Mohon tunggu...
Dhiki ArdinHutama
Dhiki ArdinHutama Mohon Tunggu... Penulis

tetap semngat

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Dampak Covid-19 terhadap Ekspor dan Impor Perdagangan Internasional Indonesia

27 Januari 2021   11:24 Diperbarui: 28 Januari 2021   10:56 59 1 0 Mohon Tunggu...

Virus Corona (COVID-19) menjadi topik isu internasional, sehingga sangat mempengaruhi perekonomian dunia termasuk Indonesia. Masalah ini terjadi pada industri pariwisata, karena pemerintah Indonesia melarang sementara penerbangan ke dan dari China serta perdagangan impor dan ekspor Indonesia, terutama buah-buahan dan produk hewani, industri pariwisata mengalami penurunan yang cukup tajam.

Akibat pemberitaan virus corona, pembeli China langsung berhenti membeli. Eksportir buah yang paling "menangis" adalah mereka yang menggunakan program CNF (Cost and Freight / CFR) untuk menjual atau mengirimkan barang atau membayar barang setelah barang sampai di tujuan ekspor. Beberapa orang bahkan mengirim barang ke kapal, tetapi membatalkannya dalam perjalanan.

Tidak hanya impor ke Indonesia, beberapa ekspor Indonesia ke China juga berpotensi melemah. Negeri tirai bambu otomatis akan mengurangi jumlah permintaan. Selain itu, dalam skala global, banyak pabrik di China yang memangkas produksinya akibat penghuninya tidak bisa bekerja akibat virus COVID-19.

Nyatanya, tidak semua produk impor dihentikan produksinya. Kecuali hewan hidup dan buah-buahan, impor elektronik masih beroperasi. Larangan impor itu diadopsi untuk mengantisipasi penyebaran virus corona dari hewan. Pasalnya, tidak hanya pada manusia tetapi juga pada hewan, penyebaran virus yang diyakini telah menewaskan ribuan orang di China.

Mengingat China adalah mitra dagang Indonesia, pemerintah harus benar-benar memperhatikan dampak virus corona ini. Penyebaran virus corona berdampak lambat tapi pasti, terutama bagi perekonomian Indonesia. Sadar bahwa pertumbuhan ekonomi sebagian besar dipengaruhi oleh sektor konsumen, pemerintah akan terus melakukan percepatan belanja berbagai kementerian dan lembaga pada kuartal I tahun 2020.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat ditopang oleh konsumsi yang menyumbang 56% dari total konsumsi. Padahal, konsumsi tidak hanya dipengaruhi oleh makanan dan minuman, tetapi juga oleh pakaian, transportasi, komunikasi, dll. Selain fokus pada belanja kementerian dan lembaga, pemerintah juga akan fokus mengalokasikan bansos agar setiap orang bisa langsung menikmati bantuan tanpa terkena virus corona. 

Pemerintah juga akan terus merevitalisasi destinasi wisata yang ada dengan melakukan bundling paket wisata dan menawarkan harga khusus agar masyarakat mau berwisata. Selain mendorong belanja pemerintah, ke depan belanja padat karya akan didorong untuk kegiatan produksi, dan penyerapan kredit niaga rakyat (KUR) akan dipercepat, seperti menaikkan pagu pendapatan KUR.

Sedangkan per Januari 2020, neraca perdagangan Indonesia defisit US $ 860 juta. Defisit tersebut disebabkan oleh neraca ekspor sebesar US $ 13,41 miliar, lebih rendah dari neraca impor sebesar US $ 14,28 miliar. Dilihat dari nilai impornya, total nilai impor nonmigas dari 13 negara / kawasan pada Januari 2020 sebesar 9,67 miliar dollar AS.

Dibandingkan dengan Desember 2019, angka ini turun 3,14%. Keadaan ini akibat penurunan impor beberapa negara besar, salah satunya China yang turun 3,08% menjadi US $ 125,2 juta. Sementara itu, untuk negara lain, Thailand meningkat dari 14,14% menjadi 104,5 juta dolar AS, dan Australia meningkat dari 26,36% menjadi 86,9 juta dolar AS.

Dulu, virus corona menjadi isu utama yang menarik perhatian dunia dalam beberapa pekan terakhir karena telah menimbulkan banyak korban dan penyebaran virus secara global.

VIDEO PILIHAN