Mohon tunggu...
Diana MellyanaA
Diana MellyanaA Mohon Tunggu... Mahasiswa - Diana Mellyana A Riyanto

Mahasiswa S1 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Kendala Pelaksanaan Ujian Berbasis Komputer Dalam Pendidikan Revolusi 5.0

8 Juli 2021   19:05 Diperbarui: 8 Juli 2021   19:07 72 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kendala Pelaksanaan Ujian Berbasis Komputer Dalam Pendidikan Revolusi 5.0
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Oleh : Dr. Ir. Vina Serevina, dkk, UNJ_2021

Sekarang ini dunia sudah memasuki era revolusi industri generasi yang kelima, atau yang lebih dikenal dengan nama Revolusi Industri 5.0. Era ini bukan hanya ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, serta perkembangan sistem digital, artifisial, dan virtual seperti pada era Revolusi Industri 4.0. Era revolusi 5.0 merupakan era dimana teknologi telah menjadi bagian dari manusia itu sendiri. Dalam era ini, internet bukan hanya digunakan untuk berbagi informasi melainkan juga untuk diterapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pendidikan dalam era revolusi 5.0 mengimplementasikan teknologi dalam setiap kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan peserta didik untuk berdampingan dengan komputer. Dalam setiap perubahan akibat adanya transisi inovasi, terutama dalam bidang teknologi, pasti akan terdapat tantangan-tantangan yang perlu dihadapi. Akibat dari meningkatnya interaksi antara manusia, mesin, dan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin meluas dan berkembang pesat, tentunya menyebabkan perubahan dalam berbagai macam aspek kehidupan manusia, termasuk perubahan sistem pendidikan. Karena arus globalisasi yang kuat, perubahan-perubahan ini pastinya tidak dapat dihindari. Sehingga hal yang dapat dilakukan adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) agar dapat menyesuaikan diri dengan era 5.0, dan mampu bersaing secara global dengan negara-negara berkembang lainnya.

Terdapat banyak sekali pengimplementasian teknologi ke dalam dunia pendidikan, salah satu inovasi yang telah dilakukan adalah melakukan komputerisasi ujian, dengan memanfaatkan internet dan teknologi yang ada. Salah satu penerapat teknologi ke dalam pendidikan adalah ujian berbasis komputer.

Pada tahun 2015 ujian berbasis komputer diterapkan pada Ujian Nasional, yang lebih dikenal sebagai UNBK. UNBK ini relatif setara dengan UN tertulis yang selama ini dilakukan. Perbedaannya adalah soal yang diujikan disajikan melalui komputer. Pengembangan perangkat lunak atau aplikasi untuk menunjang pelaksanaan ujian nasional telah dikembangkan oleh Puspendik meliputi infrastruktur (jaringan komputer), aplikasi program, pengembangan bank soal terkalibrasi, dan sumber daya manusia (Bagus, 2013). Keberhasilan pelaksanaan UNBK sangat ditentukan ketersediaan aplikasi program dan jaringan internet, serta infrastruktur (baik perangkat keras ataupun lunak) yang layak dan juga memadai.

Contoh kendala yang mungkin terjadi apabila infrastruksur sekolah dan sumber daya manusia kurang memadai adalah seperti pada kasus berikut, di SMA Muhammadyah 2 Kota Semarang, virus  melumpuhkan sistem komputer sehingga UNBK terpaksa harus diselenggarakan ulang. Untuk mengatasi kendala teknis di atas, selain diperlukan infrastruktur yang lebih memadai, dan melalui perawatan serta pemeliharaan yang berkala, tentunya para pendidik dan tenaga pendidik harus berusaha menyesuaikan diri untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam mengoperasikan dan mengimplementasikan teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam masa pandemi ini, ujian berbasis komputer semakin sulit dikontrol dengan baik karena prosesnya berjalan di rumah masing-masing peserta didik, dengan menggunakan perangkat yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik tanpa melalui pemeliharaan khusus oleh ahli di bidangnya. Kemungkinan terkendala virus pun akan semakin besar. Dan selain itu, ujiannya pun menjadi kurang berintegritas.

Selain ujian berbasis komputer, inovasi  pengimplementasian teknologi dalam bidang pendidikan era revolusi 5.0 adalah program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Berdasarkan Permendikbud No 3 Tahun 2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi, salah satu kebijakan terkait Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah hak mahasiswa untuk belajar merdeka selama tiga semester di luar program studi. Tujuan dari adanya program ini adalah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkaya, memperdalam, serta meningkatkan wawasan, dan kompetensinya. Program ini dapat untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan potensi yang dimiliki, dan memperluas lingkungan belajar mahasiswa. Dalam masa pandemi Covid-19 saat ini pun, program ini tetap dapat berjalan.

Namun tentu saja dalam pelaksanannya, program ini tidak terlepas dari kendala-kendala, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis. Kendala yang paling sering ditemui antara lain adalah:

  1. Kebutuhan kuota internet siswa untuk melaksanakan pembelajaran daring  belum terpenuhi secara memadai.Walaupun bantuan kuota dari pemerintah sudah disalurkan, namun masih banyak kendala teknis sehingga masih belum sampai ke nomor peserta didik/mahasiswa. Seringkali, media pembelajaran/bahan ajar yang diberikan oleh pengajar tidak dapat diakses menggunakan kuota bantuan.
  2. Ketersediaan gawai (gadget) yang memadai untuk pembelajaran daring. Masih ada di antara peserta didik yang harus bergantian dalam menggunakan gawai dengan anggota keluarga lainnya, karena jumlahnya tidak memadai dalam satu keluarga.
  3. Ketersediaan sinyal yang tidak stabil dari tiap provider. Kondisi cuaca, kualitas provider cukup mempengaruhi kestabilan sinyal internet. Banyak sekali pembelajaran yang terkendala akibat dari sinyal internet yang kurang stabil.
  4. Traffic internet yang sibuk. Apabila terdapat banyak peserta didik yang melakukan pembelajaran atau bahkan ujian daring secara bersamaan dalam suatu wilayah, maka akan mengakibatkan jaringan internet menjadi sibuk sehingga mempelambat sambungan internet, bahkan juga menyebabkan kegagalan sambungan sehingga menghambat proses pembelajaran.
  5. Kemudian salah satu yang menjadi penghalang pelaksanaan ujian berbasis komputer baik di sekolah ataupun di rumah selama pandemi adalah karena terdapat keterbatasan kapasitas server.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN