Mohon tunggu...
Adrian Diarto
Adrian Diarto Mohon Tunggu... orang kebanyakan

orang biasa. sangat bahagia menjadi bagian dari lansekap merbabu-merapi, dan tinggal di sebuah perdikan yang subur.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Di Antara Guguran Lava Pijar dan Kerlip Kunang-kunang

19 Januari 2021   17:36 Diperbarui: 19 Januari 2021   18:05 86 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Antara Guguran Lava Pijar dan Kerlip Kunang-kunang
Dokumen Pribadi

"Melu nang nggone Mbah Wir po ora?" kata Bapak, selepas maghrib.

Mbah Wir adalah adik simbok, eyang putri. Lelaki bungsu yang berbadan tinggi. Matanya mengecil kalau tertawa.

Rumahnya menghadap ke selatan. Seperti rumah kami. Juga mayoritas rumah Jawa. Halamannya luas, berbatas selokan yang airnya selalu riuh. Bening jernih. Berasal dari Sendang Mudal. Kalau ada selokan yang didiami ikan-ikan sehat yang terus bergerak, saya mengingatnya di depan rumah Mbah Wir. Tidak pada desa-desa di Jepang.

Nama lengkapnya adalah Wiryoutomo. Saya hampir tidak mengingat nama kecilnya. Sementara simbok, eyang putri kami, memiliki nama kecil Rudjuk. Beristri Mbah Darmi yang berasal dari Ngentak. Beranak tujuh orang: Lik Nuk, Lik Hud, Lik Tari, Lik Jeki, Lik Yoga, Lik Yitno dan Lik Coyo.

"Bapakmu ki le medhot tresna ro mbah putri yo,  Tok, " kata Lik Jeki suatu kali.

Kalau tidak keliru empat puluh hari sebelum meninggal, Bapak tiap hari ke rumah Mbah Wir. Mbah Darmi yang sedang sakit diopeni oleh Bapak. Membersihkan kamarnya, membuang air kencingnya, menyuapi makan atau sekedar menemani bercerita. Bapak tidak pernah memiliki banyak uang. Tetapi selalu ada cinta yang dibagikan. Seperti yang dibagikan kepada Mbah Darmi.

Anak-anak Mbah Wir menyebutnya "medhot tresna", ucapan selamat tinggal yang tidak dituturkan dengan kata-kata. Tetapi dengan tindakan yang tidak terduga. Tindakan sederhana yang tidak pernah terlupakan. Ikatan tali kasih yang diikatsimpulkan untuk menanda tidak akan lagi dilanjutteruskan. Seperti ucapan selamat tinggal tanpa lambaian tangan dan pelukan. Diakhiri begitu saja. Dibundheli.

Simbok dan Mbah Wir memiliki hubungan istimewa dan sederhana. Seistimewa bagaimana Mbah Wir memanggil Simbok dengan sebutan "Yu". Sesederhana Simbok memanggil "Wir". "Yu" adalah kependekan dari mbakyu. Kakak (perempuan). Tidak ada embel-embel. Kalau ada panenan, simbok mengabari Mbah Wir. Meski hanya dapat dibagikan sedikit kelapa atau beras. Singkong atau ubi. Kacang panjang atau buncis.
 
Simbok selalu minta ditemani ke rumah Mbah Wir. Juga Mbah Wir selalu ke rumah Simbok. Begitu seterusnya sampai masing-masing surut oleh usia. Tidak kuat lagi menyeberangi Kali Mangu untuk memperpendek jarak. Sampai panggilan "Yu" dan "Wir" tidak lagi saling tersampaikan seperti saat duduk bersama di Omah Kulon atau Omah Mbekuning. Belum pernah tahu bagaimana mereka berselisih paham.

Mungkin relasi kedekatan Ibu dan Pak Lik ini yang tercatat di benak Bapak almarhum. Alam bawah sadarnya dipenuhi oleh kedekatan relasi yang tidak pernah ditulisnya.

"Jare meh nang Mbah Wir?" kataku. Kalau melihat bapak yang sudah berpakaian lengkap tetapi lalu malah duduk melinting rokok. Dengan sigaret kupu-kupu dan cengkeh merek "pak ayem"

"Sik," jawab Bapak singkat. Sambil tangannya melakujalani ritual melinting rokok entah untuk yang ke berapa puluh ribu kali.

Ke rumah Mbah Wir pada malam hari perlu membawa lampu senter. Karena jalannya gelap.

"Kae, deloken genine ndledek," kata Bapak menunjukkan lava yang meleleh di sisi jauh,  menuruni punggung gunung Merapi. Gelap seringkali adalah benderang. Di persawahan, kunang-kunang berterbangan di gelap malam. Pada bagian jalan-jalan yang gelap, wajah bapak tidak terlihat. Hanya terlihat bara dari rokok tembakau lintingan yang sesekali dihisapnya. Saya menggenggam tangan Bapak yang kokoh, dan kami terus melangkah ke rumah Mbah Wir.

Begitulah Bapak mengajarkan cinta pada malam dan gelap.

| Jalan Hasanuddin | 11 Januari 2021 | 13.00 |

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x