M. Diaz Bonny Supramono
M. Diaz Bonny Supramono Public Speaker/Trainer

M. Diaz Bonny Supramono is a Personal Growth Enthusiast and Essential Licensed Trainer. His passion in Personal Development is shown by learning from a hundreds of books and absorbing many powerfuls insight from top motivator, such as Ary Ginanjar Agustian, Andy F. Noya, Merry Riana, James Gwee, Tanadi Santoso, Jamil Azzaini, Mario Teguh, Jacky Musry, Ratih Sanggarwati, Indah Sukotjo, Maman Suherman, Antonio Dio Martin, Brili Agung, etc.

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Urgensi Society 5.0 di Era Revolusi Industri 4.0

29 Januari 2019   06:32 Diperbarui: 29 Januari 2019   10:59 7609 8 2
Urgensi Society 5.0 di Era Revolusi Industri 4.0
Ilustrasi: digital-publishing-report.de

Awal pekan ini, beberapa grup Whatsapp saya sedang ramai memperbincangkan sebuah konsep baru yang disebut Society 5.0. Dari pesan yang dibagikan berkali-kali tersebut, diinformasikan bahwa Kantor Perdana Menteri Jepang secara resmi meluncurkan "Society 5.0". Ini merupakan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).

Di dalam konsep "Society 5.0" ini, manusia akan berperan lebih besar dengan mentransformasi big data menjadi suatu kearifan baru yang pada akhirnya meningkatkan kemampuan manusia untuk membuka peluang -peluang bagi kemanusian demi tercapainya kehidupan bermakna.

Masalah Populasi

Saya mencoba perlahan memahami akan konsep ini dan mengapa konsep ini muncul. Dunia sangat memahami bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki jiwa pemenang. Selalu ingin terdepan dalam segala bidang, terutama bidang teknologi. Namun, saat ini Jepang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka pun ingin terdepan dalam hal kemanusian.

Dalam dokumen "Realizing Society 5.0" powered by NewsPicks Brand Design yang saya terima dinyatakan "This is Society 5.0, a super-smart society. Japan will take the lead to realize this ahead of the rest of the world."

Ini merupakan pernyataan yang sangat optimistis dan visioner ditengah dunia berfokus pada Industri 4.0 (Penggunaan Teknologi, Data, dan Automation). Sentuhan humanisme di dalam Society 5.0 akan menjadi modal dasar konsep ini akan diterima oleh masyarakat dunia.

Melihat lebih jauh, konsep Society 5.0 dipicu dengan permasalah serius yang dimiliki Jepang, yakni penurunan jumlah populasi. Laman daring Kompas.com menyatakan saat ini jumlah penduduk Jepang usia produktif berada di angka 77 juta jiwa dan akan berkurang sebesar 70 persen menjadi 53 juta pada 2050. Sedangkan dilain sisi, populasi di atas usia 65 tahun akan meningkatkan sebesar 38,4 persen pada 2065.

Sebuah Perjalanan Panjang

Lifehacker Australia
Lifehacker Australia
Kita bisa mengamini konsep Society 5.0 telah digaungkan oleh Jepang saat ini. Bagi mereka, tanpa bantuan teknologi digital akan sulit untuk melayani dan memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya mengingat semakin sedikitnya jumlah populasi produktif. Kita bisa berimajinasi bahwa Jepang khususnya akan semakin terkenal di dunia dengan memanfaatkan internet of things, big data, artificial intelligence (AI), robot, dan sharing economy plus berfokus pada humanisme.

Society 5.0 ini menjadi sebuah cetak biru dan strategi masa depan yang sangat pas mendobrak kegilaan negara-negara selain Jepang akan Revolusi Industri 4.0. Di tengah banyaknya pekerjaan yang hilang karena otomatisasi dan kapitalisme yang bertepuk tangan dikarenakan efektifitas dan efisiensi bisa diwujudkan, Society 5.0 menjadi angin segar perubahan.

Perlu dipahami juga, bahwa ini merupakan sebuah perjalanan panjang untuk mewujudkannya. Jepang akan menunjukkan pada dunia bahwa Society 5.0 ini akan sukses dan pelan-pelan memasuki negara-negara lain yang saat ini masih dan akan fokus pada Revolusi Industri 4.0.

Kesempatan Baru Untuk Indonesia

Mari kita lihat ke dalam negeri Indonesia. Belakangan ini, masyarakat kita sedang menikmati betapa indahnya transformasi digital. Lihat saja, harga ponsel semakin murah dan biaya internet semakin terjangkau. Kita pun bisa menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana teknologi digital merasuki kehidupan kita saat ini. 

Selain itu, perusahaan digital terus bertumbuh dengan mencetak pekerjaan-pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Tak bisa kita pungkiri, transformasi digital pun menggerus beberapa pekerjaan yang dipandang tidak efektif dan efisien.

Di saat Jepang mengalami defisit populasi, Indonesia justru berkebalikan. Indonesia akan mengalami apa yang disebut sebagai Bonus Demografi pada 2020-2045. Mengapa disebut bonus? Karena pada saat itu angkatan usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 68% dari total populasi dan angkatan tua (65+) sekitar 9%. Setelah tahun 2045 dan seterusnya akan terjadi penurunan dan memasuki era aging society (generasi tua)

The Best Follower

Apa yang menjadi fokus Jepang di dalam Society 5.0 menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi masyarakatnya. Tidak masalah bagi  Indonesia langsung berpijak pada dua kaki, Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Justru kedua momentum ini harus digabungkan menjadi sebuah blue print nasional.

Kita harus menyadari, apa yang Indonesia akan dapatkan tidak dimiliki oleh banyak negara. Tentu kita tidak ingin terlambat dalam menyadari generasi yang terus menua seperti Rusia, Korea, Singapura dan Jepang.

Jika tidak bisa menjadi terdepan, menjadi pengikut terbaik pun menjadi pilihan tepat bagi Indonesia. Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Walaupun demikian pastinya kita bisa menjadi bangsa yang sangat optimis dan mampu menikmati bonus demografi serta menjadi negara terhebat di dunia ini. Mari kita tanamkan harapan itu, dimulai dari diri sendiri.