Dina Mardiana
Dina Mardiana karyawati

Saya seorang penulis dan penerjemah, juga pengamat gaya hidup. Blog saya yang lainnya dapat dikunjungi di www.dinamars.net, www.travelkulinerdina.net

Selanjutnya

Tutup

Hiburan highlight headline

Bob, Si Kucing Penyelamat Pecandu Narkoba

21 April 2017   07:05 Diperbarui: 23 April 2017   11:41 1118 14 7
Bob, Si Kucing Penyelamat Pecandu Narkoba
Persahabatan antara Bob, si kucing oranye dengan pengamen jalanan dan mantan pecandu narkoba, James Bowen. (foto sumber: dailymail.co.uk)

Anda penyayang binatang? Mungkin Anda mengenal Lassie, serial drama tentang anjing berbadan besar dengan bulu lebat jenis Rough Collie yang saban seminggu sekali rutin menyapa pemirsa televisi swasta pada zaman tahun 1990-an. Anda juga mungkin tahu film layar lebar Hachiko yang dibintangi Richard Gere dan kesetiaannya pada sang majikan hingga akhir hayatnya mengharu-biru hati para penonton. Ada juga film tentang ikan paus yang diberi nama Willy dan menjadi sahabat setia Jesse sejak kecil hingga ia tumbuh remaja dan naksir seorang gadis. Kisah Free Willy saking larisnya dibuat pula sekuel walaupun tak sesukses film perdananya.


Kini ada juga kisah seekor kucing berbulu oranye (atau ginger cat) yang menjadi sahabat setia seorang pengamen jalanan, sekaligus menyelamatkannya dari kecanduan obat-obatan terlarang. Kucing yang diberi nama Bob ini merupakan kisah nyata antara dirinya dengan James Bowen, yang diangkat ke sebuah buku, dan berjudul sama seperti judul filmnya, A Street Cat Named Bob.

Bob, si Pembawa Keberuntungan

James sering mengajak tos tangan, atau hi-five dengan Bob, sebagai tanda kekompakan keduanya. Foto ini merupakan salah satu adegan dalam film berjudul A Street Cat Named Bob. (foto sumber: hellomagazine.com)
James sering mengajak tos tangan, atau hi-five dengan Bob, sebagai tanda kekompakan keduanya. Foto ini merupakan salah satu adegan dalam film berjudul A Street Cat Named Bob. (foto sumber: hellomagazine.com)
Film berdurasi 1 jam 43 menit ini mengisahkan tentang kehidupan James yang depresi berat setelah perceraian kedua orang tuanya sehingga mencari penghiburan diri dengan mengonsumsi heroin. Akibatnya James tidak diakui sebagai anak oleh ayah kandungnya yang telah menikah lagi, dan hidup terlunta-lunta sebagai pengamen. Makan pun ia sampai mengais-ngais tong sampah karena tidak punya cukup uang untuk membeli kebab seharga tiga poundsterling saja, bahkan tidur pun di jalanan bersama para gelandangan Kota London. Di sini kita menyaksikan sisi lain kehidupan kota metropolitan di Inggris Raya yang biasanya lebih banyak diekspos sisi modernitas dan kemegahannya dengan Big Ben atau Buckingham Palace. London versi James Bowen menyajikan realitas kehidupan yang keras dengan semakin banyaknya gelandangan, pengamen, dan pecandu narkotika. Eropa mulai sekitar zaman tahun 2000-an awal memang bukan lagi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk ditinggali sejak badai krisis ekonomi menghantam, bahkan untuk ukuran Inggris yang terkenal paling kuat mata uangnya.

Beruntung, dokter cantik yang menangani kasus kecanduan pada James, Val namanya (dibintangi Joanne Froggatt), masih peduli padanya. Ia berusaha meyakinkan yayasan sosial bahwa James berkeinginan kuat untuk sembuh agar ia bisa mendapatkan tempat tinggal yang cukup layak. Meskipun tempat tinggal yang dimaksud adalah sebuah kompleks penampungan bagi tunawisma yang rawan dengan kaum pecandu narkoba, setidaknya James mempunyai tempat yang layak untuk tidur dan makan.

Bob pun datang di malam pertama James ‘menikmati’ tempat tinggal barunya, dengan cara yang unik. Sempat dikira maling karena terdengar suara berisik dari arah dapur, James menemukan Bob sedang mengais-ngais kotak kardus berisi keripik sereal yang diberikan Val. Untungnya lagi, James ini berhati lembut (kalau tidak mana mungkin ia membiarkan Bob makan sereal tersebut), sampai-sampai menyediakan mangkuk sereal untuk Bob ditambah sedikit susu pemberian Val. Bob juga dibiarkan menginap dan tidur di ranjang James pada malam yang sama.

Sejak saat itu, Bob seperti tidak pernah mau lepas dari James. Bahkan ketika James pergi mengamen ke Covent Garden, sebuah kawasan turistik di Kota London, Bob mengintilinya hingga naik bus! Namun, siapa sangka, kehadiran Bob justru membawa banyak keberuntungan bagi James. Padahal suara James sebenarnya lumayan, tetapi karena penampilannya yang dekil dan kumal bak junkies membuat orang-orang malas melihatnya apalagi berdiri lama menikmati lagu-lagunya.

Begitu Bob hadir di sisi James, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Orang-orang mulai mendekati mereka, memerhatikan gerak-gerik Bob yang sok cool tapi menggemaskan, mengerumuni James dan Bob hingga membentuk sebuah lingkaran besar, memberinya lebih banyak uang, bahkan menghadiahkan Bob syal serta makanan kucing. Hari demi hari pun dilalui James dengan lebih semangat, dan semakin mempertebal keyakinannya untuk menjauhi heroin serta teman-teman yang kerap membujuknya untuk kembali.

Bob dan James Tak Terpisahkan

Kisah persahabatan antara James dengan kucingnya, Bob, menarik perhatian seorang jurnalis dan editor sehingga diangkat ke dalam sebuah buku memoar yang terjual hingga 1 juta kopi di Inggris. (foto sumber: amazon.com)
Kisah persahabatan antara James dengan kucingnya, Bob, menarik perhatian seorang jurnalis dan editor sehingga diangkat ke dalam sebuah buku memoar yang terjual hingga 1 juta kopi di Inggris. (foto sumber: amazon.com)
Namun, perjalanan James bersama Bob menuju masa depan yang cerah tidak langsung mulus. Layaknya orang yang hendak kembali ke jalan yang benar pasti harus melalui rintangan kerikil maupun batu-batu besar yang tajam. Tempat mengamen James pernah dikencingi anjing yang digiring oleh seorang gelandangan dengan sengaja. James lalu sempat dilarang untuk mengamen lagi dan beralih menjadi loper majalah. Tetapi sebagai loper majalah pun ia harus berurusan dengan loper-loper senior lainnya yang iri melihat James bisa menjual lebih banyak berkat kehadiran Bob. Belum lagi ketika Bob sempat menghilang beberapa hari akibat stres setelah dikerumuni anjing saat keduanya sedang berjualan majalah dan membuat James nyaris jatuh lagi ke jurang narkoba.

Yang mengharukan, meskipun James sempat diomeli oleh Val dan Betty (teman satu kompleksnya) tentang mengapa ia nekat melanggar peraturan, seperti merebut lahan jualan orang atau mengamen diam-diam, semua itu ia lakukan demi tetap memberi makan si kucing kesayangan dengan makanan yang layak. James tidak mau kalau Bob sampai makan tikus atau katak dan serangga lainnya. Duh.. hubungan kasih sayang antara hewan dengan manusia itu seringkali lebih menyentuh, ya 😉.

Kini, James telah hidup berkecukupan bersama Bob. Bahkan kisah hidupnya yang dijadikan memoar laku keras mencapai 1 juta kopi di daratan Inggris Raya. Buku A Street Cat Named Bob juga telah diterjemahkan ke 30 bahasa dan sempat masuk New York Times’ Best Seller pada tahun 2013. Berkat Bob, James telah bertemu dengan orang penting seperti Duchess of Cambridge (gelar untuk Kate Middleton), dan diundang wawancara oleh televisi Jerman.

Duchess of Cambridge (Kate Middleton) menghadiri premiere film A Street Cat Named Bob di Inggris, pada awal Desember 2016 yang lalu. (foto sumber: dailymail.co.uk)
Duchess of Cambridge (Kate Middleton) menghadiri premiere film A Street Cat Named Bob di Inggris, pada awal Desember 2016 yang lalu. (foto sumber: dailymail.co.uk)
James pun mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan organisasi amal terhadap hak-hak hewan dan para tuna wisma seperti Cats Protection, The Blue Cross, The Big Issue Foundation dan Quick Reads. Lalu bagaimana hubungan James dengan sang ayah setelah kehadiran Bob? Semuanya bisa Anda saksikan di film yang dibintangi Luke Treadaway sebagai James Bowen, dan Bob sebagai kucing Bob 😊. Kapan kira-kira masuk ke Indonesia, ya? ***


Tanggal rilis: 3 November 2016
Sutradara: Roger Spottiswoode
Pemain: Luke Treadaway, Joanne Froggatt, Ruta Gedmintas, Anthony Head.
Durasi: 103 menit
Produksi: Stage 6 Films