konflik pada masa pandemic didalam suatu masyarakat, maupun keluarga. Salah satunya konflik yang terjadi di dalam rumah tangga. Dalam masa karantina banyak peningkatan kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan anak yang terjadi secara global dan domestic. Kasus yang di alami perempuan saat ini sangat beragam mulai dari kekerasan fisik, psikis dan seksual. Konflik didalam rumah tangga juga bisa mengakibatkan kearah penceraian dan kdrt, karena selama masa pandemic harus selalu dirumah saja mengakibatkan andanya perbedaan pendapat anatar suami dan istri yang berakhir dengan konflik tersebut. Kemudian ada juga konflik yang terjadi terhadap masyarakat tentang PHK yang dilakukan oleh banyak perusahaan kepada pekerja yang berdampak pada ekonomi mereka yang menurun karena adanya pandemic covid saat ini. Hal ini membuat kemungkinan terjadinya konflik terbuka yang dapat mengarahkan pada kerugian ekonomi massa ke pusat-pusat ekoomi yang memiliki persediaa bahan pokok. Kerusuhan ini mungkin dapat memicu terjadinya pembunuhan dan tindak kejahatan asusila. Selain konflik-konflik diatas masih ada banyak lagi konflik yang terjadi ketika pemeritah membuat anjuran harus dirumah saja.

Kemudian pemerintah membuat sebuah aturan yang baru yaitu “new normal”. Hal tersebut dibuat pemerintah agar masyarakatnya bisa beraktifitas lagi dengan beberapa anjuran yang harus dilaksanakan. Kondisi tersebut dianggap sebagai miniature pola interaksi masyarakat di masa depan. Sebagai akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa kondisi new normal ini akan membawa masyarakat kepada bentuk-bentuk konflik baru.

Kita pada dasarnya tidak perlu terlalu takut terhadap koflik yang akan terjadi di masyarakat. Konflik emang pada dasarnya pasti akan terjadi  dalam interaksi masyarakat. Selama masyrakat berhubungan satu sama lain, niscaya konflik kan selalu ada di dalamnya. Dalam konteks ini konflik akan muncul ketika terdapat suatu interasi dimana terjadi ketidakselarasan tujuan doiantara pihak-pihak yang terlibat. Dan manusia hampir selalu memiliki ketidakselarasan tujuan dengan orang lain Karen pada dasarnya setiap manusia memang unik dan berbeda.

Di sisi lain, konflik pun memiliki fungsi yang positif di dalam masyrakat. Konflik membuat masyarakat untuk bergerak mengatasi stagnasi didalam struktus sosialnya. Akhirnya konflik dapat diarahkan untuk mencapai trobosan-trobosan baru didalam cara manusia mengorganisasi kehidupan sosialnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x