Diana Lieur
Diana Lieur Pelajar / Mahasiswa

There were nights whn i was doubting myself

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Dari Saya yang Pernah Di-bully dan Menjadi Pelaku Bullying di Sekolah

14 Juli 2018   08:57 Diperbarui: 14 Juli 2018   18:17 1585 14 11
Dari Saya yang Pernah Di-bully dan Menjadi Pelaku Bullying di Sekolah
Sumber: mallorcadiario.com

Cerita ini akan saya mulai saat saya menjadi anak pindahan atau anak baru di salah satu sekolah swasta yang terkenal dari berbagai segi kualitasnya. Kemudian, saat dites menulis dan membaca, kemampuan saya memang kurang dari kebanyakan murid di sana, maka masuklah saya sebagai anak baru di kelas paling ujung dengan keseluruhan murid-muridnya dikategorikan sama. 

Namun di hari berikutnya, saya dipindahkan ke kelas yang kategorinya sedikit berada di atas kelas saya sebelumnya, sebut saja kelas D. Karena orang tua saya ingin saya bersaing dengan murid yang kemampuannya lebih.

Hari-hari saya di sekolah tersebut sangat membosankan. Di hari senin, saya selalu upacara di barisan paling belakang, jika jam istirahat tiba, maka saya akan makan sendirian, dan pergi ke toilet pun selalu sendiri. Bahkan yang paling menyebalkan adalah jika praktek sabung dalam pelajaran bela diri tiba, maka saya selalu mendapatkan pasangan sisa, bisa saja dia murid laki-laki atau si pelatih itu sendiri. Yapsss, benar sekali, saya menjadi murid yang di-bully dalam sekolah tersebut.

Saya masih ingat jelas ketika salah satu murid menganggap saya sebagai bubuk rengginang. Saat itu di depan kelas murid-murid sedang ramai berkerumunan, dan di dalam kelas saya sedikit penasaran, maka saya tanyalah kepada salah satu murid di dekat saya begini. "Di depan kelas ada apa ? kok rame", namun murid tersebut memalingkan matanya seolah jijik dan berlalu begitu saja dari hadapan saya tanpa sepatah jawaban.

Saya pernah mencoba untuk memperbaiki mental saya, hingga saat praktek olahraga tiba, saya memberanikan diri untuk begabung dengan team putri, kemudian bermain bola lah saya melawan murid dari kelas lain. Senang bukan main ketika saya memasukan bola ke gawang lawan dan memenangkan permainan.

Saat itu saya pikir saya sudah memperbaiki mental saya yang buruk dalam permainan tersebut, tapi ternyata tidak. Setelah permainan bola selesai, murid dari kelas lain mem-bully saya karena saya salah satu pemain yang memasukan bola ke gawangnya, sementara murid-murid yang satu tim dengan saya enggan membela saya. Mungkin bagi mereka, setelah permaianan bola selesai, maka keadaan kembali seperti semula, dan saya kembali di-bully.

Saya sering berpikir tentang apa yang salah dari diri saya sampai saya dijauhi oleh murid-murid lain, apakah saya jelek? Bau atau bodoh? Di mana saat itu hanya sayalah murid yang diminta uang jajannya oleh salah satu murid laki-laki di kelas, hampir setiap hari. Dan semua itu adalah pengalaman saya yang paling saya benci.

Ini siklus paling berbahaya dalam kasus bullying
Setelah lulus dari sekolah tersebut, kemudian saya sengaja memilih sekolah yang mana tak banyak muridnya berasal dari sekolah saya sebelumnya. Saat di sekolah saya yang baru ini, saya berusaha untuk mencari dan berteman dengan murid yang mampu melindungi saya. Hingga pada akhirnya saya memiliki teman seperti itu, namun sayangnya keadaan saya ternyata melampaui batas, sebab saya berteman akrab dengan murid yang ditakuti oleh teman satu kelas, bahkan di seluruh kelas.

Keadaan saya berubah hampir seluruhnya, dari yang jarang tertawa menjadi lebih sering tertawa, dan parahnya adalah saya tertawa di atas penderitaan murid lain. Ya, saya menjadi pelaku bullying di sekolah tersebut. Saya sering meledek dan mengganggu murid lain di kelas, bahkan beberapa kali saya pernah membuat murid lain menangis karena tingkah saya.

Dipanggil guru atau dilaporkan kepada guru adalah hal yang biasa untuk saya saat itu. Saya pernah memasukan serangga ke dalam seragam teman saya di kelas, dan saya sering mengganggu bahkan parahnya saya dan teman lainnya pernah melakukan percakapan grup kelas (facebook) di LAB komputer tanpa memasukan akun salah satu murid yang di-bully

Saat itu saya teratawa keras membaca dan menulis kalimat ledekan dalam obrolan tersebut, terlebih melihat teman saya yang di-bully kebingungan melihat reaksi teman satu kelas menertawainya di ruang komputer.

Pernah saat itu salah satu teman saya berdiri di atas kursi dan membaca dengan lantang isi buku diary salah satu murid yang di-bully. Dan bodohnya saya saat itu adalah saya tertawa keras dan asik mendengarkan cerita sedih yang ditulis oleh teman saya di buku diary-nya. Hingga pada akhirnya si pemilik buku diary tersebut masuk ke dalam kelas dan tahu bahwa buku diary-nya dibaca teman sekelas.

Saya tahu itu salah, sangat salah. Pada tanggal 4 September 2016 saya pernah menulis puisi di Kompasiana, yang mana isinya tentang pengalaman saya sendiri selama menjadi orang yang buruk di sekolah. Saya benar-benar meminta maaf kepada teman-teman yang pernah saya bully. Dan keadaan saya saat dulu, saya paham bagaimana perasaan menjadi korban bullying dan sekaligus menjadi pelaku bullying

Selama menjadi korban bullying, memiliki setidaknya satu teman yang mampu melindungi adalah harapan terbesar. Sementara ketika menjadi pelaku bullying, menghina dan meledek satu teman adalah sebuah kekuatan tersendiri.

Siklus seperti pengalaman saya inilah yang paling berbahaya dalam kasus bullying ialah ketika korban bullying berubah menjadi pelaku bullying di sekolahnya yang baru. Maka sampai kapan kasus bullying akan berakhir jika siklusnya seperti itu? Bterakhir yang saya dengar saat reuni SMP, yakni salah satu teman yang pernah saya bully ternyata menjadi pelaku bullying di sekolahnya yang baru. Kabarnya memang jarang terdengar setelah lulus, ia tak pernah hadir jika ada acara reuni, bahkan kontaknya tak ada dalam group alumni di media sosial.

Menghadapi kasus bullying memang hal yang paling sulit dan masih sering ditemukan di berbagai sekolah. Sebab mental si korban bisa menjadi lemah, bertahan, kuat atau malah melampaui batas dengan dendam-dendamnya di kemudian hari. Saya mohon maaf jika ada kalimat yang menyinggung dalam tulisan ini, dan pengalaman saya yang buruk ini bukanlah untuk ditiru. Saya hanya berbagi cerita bahwa korban bullying pun berpotensi besar menjadi pelaku bullying di lingkungannya yang baru, sementara setelah sadar atas kelakuan buruknya, pelaku bullying pun akan dihantui rasa bersalah sepanjang hidupnya. Salam.

Tangerang, 14 Juli 2018

Diana.