Mohon tunggu...
Dieqy Hasbi Widhana
Dieqy Hasbi Widhana Mohon Tunggu...

Dieqy Hasbi Widhana, lahir di Kota Surabaya dan sekarang tinggal di Jember, 03 November 1989. Suka menulis esai, berpuisi, membaca, berdiskusi, dan fotografi. Sebagian puisinya terbit di Radar Jember, Radar Bromo, Buletin Sastra Pawon, Bali Post, Majalah Ekspresi, Ceritanet.com, indonesiaseni.com. Selain itu beberapa puisinya juga tersimpan di antologi bersama Menjemput Senja (2011), Indonesia Berkaca (2011), Agonia: Antologi Jogja-Jember (2012).Seorang Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Jember, Jawa Timur. Berkegiatan di Lembaga Pers Mahasiswa Sastra Ideas, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Kota Jember, dan Komunitas Seni Babebo[zine]. Email: revolusi.permanen@gmail.com atau hw.dicqey@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pementasa Teater Hipnotika, Kritik Kuasa Media

7 Februari 2014   14:44 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:04 154 0 0 Mohon Tunggu...

Jika anda Islam, Maka anda pasti tahu bagaimana cara memberi sakralitas pada masjid Jika anda Hindu, Maka anda pasti tahu bagaimana cara memberi sakralitas pada Pura Jika anda pecinta teater, Maka anda pasti tahu bagaimana cara memberi sakralitas pada panggung (Halim Bahriz) Kutipan di atas merupakan prawacana yang dimunculkan dari olah vokal Halim Bahriz, Sutradara sekaligus pembuat naskah Pementasa Teater Bertema Hipnotika (23/12), oleh Teater Pendopo Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian, di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, Universitas Jember sebelum pementasan berlangsung. Pementasan berdurasi lebih dari satu jam tersebut disajikan mini kata, akan tetapi kaya akan simbol yang mampu membangkitkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang lain. Di awal pertunjukkan, ada gairah membosankan yang masuk kepada penonton, termasuk saya yang berasal atau ditularkan oleh atmosfer suasana panggung. Serasa sedang menonton kegiatan yang terus-menerus diulang hingga rutinitas itu sendiri kehilangan makna. Rutinitas kosong, tanpa esensi. Sebagaimana kutipan di atas, sang sutradara seolah sedang berkata, kita harus menciptakan banyak hal hanya agar kita sendiri menjadi budak bagi apa yang kita ciptakan. Dengan sorotan sinar lampu bewarna kuning, seorang penari berbaju layaknya penari gandrung tanpa kipas dan dengan mahkota entah dari tarian apa, membaca koran di atas level untuk mengisi prolog. Sementara di sekitarnya seorang badut dan gadis kecil menata letak kursi. Selang beberapa saat penari tadi murka kemudian membakar koran sembari ekpresinya berubah menjadi sinis. Lima pemain menduduki masing-masing kursi. Mereka terbangun layaknya seseorang yang baru saja membuka mata setelah tidur panjang di tempat tidur. Lalu mereka bergegas mengintari pangung secara acak sambil mendorong kursi layaknya trolly, keranjang belanja atau wadah. Sepertinya mereka mencoba mengintegrasikan dirinya ke dalam rutinitas. Namun ketika masuk ke dalam rutinitas, ternyata masing-masing dari mereka dikawal oleh ilmu pengetahuan atau wacana. Dalam hal ini properti kursi yang dibalut dengan sobekan kertas koran bisa dipersepsikan sebagai referensi atau wacana ruang dari tiap aktor. Barangkali properti tersebut bisa mewakili dua hal, yaitu ruang dan basis habitus dari ruang itu sendiri, yaitu koran. Kemudian hadir aktor lain di antara kelima aktor tadi. Dia berinfiltrasi ke dalam panggung dengan memakai baju kotak-kotak merah hitam. Seperti yang dituangkan seseorang dalam forum apresiasi pasca pementasan, itu mewakili atribut Jokowi. Seorang aktor tersebut lantas melempar koran ke penonton. Seperti sedang membagi potongan dari dirinya kepada publik setelah memanifestasikan diri di dalam koran tersebut. Lalu satu-persatu dari kelima tokoh yang mewakili publik dicekoki koran tersebut. Ketika moment tersebut berlangsung, datang lagi si badut yang mewakili sebuah candaan atau lelucon dengan seorang gadis kekanak-kanakan yang bisa dikatakan menaburkan aura permainan, lugu, dan mengasyikkan. Injeksi besar-besaran sedang dilakukan untuk merangsek masuk bukan hanya pada kuliat luar yaitu ruang publik. Namun lebih dari itu, dia masuk pada ruang privat. Dalam artian turut mengonsep bagaimana seharusnya kelima tokoh yang mewakili publik, bertingkah laku dalam kehidupan.

Lima aktor tersebut dipersepsikan oleh sutradara sebagai perwakilan dari beberapa elemen masyarakat. Ada akademisi, pekerja kantoran, pemuda, dan dokter. Masing-masing aktor juga mewakili respon terhadap lima media cetak harian yaitu Surya, Memo, Kompas, Sindo, dan Jawa Pos. Secara sederhana bisa dilihat dari properti yang dipakai, lima media cetak dari perusahaan pers umum.
Anehnya cara membaca dan cara merespon kelima aktor tersebut sama. Entah itu cara memahami atau mendalami dan cara bereskpresi terhadap realitas dalam koran. Saya jadi curiga jika media kekinian meskipun berlainan nama, namun secara konten satu dengan lainnya tak jauh beda. Peristiwa yang mereka kabarkan sama, namun cara mengemas informasi dan cara mendeskripsikan isu bisa jadi berbeda.
Sempat kelima tokoh tersebut secara berulang kali meremas dan membuang koran. Akan tetapi mereka lalu mengambi dan membaca koran itu kembali. Seperti ada rutinitas mutlak yang tak mampu mereka hindari yang telah dirasuki oleh bujukan untuk mengkonsumsi kembali. Jika tidak melakukan hal itu, mereka akan sakhaw. Kelimbungan atau bingung dengan sendirinya. Hingga titik jenuh menyisir klimaks, kelima tokoh mencoba menghindari koran yang telah dia buang. Belum selesai mengatur strategi persembunyian, ternyata mereka kepergok oleh koran itu sendiri.
Ada satu fragmen yang barangkali berada pada titik puncak dari alur pertunjukkan. Di saat seorang penari menghamburkan nuansa erotis dalam gerak dan gestur tubuh. Datanglah seorang aktor laki-laki yang memakai bajuk kotak-kotak sebagai simbolisasi kekuatan partai politik. Laki laki tersebut masuk ke dalam rok penari wanita. Setelah itu mereka berdua menari bersama dengan gerakan yang selaras.
Saya pernah menjumpai tarian tersebut dalam film Opera Jawa. Sebagian kecil yang saya ingat dalam film tersebut divisualisasikan simbol dari perselingkuhan. Bisa jadi pencomotan adegan dalam film tersebut oleh sutradara mempunyai maksud serupa. Namun maksud dalam film mencoba dikontekskan dalam alur dan ide naskah teater Hipnotika. Dalam hal ini perselingkukan bukan lagi antara selir kerajaan dengan para prajurit, akan tetapi antara kuasa perusahaan pers yang mengatur alur hidup kebudayaan masyarakat dengan kepentingan partai politik. Pernah suatu hari saya iseng bertanya kepada seorang tukang becak di daerah Jember. “Siapa presiden Indonesia?” sederhana sekali pertanyaan saya. Kemudian tukang becak tersebut menjawab dengan enteng, “Jokowi.” Saya kemudian terbahak. Si tukang becak pun menunjukkan kepada saya mimik muka kebingungannya. Dalam hal ini sangat mungkin jika media telah berulangkali bertindak untuk melakukan sentralisasi kota manapun bagian dari Indonesia ke Jakarta. Informasi mengenai Jakarta atau khususnya Jokowi secara masif dilempar untuk menerjang pola pikir publik. Sesak sekali, ruang publik banjir sampah.
Hipnotika mencoba mengupas dan menyajikan kepada para penonton, bagaimana pola kerja internal perusahaan pers umum membentuk kuasa. Di dalam pola kerja tersebut terkonstruksi bagaimana cara mengatur publik. Dalam artian perusahaan menskenariokan bagaimana caranya agar konsumen bahagia, menangis, marah, cemas, ketakutan, dan sebagainya. Meskipun pada realitasnya si konsumen itu sendiri tidak menyadarinya. Atau bahkan menyadarinya sebagai ekpresi natural yang lahir dari kehendak dirinya sendiri. Padahal jika ditelaah lebih dalam, respon yang muncul dari kelima aktor terhadap apa yang dia baca, sebenarnya telah digerakkan dari luar dirinya.
Maka dari itu sutradara mengklaim realitas kekinian yang ia rangkum dalam sakralitas pertunjukkan teater tersebut, sebagai era perobotan individu atau konsumen. Publik telah dihipnotis, manusia telah melakukan banyak hal tanpa disadari. Masyarakat telah dikotrol dan digerakkan oleh kuasa perusahaan pers umum. Sederhananya saja, eksternalisasi dari individu itu sendiri akan secara tidak langsung menjadikan individu tersebut sebagai objek. Misalnya saja contoh alat kerja pacul yang diciptakan untuk para petani. Peng-ada-an pacul berdasarkan daya cipta dari manusia. Akhirnya para petani menggunakan pacul tersebut untuk bekerja di ladang. Lama kelamaan, apa yang bisa petani lakukan di ladang tanpa bantuan pacul? Ada banyak kemungkinan, barangkali petani tersebut akan segera membeli, meminjam, atau bahkan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Hal tersebut juga akan terjadi pada pembuat pacul itu sendiri jika dia bertindak menjadi petani. Ada hal yang merisaukan dari ekternalisasi ini. Bagaimana cara pembuat pacul membatasi atau mencegah perbuatan-perbuatan yang akan muncul dari paculnya. Misalnya saja yang paling mengerikan yaitu, ketika pacul dipakai oleh petani untuk membunuh. Bukankah hal tersebut bisa dan sudah seringkali terjadi. Pada akhirnya kita harus sama-sama memahami jika pada akhirnya setiap manusia akan takluk atau tak berdaya terhadap apa yang ia ciptakan sendiri. Sama halnya dengan perusahaan pers. Mereka ada atas dasar kemungkinan mutlak bahwa publik berhak untuk tahu. Memperoleh dan menyampaikan gagasan adalah hak asasi dari masing-masing individu. Maka dari itu konsekuensi dari meng-ada-nya pers umum ialah, menjadikan publik sebagai sasaran utama bagi loyalitasnya. Namun jika orientasi perusahaan pers sudah melampaui fungsi dasar yang menyangkut mengapa dia harus ada. Misalnya saja lebih dekat kepada tokoh politik, kelompok, pemilik perusahaan besar pertambangan yang mengeksploitasi negeri ini, dan sebagainya. Publik jangan diam saja, selain pengawalan, mereka harus melakukan tindakan. Jangan jadi konsumen pasif, jadilah elemen publik yang kritis.[]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x